Hari Minggu lalu, seperti biasa, saya dan anak-anak menghabiskan waktu di Cicadas, rumah Amah (nenek). Cicadas adalah salah satu wilayah terpadat di Kota Bandung. Dan di sini kita masih bisa menemukan aneka 'hiburan rakyat' seperti becak mini, kuda lumping, sampai topeng monyet.
Sore itu, sepasang anak muda menggelar permainan topeng monyet, persis di depan rumah Amah. Suara kendangnya yang heboh tentu saja mengundang banyak penonton - tua, muda. Tak terkecuali Una dan sepupunya, yang sangat penasaran, tapi tetap berdiri di barisan kedua penonton (bayangkan, seramai itu!). Karena Taka (2y) juga penasaran (efek suara tatabuhan), alhasil sy harus menggendong dia supaya bisa melihat dari balik pagar rumah. Saya pribadi sangat tidak setuju dengan pertunjukan topeng monyet, tapi saya tahu, tatabuhan itu adalah daya tarik terbesar untuk anak-anak.
Singkat cerita, saya hanya mengajak Taka melihat 1 adegan (itu juga uda ngeri!) lalu kembali masuk rumah. Tidak lama, Una dan sepupunya juga masuk, dan terdengar sorak sorai penonton jalanan.
Semalam, saya punya waktu untuk ngobrol dengan Una tentang pertunjukan topeng monyet itu. Awalnya saya tanya, apa pendapat dia? Karena sepengenalan saya, meski Una bukan tipe yang bisa langsung berani memegang binatang, dia juga tipe yang ngga tega-an. Dan benar saja, di awal, dia bingung menjawab pertanyaan saya. Akhirnya dia jawab, "Banyak anak-anak yang ketawa, tapi kasihan." Obrolan kami berdua lalu berkembang.
Beberapa waktu lalu, Una pernah (tidak sengaja) ikut menonton filem dokumenter NatGeo tentang 'Meat Factory'. Dan dia pas melihat adegan sapi-sapi ternak ditendang oleh pemiliknya. Saat itu dia spontan berkata, "Kenapa itu sapinya ditendang?" Dan penjelasan saya waktu itu agak panjang juga - karena dia tahu - seharusnya tidak perlu menggunakan kekerasan.
Kembali ke obrolan topeng monyet.
Una membaca arah pembicaraan kami, dan dia menyebutkan soal cuplikan adegan film NatGeo yang dia ingat tsb. Lalu saya tanya, pandangan Una tentang tujuan 2 laki-laki itu menggelar pertunjukan topeng monyet itu. Dan Una paham bahwa tujuannya adalah mencari uang. Yang menarik adalah pertanyaan Una berikutnya, "Kenapa nyari uang harus nyakitin hewan?" Lalu saya balas pertanyaannya, "Emang Una terpikir cara lain untuk mereka dapat uang?"
Dia menjawab, "Kan bisa jualan kek, atau bikin apa gitu, kerja yang lain. Atau mungkin mereka belum kepikiran ya Bun (kalau bisa cari pekerjaan lain)." Respons saya menyinggung soal kreativitas, yang intinya, mungkin ada yang perlu lebih kreatif mencari alternatif. Pertanyaan Una berikutnya, menohok, sekaligus membuat saya terdiam.
"Emang ngga diajarin kreatif pas belajar di sekolah?"
"Hemm.. Bunda bisa bilang, tidak semua anak beruntung bisa belajar menjadi kreatif selama mereka sekolah, Na," jawab saya.
"Oke.. Tapi mereka belajar kan kalau ngga boleh menyakiti hewan," katanya lagi.
Skakmat! Saya cuma mengangguk mengiyakan.
Sebagai yang sensitif (dan terlalu banyak mikir), obrolan malam ini memunculkan banyak hal di kepala. Salah satunya tentang titik di mana saya menjalani semua peran saat ini. Sebagai ibu, sebagai homeschooler, sebagai 'mentor' para mahasiswa yang sedang berkarya di area Sumba, sebagai yang terlibat di program Guru Penggerak, dan banyak lagi.
Tentang hal-hal yang sudah jelas-jelas dipelajari sebagai teori seharusnya perlu dimaknai dan yang lebih penting, dibadani, dijalani.
Tentang kreativitas dan nurani yang seharusnya menjadi salah satu inti pembelajaran, sebagai bekal manusia ini menjalani kehidupannya - dalam tujuan menjadi lebih baik.
Mungkin, pemikiran Una versi dewasanya kurang lebih seperti ini:
Kalau kita tahu menyakiti hewan itu salah, kenapa tetap dilakukan? Bila faktor ekonomi yang jadi alasan, bukankah ada banyak cara lain yang masih bisa ditempuh? Benarkah kreasi itu sudah mati sehingga memadamkan nurani?
Obrolan Topeng Monyet | 18 Juli 2022