Sekolah online telah berjalan dengan cukup lama. Banyak yang telah kita jalani. Banyak juga yang aku sendiri pelajari. Aku dapat belajar banyak hal dari pandemi ini. Lebih bersyukur dengan apa yang aku punya. Juga mengalami pengalaman yang mengasikkan saat bertemu teman di saat offline. Saat pertama kali diumumkan bahwa aku dan teman-teman akan sekolah di rumah selama dua minggu saja, aku sangat optimis bahwa ini hanya dua minggu. Kenyataannya sampai sekarang aku masih menjalani sekolah secara online.
Memang saat pertama kali menggunakan media zoom sebagai medianya aku cukup 'gaptek'. Tapi sekarang sudah cukup mengerti dengan hal tersebut. Mengikuti asesmen ahir di kelas enam secara online juga sangat-sangat berbeda dengan yang aku perkirakan. Aku dan teman-teman gmeet sambil mengerjakan asesmen tersebut. Tentu hal yang sangat tidak biasa.
Menonton Olimpiade Tokyo di rumah juga suatu pengalaman yang sangat menyenangkan. Pasti anak-anak 'masa depan' akan bingung tentang mengapa disebut 2020 padahal diadakan dii 2021. Hahahaha. Memang pengalaman yang sangat tidak biasa.
Aku berharap agar pandemi ini bisa dikontrol dengan baik oleh masyarakat juga dari diri kita sendiri. Agar kita dapat beraktifitas dengan normal kembali.
Yaay, terima kasih Vania untuk esai pertamanya. Pecah telor istilahnya. Ayo pasang target frekuensi menulis seperti ini. Ini langkah pertama yang bagus. Jangan terlalu panjang juga jeda-nya, setidaknya satu minggu satu tulisan. Supaya bisa terbangun rutin menulisnya. Kak Andy tunggu tulisan berikutnya. 🏼
Sama sama ka, siap aku akan coba untuk lebih banyak menulis. Terima kasih apresiasinya ka.
Halo Vania, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih. 🙏🏻