Aku percaya ini bukan ilusiku semata, bahwa pemandu dalam diri itu benar adanya. Suara dari dalam yang terdengar, selalu lebih dulu daripada hasil cerna pikiranku. Meski tak seruoa suara yang kedengaran, tapi bergema di tempat sumber suara dan gaungnya bermula pada pusat dada di mana hati berada. Kadang gemanya mendorong dalam keriangan, kadang mengheningkan diam di kedalaman, kadang resah berteriak menghentikan.
Pastilah bukan ilusi jika terbawa sampai sejauh ini. Mendengarkannya berarti pula meresponnya dalam laku. Mungkin keduanya bagai satu kesatuan dalam pecahan-pecahan detik waktu. Tak terpisah karena memang pikiran mudah menyela dalam jeda. Apa yang terasa benar lalu jadi laku sesuai kebenaran itu.
Mengikuti saja dan percaya sepenuhnya. Bukan ilusi san pastilah bukan pula suara ego karena tak pula menyinggahi nalar. Mengapa begitu ya memang seperti seharusnya begitu. Mengapa begini, ya seperti ini pula telah sesuai semestinya.
Tanpa mempersalahkan, hanya dimengerti kembali.
Pun serupa kerja otak yang daya tangkapnya hanya seusai seluruh sinap terhubung. Bahkan ketika terpahami, sesungguhnya peristiwa itu telah berlalu pula dengan pecahan detik. Segala yang ada sesungguhnya selalu berlalu sekian pecahan detik yang lalu.
Maka seperti itulah pemandu dalam diriku bekerja. Memimpin di depan, membisikkan kata dengan caranya sendiri, dalam pecahan detik mendahului diriku.