Beberapa hari terakhir ini saya mengalami banyak kesulitan dalam menulis. Banyak hambatan yang saya alami seperti kelelahan, kesibukan atau kesulitan mendapat ide untuk menulis.
Seperti yang akhir-akhir ini saya ceritakan, pekerjaan banyak menyita waktu karena mempersiapkan sistem baru. Membangun data base dari nol itu membutuhkan banyak waktu apalagi sistem baru akan mulai beroperasi sekitar 3 bulan lagi, ini sangat menguras energi.
Tiba di rumah seusai kerja, saya sudah terlalu lelah untuk berpikir dan berusaha menulis. Sangat sulit untuk mencoba mengungkapkan sesuatu yang berisi. Yang saya inginkan hanya beristirahat, menikmati malam dengan bersantai, tapi keinginan saya untuk terus mempertahankan konsistensi dalam menulis tetap kuat.
Menulis di malam hari itu untuk saya tidak ideal karena sekali lagi, yang ada pada diri saya hanyalah sisa-sisa energi sehingga untuk membuahkan sebuah tulisan yang menarik agak sulit karena membutuhkan ekstra energi dan pikiran yang jernih, sementara saya sudah lelah dan malas berpikir karena seluruh tenaga dan pikiran sudah banyak terkuras di tempat kerja.
Saya sekali lagi mengalami situasi itu hari ini. Godaan untuk tidak menulis tinggi, tapi saya tahu jika saya mengikuti godaan ini sekali saja, nanti akan menjadi 2 kali, tiga kali dan konsisitensi saya akan hancur. Itu sering saya alami dengan kegiatan-kegiatan saya yang lain akhirnya berhenti dan gagal. Beberapa hari yang lalu saya menulis "tidak mau menyerah", hari ini juga tidak!
Duduk dengan laptop dipangkuan, saya berusaha menulis sambil menyaksikan "Somebody Feed Phil" di Netflix. Ini program yang sangat saya gemari. Phil berkeliling dunia untuk melakukan wisata kuliner. Ini keren sekali dan saya selalu merasa iri dan berusaha seandainya Tuhan mengijinkan untuk bisa melakukan wisata seperti ini. Sementara ini saya baru mampu melakukan perjalanan lokal dan mencoba makanan baru yang belum pernah saya cicipi, dengan mengikuti review dan anjuran yang saya temukan di internet atau di televisi.
Sesekali saya berhenti menulis, beristirahat dan melihat HP. Lalu saya lihat di salah satu sosial media yang saya miliki, ada tampilan memory dari ungahan saya 12 tahun yang lalu. Saya bercerita sedang duduk melihat Kano menikmati fruit bowl (honeydew, pepaya dan nanas) sambil menyaksikan film Pooh dan Tiger yang sedang melakukan pesta semangka. Saat itu Kano baru berusia hampir 5 tahun, belum mulai sekolah di Smipa karena masih belajar bahasa Indonesia di sekolah internasional.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang Kano sudah lulus SMA. Kegemaran dia sudah jauh berubah. Yang dulu setiap pagi sarapan roti lapis berisi selai nanas, sekarang sudah sangat bervariasi. Beberapa hari yang lalu dia ingin chicken and waffle, comfort food orang Amerika yang saya sama sekali tidak "mengerti". Bayangkan Belgian wafle yang manis, diberi topping bacon yang sudah tersalut madu, lalu ditumpuk dengan goreng filet dada ayam bertepung, lalu masih diberi topping lagi. Di beberapa tempat ada yang memberi toppingnya dengan gravy, ada juga yang dikucuri syrup maple dan sebagainya. Saya berusaha terbuka dengan berbagai jenis makanan, tapi saya tidak pernah bisa menikmati ayam goreng yang dikucuri sirup yang manis. Orang sini memang sering membuat saya bingung hahaha
"Dad, what do we have for dinner?"
"I don't know yet, but I have 2 portions of ribeye. I haven't decided what to do with them yet." Jawab saya.
"I trust you. You do what you think is good." Kata Kano sambil ngeloyor pergi.
Belum lama ini saya pernah melihat salah satu chef di TV menyajikan sajian daging sapi yang bernama Crying Tiger. Daging yang direndam dengan saus tiram, kecap ikan dan sedikit gula merah. Jadi saya bayangkan rasanya agak manis, asin dan umami dari kecap ikan. Saya ingin mencoba menciptakan sebuah resep yang menyatukan banyak rasa. Jadi saya pakai kecap ikan, sedikit kecap, brown sugar sehingga ada rasa asin, umami dan manis tapi saya ingin juga ada rasa segar dan asam agar daging ribeye yang banyak berlemak ini sedikit diredam rasa lemaknya dengan air jeruk lemon, lalu agar lebih harum saya akan tambahkan bubuk bawang dan bawang putih, lada hitam dan sedikit bubuk cabe agar agak pedas.
Saya membuat 2 macam. Satu dibuat semacam salad dengan campuran irisan bawang tipis-tipis, daun mint dan daun bawang. Mirip dengan Nam Tok ala Thailand dengan saos dari kecap ikan, gula dan air jeruk. Yang satu lagi saya buat sebagai chopped steak yang bisa disajikan dengan nasi.

Kano yang sudah semakin "dewasa" dalam memilih makanan, dia suka steak yang medium rare. Lebih juicy, empuk dan lebih lembut, katanya! hahaha.. Bayangkan, anak yang dulu makan ayam yang ada tulangnya saja rewel, sekarang ingin makan steak yang masih kemerah-merahan! Tidak tanggung-tanggung, porsi makan dia juga portugal (porsi tukang gali!) Hahaha..
"Daaaad!!! you should make this more often! It is so good!" Teriak kano dari atas.
"Sure!" Jawab saya.
Suatu hari Kano pernah bilang, suatu waktu nanti jika dia sudah mampu, dia akan mentraktir saya makan steak terhebat di dunia, daging wagyu grade 5, langsung di Jepang! Begitu katanya! Semoga saja terjadi hahahaha...
Portugal 😂