Selalu ada yang lebih penting daripada yang paling penting, kalau hari paling penting adalah besok maka hari ini adalah hari yang lebih penting. Kalau saya diberikan waktu lima jam untuk menebang pohon, empat jam akan saya gunakan untuk mengasah mata kapak. Kata tukang batu yang jadi presiden waktu itu, hmm… kalau ga salah inget.
Kalau momen terpenting itu nanti dan momen yang lebih penting dari yang paling penting itu adalah sekarang, maka nanti itu tidak ada. Selalu sekarang, selalu, dan sesekarang-sekarangnya saja yang ada. Kita menghitung melukis menulis melakukan apapun bahkan tidak melakukan apapun, ini bukan demi nanti yang tidak ada. Ini semua hanya bentuk respon saat ini.
Yang paling benar adalah memang ini semua demi ke-sekarang-an, dan yang lebih benar adalah bahwa kita takut mengakuinya sehingga kita menciptakan tujuan. Untuk apa, bagaimana, bahkan kenapa adalah pertanyaan-pertanyaan yang mengalihkan kita dari ke-sekarang-an dan membawa kita ke nanti yang tidak ada itu. Ya, bahkan pertanyaan kenapa.
Coba sadari, pertanyaan kenapa hadir setelah respon aktual saat ini dan kemudian jawaban dari pertanyaan itu hadir setelahnya lagi. Betapa bukan pengalihan kan, kita terbawa kepada dua langkah ke depan dan mengabaikan ke-saat ini-an. Lalu mengapa pengalihan ini kita agungkan, karena meredakan rasa tidak nyaman dari menjalani ketidak tahuan.
Kesekarangan atau kesaat inian kan soal ketidak tahuan, yang dikatakan yang belum selesai di pemikiran dan yang dilakukan yang belum selesai di pemahaman. Saya sedang mengetik tulisan ini bukan karena mengetahui apa yang saya tulis, saya hanya menulis saja saat ini. Saya mengetahuinya nanti, setelah ditanya kenapa dan untuk apa menulis.
Itu pun tidak ada! Karena kalaupun tidak ditanya kenapa dan untuk apa, menulis yang sekarang ini tetap terjadi dan tetap bermakna. Merespon saat ini adalah pemaknaan sesungguhnya, sedangkan pemaknaan yang distrukturkan oleh pertanyaan itu tidak lebih tidak kurang adalah sebuah pemakluman. Jadi, apakah pemaknaan adalah pemakluman?
*lalu baru sadar sudah lima lagu mulai dari dream on aerosmith sampe back in black acdc, kopinya tidak terseruput sama sekali karena lupa nyeduh