AES049 Konflik
Sanya
Wednesday November 27 2024, 5:28 PM
AES049 Konflik

Suatu hari si anak ceria itu datang dengan wajah muram. Saat masuk mobil aku tidak bertanya apa-apa, dia akan bercerita sendiri saat hatinya siap. Wajah ini bertahan selama beberapa hari. Sudah tidak normal. Ada apa denganmu? Kata bang Boril. Setelah bertanya dan memberikan jeda waktu untuknya siap bercerita, ternyata dia mengalami hal yang tidak menyenangkan. Cepat atau lambat konflik pertemanan akan terjadi, hari itu saatnya.

Apapun istilahnya, dia tidak menyukai perkataan temannya, sepertinya Sei sudah berusaha menyelesaikannya sendiri tetapi hasilnya belum sesuai dengan apa yang dia harapkan. Menurutnya, dia sudah diberi tahu bahwa dia tidak menyukai perbuatan temannya itu, mengejek. Temannya tetap mengulangi perkataannya. Hal ini membuatnya tidak nyaman, sedih dan tidak percaya diri.

Sedih sekali dia, tidak menyangka kok bisa ada yang jahat begitu. Padahal dia tidak pernah mengejek siapapun, terpikir pun tidak. 

Kutanyakan apakah sudah minta bantuan orang lain? Sudah, tapi belum berhasil.

Dengan pertimbangan perlakuan temannya itu, perkataan kurang menyenangkan dilakukan murni secara verbal, tidak menyentuh fisik dan mereka masih sebaya, jalannya ada 2 yaitu melaporkan pada orang tuanya atau mengajarkan Sei untuk membela dirinya.

Pilihan pertama mudah dan cepat, tinggal WA masalah selesai. Tapi ini menjadi masalah orang tua, yang mana biasanya kebanyakan orang tua akan membela anaknya sendiri. Hal ini bisa berujung debat kusir, saling menyalahkan, masalah utama malah sukar diperbaiki, hubungan orang tua menjadi renggang. Ego orang tua kalau sudah menyangkut anak, sulit diprediksi.

Kupikir ini masalah anak-anak, berbicara asal mengikuti apa yag biasa dilihat atau didengarkan.  Urusan ucapannya menyakiti orang lain belum paham, perasaannya sendiri pun belum mengerti betul. Dengan kepala dingin situasi ini justru jadi kesempatan bagus, kapan lagi dia dapat masalah dan belajar menyelesaikan masalah sendiri. Masalah hubungan pertemanan.

Memancing sedikit, kutanya Sei apa yang temanmu ini takuti.

Menurutnya, temannya ini takut sama mamanya, mamanya galak. Dia juga takut hantu.

Ah, oke Sei ini perkara mudah, kalau dia masih mengejek balas saja. Bilang dia mukanya mirip hantu kalau masih bandel bilang nanti kamu laporkan ke mamanya saat menjemput. Tapi jangan berlebihan, balas saja seperti yang dia katakan kepadamu.

Selama masih sebatas perkataan, balas saja kata-katanya. Ibu yakin Sei anak pintar, tahu kapan harus berhenti membalas, yang penting jangan kelewat batas. Lakukanlah di tempat ramai, supaya teman-teman yang lain melihat. Sei tidak sendirian. Aku juga berpesan kalau sampai temannya memukul duluan atau menyakiti fisik boleh kok membalas, tendang pakai jurus taekwondo. Nanti ibu datang ke sekolah kalau dimarahin. Itu namanya membela diri.

Wajahnya tampak sedang berpikir, memproses perkataan gaibku. Menimbang-nimbang segala konsekuensinya. Dia ragu, dia bilang tidak mau melakukannya karena itu akan menyakiti hati temannya apalagi kalau membalas fisik lebih sakit. Aduh murni sekali hatimu. Tapi ku katakan lagi, agar dia lebih yakin. Saran dari ibu boleh dipraktekkan boleh tidak, Sei sendiri yang memutuskan. Wajah sudah tenang, tinggal ku tunggu ceritanya lagi bagaimana perkembangannya.

Pulang sekolah tiba, wajahnya sudah ceria lagi. Wah berhasil sepertinya pengarahan sesat ini. Tidak boleh terlihat kepo, aku menunggu dia bercerita sendiri.

“Dia takut bu, dia minta maaf sama aku, dia takut dilaporin ke ibunya.”

“Memang apa yang Sei lakukan?”

“Tadi dia masih ngejekin aku, aku kesel, tapi aku diam dulu ga langsung balas, dia dikasih tau baik-baik masih gitu yaudah aku bilang muka dia mirip hantu. Terus dia takut sendiri, temen-temen juga jadi belain aku. Aku bilang tuh ga enak kan diejekin, awas ya kalo masih ngejekin aku bilangin mama kamu nanti pulang sekolah! Sudah bu aku udah lega.”

Cerita kala itu bermakna untukku, siapa yang ikut kesal mendengarnya. Tapi kita sebagai orang tua yang lebih dewasa harus bersabar, menakar bahwa tidak semua urusan anak harus diselesaikan oleh orang tua. Masalah-masalah akan datang, istilahnya badai pasti berlalu (lalang) hahaha. Bagaimanapun anak juga perlu belajar menyelesaikan masalahnya sendiri, sesuai kapasitasnya. Mungkin masih dalam bantuan dan pengawasan kita namun eksekusi akhir ada ditangan anak. Mereka juga belajar menjadi decision maker. Penyelesaian konflik perlu dilatih, mungkin masalahnya tampak besar untuk saat ini tetapi harus dilalui agar kedepannya anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri secara mandiri, dengan caranya sendiri.