Masih lekat di ingatan, dan terpikir beberapa kali—mengapa bisa demikian?
Muncul pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala aku sebagai kakak baru di Smipa. Salah satunya adalah pertanyaan yang sudah aku ketik sebelumnya.
Pada hari Rabu, tepatnya tanggal 25 Juni, syukuran TP20 dilaksanakan—suasana tercampur begitu harmonis antara canda dan duka. Diawali dengan olah jasmani di pagi hari, ditemani mentari yang cerah menerangi Tabebuya. Di sana kami berkumpul untuk membuka rangkaian kegiatan dengan dua kalimat ungkapan syukur, lalu melanjutkan dengan waktu hening. Aku sendiri mengucapkan:
"Aku bersyukur bisa bangun dan mendengarkan suara kicauan burung, dan aku bersyukur bisa makan enak di pagi hari."
Kami pun berbaris, dan beberapa kakak maju ke depan untuk memimpin senam aerobik. Aku berkeringat—gerakan demi gerakan untuk menyelaraskan seluruh pancaindra dengan pikiran. Setelah senam, kami bermain bebentengan, permainan tradisional Sunda. Awalnya dibagi dua tim, tapi karena jumlah peserta banyak, akhirnya dibagi menjadi empat tim. Permainan pun jadi lebih seru. Dalam perspektifku, aku melihat sekilas bahwa kami masih menyimpan sisi kekanak-kanakan yang playful. Dewasa memang kenyataan, tapi jiwa kekanak-kanakan akan tetap tinggal dalam diri kita—karena kita semua pernah menjadi anak kecil.
Di lapangan rumput, langkah kami begitu lincah menghindari bola, dan dengan telaten merangkai kembali tumpukan kayu yang hancur. Hahaha... tiba-tiba terlintas filosofi dari permainan ini:
Kita melempar bola dengan kesadaran penuh untuk merusak tumpukan kayu, lalu bekerja sama untuk merangkainya kembali. Jika ditafsirkan—kita perlu berani mengambil kesempatan, dan juga berani merangkai kembali kesalahan menjadi pembelajaran.
Oke, sebelum lanjut... tarik napas perlahan... tahan... hembuskan.
Kami berkumpul di pendopo. Masuk ke sesi berbagi kesan setelah satu tahun penuh berproses di kelompok masing-masing. Diawali oleh kakak-kakak dari KBTK. Aku memperhatikan cerita-cerita mereka—penuh kasih, kehangatan, dan ketulusan yang begitu terasa. Ada dua kakak yang harus melanjutkan petualangan di tempat lain. Air mata mengalir di pipi mereka. Melepas teman yang selama ini bersama-sama. Dan bagiku, melepas adalah bentuk tertinggi dari menyayangi.
Saat itu aku berpikir, betapa besar cinta yang mereka curahkan di rumah belajar ini. Air mata menjadi wujud dari rasa itu. Selain dari KBTK, ada kakak lain yang juga harus melanjutkan petualangannya. Serangkaian kesan dari setiap jenjang pun bergulir. Aku memperhatikannya dengan saksama—terbayang ingatan dan kenangan yang mungkin telah mereka jalani selama satu tahun penuh.
Tangisan terus mewarnai pendopo siang itu. Haru yang semakin membiru. Dan yang aku dapatkan:
Mereka melakukan hal yang paling mulia—menjadi kakak di rumah belajar Semi Palar. Bukan sekadar pekerjaan. Lebih dari itu: sebuah jalan keilahian. Membentuk manusia menjadi manusia. Dan dalam prosesnya, kakak-kakak juga belajar dari teman-teman.
Sebuah hubungan yang penuh timbal balik. Kembali lagi ke pertanyaan yang mengawali tulisan ini: Mengapa demikian?. Jawabannya mungkin, ini hanya mungkin saja dari kacamataku sebagai kakak baru: Hal itu bisa terbentuk karena ikatan emosional yang begitu lekat, istilah "rumah belajar" bukan hanya sekedar narasi kosong, tapi menjadi sebuah do'a yang menghasilkan rasa silih asah, silih asih, silih asuh. Dan di akhir sesi ini ditutup oleh kesan dari Kang Aat Suratin, beliau menceritakan bagaimana pengalaman yang hidupnya, serta kalimat yang paling aku ingat adalah: Kalian adalah seniman Pendidikan. Bagiku itu sangat membuat hatiku senang, aku adalah seniman Pendidikan.
Sudokuan dan Penutupan TP20
Ini pertama kali aku mengikuti sudokuan, proses pembagian kelas untuk Kakak-kakak. Dan aku tidak begitu deg-degan atau berharap, malah aku senang sekali dan tidak peduli ditempatkan di kelas manapun atau jenjang manapun (karena yang penting aku bisa kerja dan produktif, ditambah aku mendapatkan ilmu di tempat ini). Tapi intinya aku senang telah mendapatkan dan mengetahui ditempatkan di kelas mana, selama proses sudokuan, suasana kembali lagi ceria, bahkan mirip seperti ibu-ibu yang sedang arisan, bahkan beberapa kalimat candaan sering keluar di sore itu. Aku pokoknya sangat senang, dan tidak henti-hentinya tersenyum kecil. Dan hari itu telah usai, ditutup oleh peluk dan salam hangat dari Kakak-kakak, tentunya air mata yang terus mewarnai sore kala itu. Air mata sedih dan haru, namun aku yakin air mata itu ibarat air yang nantinya akan membuat rumah belajar semi palar semakin bertumbuh layaknya pohon. Terima kasih.