AES 629 Pelajaran Dalam Hidup
joefelus
Sunday February 12 2023, 3:09 AM
AES 629 Pelajaran Dalam Hidup

Sabtu pagi, seperti biasa saya pergi berlari ke taman kota. Namanya saja taman kota (City Park) walau sebenarnya tidak berada di tengah kota. Saya senang berlari ke sana karena jaraknya dari rumah hanya sekitar 2 kilometer, jadi jika saya berlari ke sana lalu mengitari taman dan danau dan kembali mengambil jalan yang lain, saya bisa berlari setidak-tidaknya sekitar 6km. Itu sudah cukup dan jika tanpa berhenti sama sekali dengan kecepatan sedang sekitar 7km/jam, maka saya bisa membakar sekitar 800 kalori. Lumayan daripada berlari di treadmills sampai hampir menangis tapi entah mengapa saya hanya berhasil membakar dibawah 600 calori, padahal begitu selesai kaki kadang kesemutan hahaha.. Ya saya memang lebih suka berlari di jalan raya, tapi terpaksa harus memilih ke Gym karena pulang kerja sudah terlalu gelap, jadi yang paling cocok memang ke Gym di kampus. Di jalan raya bedanya di lutut hahaha... mungkin karena impact lebih tinggi karena jalan raya adalah permukaan keras, sedangkan treadmills ada semacam dampers ke kaki, jadi termasuknya lebih low impact. Nah kalau di jalan raya lutut terasa lebih bekerja keras. Eniwei, bukan itu yang ingin saya obrolkan hari ini.

Sambil berlari, saya mulai merenung kira-kira apa topik yang ingin saya angkat hari ini. 15 menit pertama memang saya belum bisa berpikir, wong napas kembang kempis, serta tubuh berteriak minta siksaan dihentikan, sesudah lewat 1 mile, tubuh mulai bisa menerima, napas mulai teratur dan saya bisa nyaman berpikir. Hari ini sisa salju sudah hampir habis, jadi tidak banyak distraksi, saya lebih memilih berpikir daripada melihat-lihat sekeliling. Saya mulai berpikir tentang usia. Usia saya sudah melewati masa-masa puncak, ini saatnya saya mulai mengurangi kecepatan, mulai berhenti mendaki, dan bersiap-siap untuk melaju turun sambil menikmati perjalanan hidup. Idealnya memang begitu, tapi sistem hidup di tanah air tidak begitu, apalagi saya sama sekali bukan pegawai tetap atau pegawai instansi pemerintahan yang punya sistem jaminan untuk hari tua, saya tidak. Jadi memang walau sudah melewati masa puncak, perjuangan tidak akan pernah berakhir.

Lalu mulailah saya merenung, apa yang sudah saya pelajari dalam hidup selama ini? Satu hal pertama yang hinggap di kepala: Gaya hidup sehat. Nah ini dalam pengertian luas tidak hanya soal makanan. Diet itu penting, misalnya harus banyak makan fiber, kemudian konsumsi protein, gula dan karbohidrat harus seimbang dan sebagainya, tapi juga dalam hal lain. Hidup itu tidak hanya semata-mata apa yang kita makan, kita lihat, kita baca, atau orang-orang yang ada di sekeliling kita yang menghabiskan waktu bersama-sama, Tapi kita harus memiliki batin yang sehat! Untuk mencapai ini kita harus selalu berusaha membuang serta menghindari hal-hal yang buruk, yang merusak. Kalau dalam hal makanan kita menghindari bahan pengawet misalnya, dalam relasi kita menghindari orang yang toxic, nah demikian juga dengan batin kita!

Hal yang kedua, kita bisa saja tidak bertanggungjawab atas apa yang terjadi di waktu lampau, itu sudah lewat, tapi kita bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan saat ini serta apa yang akan kita putuskan untuk hari esok. Yang terjadi di waktu lampau memang berdampak pada siauasi saat ini, tapi jika itu memang buruk kita wajib memutuskan rantai itu dan melepaskan diri demi hari esok. Kita tidak dapat menentukan masa depan jika saat ini kita dikontrol oleh masa lalu. Itu maksudnya. Kita tidak akan pernah bisa maju dengan leluasa jika kita terus menerus melihat kebelakang.

Sambil berlari saya memikirkan 2 hal itu, bahkan yang kedua soal pandangan saat ini dan kedepan sangat cocok dengan apa yang saya lakukan ketika berlari. Kalau saya berlari sambil melihat ke belakang, dijamin saya akan terperosok apalagi masih ada sisa-sisa es di pinggir jalan, saya bisa terjerembab dan cidera.

"2 miles completed, average heart rate is ..." Tiba-tiba lamunan saya terganggu karena notifikasi dari aplikasi olahraga yang saya gunakan. Sudah lebih dari 3km saya berlari, napas saya teratur dan tubuh saya sepertinya sudah tidak berteriak-teriak lagi, bahkan membiarkan pikiran terus sibuk. Kondisi yang nyaman seperti ini bisa saya gunakan untuk terus merenung.

Kebahagiaan, nah ini muncul juga dalam pikiran saya. Saya selalu keukeuh bahwa kebahagiaan adalah pilihan. Saya ngotot selalu mengatakan setiap hari mempunyai pilihan untuk menentukan tindak-tanduk saya. Beberapa waktu lalu saya kecewa, lalu sempat agak emosional, lalu kemudian berpikir, apakah kemarahan dan kekecewaan ini akan mengubah situasi? Karena tidak akan berpengaruh apa-apa, daripada saya berlarut-larut dengan perasaan negatif yang merusak saya dalam upaya menjalani kegiatan harian, saya memilih untuk berhenti larut dalam kondisi emosional itu. Juga misalnya jika saya marah-marah karena ada orang yang seenaknya, itu artinya kebahagiaan saya ditentukan oleh orang lain. Jika ada orang yang mau berlaku seenaknya, itu pilihan dan tanggungjawab dia, saya punya hak untuk memilih yang lain. Ini kondisi yang sulit, emosi saya sering ter-compromised, apalagi di jalan raya, misalnya. Nah butuh belajar mengendalikan ini, lebih aware dan mindful dalam keseharian.

Relasi, hal berikutnya yang mampir dalam benak saya. Dalam hidup relasi kita dengan orang lain itu sangat menarik. Orang yang paling berjasa dalam hidup misalnya bisa berubah 180 derajat dalam hitungan menit. Sahabat baik bisa jadi musuh bebuyutan. Begitulah hidup! Orang yang kita sangka sangat penuh pengertian dan dapat menjadi pendengar yang baik, tahu-tahu justru dia yang menyebarkan banyak rahasia hingga hidup kita kacau balau. Anehnya kadang justru orang yang benar-benar asing bisa menjadi begitu penting dalam hidup kita. Orang baik dan tidak baik datang dan pergi dalam hidup kita, memperkaya hidup kita yang penuh dengan dinamika. Ini sudah saya alami semua dan jika kita menerima dan memaklumi kondisi ini, niscaya kita bisa belajar banyak daripadanya.

Yang terakhir. Self worth! Jangan pernah memandang sebelah mata pada diri sendiri. Jika bukan diri sendiri yang bisa menghargai hidup, jangan harap orang lain akan melakukan itu pada diri kita. Semakin tinggi kita menghargai diri sendiri, self respect, semakin tinggi pula orang lain akan menghargai diri kita. Kita akan dapat melihat diri sendiri dengan lebih optimal jika kita mampu menghargai diri sendiri dengan baik, self esteem kita menjadi mumpuni dan akan membuka banyak pintu ke hal yang jauh lebih baik.

"Target reached!" tiba-tiba suara dari earphone bergema dengan sebuah bunyi "Jreng jreng!" yang lumayan keras. Saya pagi ini memang hanya mentargetkan 3 miles, Ini masih dalam perjalanan menuju rumah, mungkin sekitar 1km lagi hingga di depan pintu. Tubuh saya masih terasa nyaman. Saya tersenyum karena sudah punya topik untuk menulis hari ini. Nanti akan saya mulai tulis sesudah mandi membersihkan diri. Ada beberapa tugas domestik yang harus saya lakukan, tapi saya masih banyak waktu seharian, nulis dulu mumpung masih hangat di kepala.

Foto credit: byrslf.co

innocentiaine
@innocentiaine   3 years ago
Asyik banget kebayangnya pak.. :)
joefelus
@joefelus   3 years ago
Hahaha... Luamayan Kak :)
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Wow, keren nih tulisannya... ini jatah 3 AES Joe... panjang bener... Tapi isinya keren... Terima kasih sudah berbagi... 🙏😎👍