"Tutup telinga," satu frasa yang sering kita dengar untuk menggambarkan generasi muda masa kini yang dianggap enggan mendengar tak peduli atau bahkan terkesan tidak menghormati norma. Banyak yang beranggapan bahwa anak muda zaman sekarang tidak sopan, tak punya tata krama, dan seakan menutup telinga dari apa yang seharusnya mereka pelajari. Namun apakah benar demikian, atau mungkin kita sendiri yang perlu mendengarkan lebih baik ?
Ada anggapan bahwa generasi sekarang tumbuh dengan sikap yang lebih mandiri, bahkan terkesan keras kepala, berani melawan arus, dan kurang menghormati senioritas. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan. Namun jika kita melihat lebih dalam, generasi ini sebenarnya dibentuk oleh lingkungan yang berbeda.
Informasi yang serba cepat perubahan budaya yang tak henti dan teknologi yang menghapus batasan antara muda dan tua. Mereka lebih mudah mempertanyakan hal-hal yang tampak sudah tak relevan dan berani membicarakan ketidakadilan yang mungkin sebelumnya diabaikan. Sikap ini bukan sekadar tanda ketidaksopanan, tetapi ekspresi dari generasi yang menginginkan kejelasan dan keberanian untuk menyuarakan pendapat.
Jika generasi ini terlihat seperti "menutup telinga," mungkin itu karena mereka merespons hal-hal dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menuntut agar setiap ide, tradisi, dan norma dipahami bukan hanya diikuti secara membuta. Bagi mereka rasa hormat bukan sekadar karena usia, tapi karena integritas. Di balik sikap ini, ada dorongan untuk mendengar lebih baik tapi dengan filter yang lebih kritis. Mereka ingin mendengar sesuatu yang mereka anggap bermakna dan jujur, bukan sekadar formalitas.
"Tutup telinga" adalah frasa yang menyederhanakan kompleksitas generasi ini. Mereka mungkin terlihat seperti enggan mendengar, tapi sebetulnya mereka hanya memilih apa yang patut didengar dan dipelajari. Mungkin sebagai generasi yang lebih tua, kita pun perlu sedikit membuka telinga dan belajar memahami bukan sekadar menilai. Dengan saling membuka diri, generasi muda bisa menghormati tanpa harus kehilangan sikap kritisnya dan generasi lama bisa mengapresiasi keberanian berpikir baru tanpa merasa diabaikan.