AES 1178 Tidak Ingat
joefelus
Wednesday August 21 2024, 8:19 PM
AES 1178 Tidak Ingat

Hidup saya dalam seminggu terakhir memang penuh dengan berbagai cerita! Oh saya tidak akan mengingat-ngingat yang negatif, terlalu mudah itu. Pernah saya menulis bahwa manusia cenderung lebih mementingkan sisi negatif yang disebut dengan negative bias sebagai bentuk usaha untuk mempertahankan diri. Kejelian kita pada hal yang negative membuat kita menjadi jauh lebih waspada. Itu memang betul, tapi saya tidak mau memfokuskan diri pada hal itu sebab saya sedang dalam proses membangun hidup kembali mulai dari titik nol.

Ibaratnya gawai, hidup saya seperti baru saja di reset, atau anggap saja sebagai faktory reset, dan sekarang mulai berbenah dan membangun segala hal satu demi satu dari awal lagi. Bukan merupakan pengalaman yang baru, saya sudah mengalaminya berulang kali dan pengalaman-pengalaman itu memberikan semacam tuntunan.

Misalnya mengurus surat-surat, memang saya sangat enggan melakukannya sebab berdasarkan pengalaman jaman dahulu, berhubungan dengan instansi pemerintahan begitu menyebalkan, belum mulai saja saya sudah merasa terintimidasi. Tapi pengalaman mengatakan bahwa sebaiknya saya segera melakukannya, semakin cepat semakin baik, deal with it, get over with and move on! Itu yang terus menerus mengingatkan saya dan segera saya lakukan. Masalah pajak beres, KTP beres, minimal saya memiliki digital dan resinya. Dalam beberapa waktu mendatang akan bisa saya ambil kartu aslinya. Ternyata sekarang prosesnya sangat mudah tidak seburuk yang saya sangka. Para pejabat menjadi semakin profsional dan sungguh-sungguh memberikan pelayanan yang baik pada rakyat. Surat ijin mengemudi pun sudah saya kantongi. Ini melalui proses yang unik dan tidak akan saya ceritakan di sini hahahaha...

Memulai sesuatu dari nol membutuhkan banyak hal. Yang saya jadikan tujuan utama sekarang adalah bagaimana saya dapat mempersiapkan diri untuk hidup normal. Untuk itu saya butuh fasilitas standar yang memadai sehingga dapat melakukan segala hal secara optimal. Sesudah semua urusan administrasi selesai, saya mulai membenahi fasilitas fisik. Ini akan membutuhkan waktu yang cukup panjang sehingga memang saya butuh melakukannya dengan cepat.

Yang berikutnya adalah mulai membiasakan diri dengan mobilitas dan speed kota Bandung. Ini butuh membiasakan diri lagi. Kecepatan dalam artian lalulintas memang jauh berbeda. Kota Fort Collins sangat lengang karena kepadatan penduduk yang tidak seberapa dibandingkan Bandung. Kecepatan maksimum di sekitar perumahan itu antara 40-48km/jam. Cepat sekali dibandingkan dengan kota Bandung. Bayangkan dengan jalan raya, di highway di sana kecepatan maksimum yang paling rendah adalah 104 hingga 120 km/jam dan saya sering mengemudi hingga hampir 160 km/jam karena sangat lengang. Kemarin ketika sopir menjemput kami dari bandara, saya merasa sangat lamban. Saya lirik kecepatan antara 80 hingga 100. Itu sebetulnya sudah cepat karena kepadatan lalulintas. Ini butuh penyesuaian, apalagi di jalanan dalam kota Bandung. Saya masih ragu-ragu apakah akan berani mengemudi lagi melihat padatnya lalulintas terutama roda 2 yang hampir jarang saya temui di Fort Collins. Ini adalah sebuah gambaran bagaimana saya harus kembali membiasakan diri lagi dari nol.

Hal yang paling menyenangkan selama sekitar 10 hari saya di Bandung adalah menikmati kembali makanan-makanan yang sudah lama tidak saya rasakan. Ini adalah pengalaman yang paling menyenangkan. Selama 10 hari , saya sudah menikmati lebih dari 20 jenis makanan yang berbeda! Itu artinya 2 jenis makanan baru setiap hari! Seru dan sangat menyenangkan. Memang benar kata pribahasa, sejauh-jauhnya bangau terbang, hinggapnya ke kubangan juga. Nah saya cocok-cocokan saja, seenak-enaknya makan di negeri orang, kembalinya ke jengkol juga! Hahahaha.. Orang sering kali mengagumi jenis-jenis kuliner dari negeri orang, terlihat menarik dan menggiurkan. Bayangkan saja sepotong daging ribeye raksasa (kalau dibandingkan dengan porsi di restoran Indonesia), orang akan merasa kagum dan kepingin. Tapi jika saya dihadapkan pada sebuah pilihan antara rendang jengkol dengan ribeye steak, saat ini saya akan memilih rendang jengkol, apalagi jika ditemani dengan gulai sayur dan sambal Padang. Terus terang, makanan Indonesia tidak ada duanya!

Saya saat ini tidak ada kewajiban untuk bangun pagi walau selama ini saya selalu terjaga ketika adzan subuh belum berkumandang karena masih bergumul dengan jetlag. Saya juga tidak ada kewajiban untuk pergi ke kantor. Jadi memang saya sedang menikmati berbagai kebebasan. Bangun seenaknya, tidur kapan saja saya mau walau sedang saya usahakan seteratur mungkin agar cepat lepas dari jetlag. Nah Karena tidak ada pekerjaan dan kewajiban itu, saya tidak lagi menanti-nanti akhir pekan. Biasa jika kita bekerja, kita tidak sabar menunggu akhir pekan dimana kita tidak perlu ke kantor dan dapat bangun siang dan tidur kapan saja. Bukan begitu? Nah saya tidak ada tuntutan semacam itu. Setiap hari sama saja dan saya jauh lebih membayangkan akan "hari ini akan makan apa, atau pergi ke mana?"

Saya sedang eksplorasi kota Bandung. Selama 10 hari ini sudah saya kelilingi dari bagian Timur, Selatan, dan Barat serta sedikit bagian Utara. Nah belum semua saya telusuri tapi sudah sebagian besar saya kunjungi dan melakukan banyak orientasi. Banyak tempat-tempat baru yang 8 tahun lalu tidak ada, banyak jalan layang baru, banyak jalur lalulintas baru, itu semua sangat menarik dan perlu diketahui agar saya dapat segera settle down. Nah, semua kegiatan ini membuat saya lupa hari. Sekali lagi karena setiap hari itu sama, saya tidak perlu menunggu-nunggu akhir pekan dan liburan, maka saya sering disorientasi. Hari apa ini? Tanggal berapa sekarang? menjadi pertanyaan yang saya ungkapkan setiap hari. Ya, saya tidak ingat karena saat ini nama hari tidak penting.

Foto credit: reddit.com

You May Also Like