"Those were the days I wish I could enjoy them again, the time I could stop and be there again." Kata seseorang ketika dia sedang mengenang masa kecilnya.
Banyak sekali, malah mungkin hampir semua di antara kita sangat menikmati ketika kembali ke masa lampau, salah satunya masa kecil dan sering berharap dapat kembali ke masa itu. Lihat saja mereka yang pergi ke pertemuan reuni masa SMA, misalnya. Ada bahkan kelompok yang kembali mengenakan seragam sekolah, duduk di kelas bahkan di meja yang pada masa itu mereka duduki. Mereka mengenang serunya masa-masa itu.
Saya beberapa kali menulis bahwa manusia pada dasarnya menyimpan hal-hal positif dari masa lampau, dan sebagai bentuk survival mechanism, hal-hal yang buruk dibuang jauh-jauh. Itu sebabnya reuni selalu diselubungi suasana gembira, bahkan ketika mereka mengenang pada saat satu kelas dihukum oleh guru, dengan gembira mereka tertawa-tawa. Itu juga saya lakukan ketika reuni teman-teman SMP dimana kami mengenang saat satu kelas dihukum merangkak di halaman sekolah dibawah panas matahari semata-mata karena mengata-ngatai guru yang kami benci. Pada saat dihukum kami marah-marah, merasa diperlakukan tidak adil sebab biangkeroknya satu orang, tapi demi kesetia-kawanan, kami tidak memberi tahu siapa orangnya sehingga satu kelas dihukum. Pada saat reuni, peristiwa itu kami kenang kembali sambil tertawa-tawa dan biangkeroknya kami "bully"! Tentunya bukan perundungan sungguhan, melainkan dengan gurauan. Keseruan masa lalu memang selalu menyenangkan untuk dikenang.
Kemarin ketika saya ikut-ikutan meramaikan acara di Smipa juga diselubungi dengan perasaan nostalgik. Ketika dalam perjalanan dari Cimbuleuit menuju Smipa, walau rutenya agak berubah sedikit, dan sempat tersesat (hahahaha), saya kembali mengenang perjalanan kami setiap pagi sesudah mengantar Nina ke Kantor lalu saya bersama Kano ke sekolah. Kami senang bergurau di kendaraan, memutar lagu-lagu favorit bahkan berbagi cerita. Ungkapan cheesy "Jalan- jalan sempit ini jadi "saksi" dari keseruan-keseruan saat itu." ternyata ada benarnya juga.
Perasaan nostalgik itu memang menyenangkan tapi sekaligus juga menghadirkan sedikit rasa pahit. Bersyukur sudah mengalami itu, tapi pada saat bersamaan ada rasa kehilangan. Duduk menikmati gorengan dan ngobrol dengan pak Muhklis seperti waktu sama sekali tidak pernah bergerak, tapi juga disadarkan bahwa mayoritas warga Smipa tidak lagi saya kenal, dan anak-anak yang saya kenal sudah sama tingginya dengan saya. Waktu terus mengalir sementara benak dan perasan selalu ingin berjalan di tempat.
Saya ingat sebuah puisi atau prosa, tidak yakin yang mana karena sudah lupa pelajaran bahasa Indonesia jaman sekolah dulu hahaha.. intinya, ada seorang ibu sedang menidurkan anak perempuannya, lalu sang anak bertanya, apa yang akan ibu beli jika mempunyai banyak uang? Sambil memandangi wajah anak perempuannya, sang ibu hanya punya satu hal yang ingin dia miliki jika memiliki uang, yaitu ingin membeli waktu. Karena dia hanya ingin memiliki waktu sebanyak-banyaknya agar dapat terus memandangi wajah anak perempuannya itu.
Itu semua yang saya lamunkan ketika mengemudi sendirian sesudah acara selesai dan saya meninggalkan Smipa. Kendaraan dipenuhi dengan keharuman dari sisa-sisa memasak. Bau kecombrang, bau ikan tongkol dan bau bumbu seperti sereh dan daun jeruk menemani saya sambil melamun seolah-olah sedang ditemani seorang anak laki-laki yang bawel berceloteh tentang keseruan tadi selama belajar di sekolah. "Si Ivan diam di ruang tengah lagi, dad! Waktu saat hening dia terus-terusan berucap clementine.. clementine mengganggu teman-teman yang sedang hening." Katanya sambil tertawa-tawa. Lalu dia sibuk cerita membuat karya dari kardus bekas dan keseruan-keseruan lainnya. Saya tersenyum sendiri, pengalaman-pengalaman itu adalah harta yang terus saya simpan baik-baik, masa-masa itu tidak akan pernah kembali lagi, sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang indah.