AES076: Review jalan-jalan ke pasar
haegenquinston
Thursday November 11 2021, 4:30 PM
AES076: Review jalan-jalan ke pasar

Ini adalah cerita yang sedang trending topic, di kepalaku sendiri dan tidak menyebar ke orang lain. Trending topic dalam artian, berada di dalam kepalaku terus. Standar trending topic sendiri adalah hal yang sedang ramai, hal yang menjadi bahan perbincangan. Namun, di kepalaku sendiri saja cukup trending topicnya. (apaan sih ga jelas sejak di KPB)

Kemarin sore menjelang malam, aku ada keperluan untuk pergi ke pasar. Mengapa perlu, karena aku ingin membeli singkong dan juga ubi ungu. Untuk menjadi bahan olahan di proyek Nyenack, singkong dan ubi ungu perlu aku beli. Jelas tentu lokasi pasar akan membuat bahan-bahan ini dijual dengan harga lebih murah daripada beli di swalayan. Juga, beberapa lama ini aku mencari singkong di swalayan, namun tidak ada stoknya. Jadi deh, automatis langsung cabut-nya ke pasar.

Pertama kali keinget untuk perlu pergi ke pasar adalah ketika sore hari tiba, aku baru sadar esoknya akan ada proyek kelompok nyenack di sekolah. Sehingga, buru-buru langsung ingin pergi, tetapi awalnya tidak bisa. Saat bisa pergi, waktu sudah malam, aku pun sangat ragu dan pesimis, kalau esoknya akan bisa mengolah singkong. Tetapi tidak apa-apa lah, kerjain aja, dan aku langsung berangkat.

Saat tiba di pasar, sudah malam hari dan aku sangat ragu. Ehh ternyata ada pedagang. Situasi sedang hujan, jadi lantai keramiknya sangat licin akupun berhati-hati menginjaknya. Saat tiba, ternyata masih ada seorang pedagang sayuran di pasar. Alangkah kagetnya aku, karena memang malam-malam, tidak logis kalau nongkrong sampai malam dan pembeli sepi.

Saat membeli bahan-bahannya, aku langsung mengambil singkong yang dibutuhkan, tergesa-gesa karena semangat, melebihi ekspektasi, dan mumpung ada. Ternyata saat dibeli, itu sudah 2.5 kilogram singkong, suatu angka yang tidak diduga. Aku kira hanya sekitar 1.5 atau 2. Namun aku tidak apa-apa, karena memang aku ingin memberi uang ke bapak-bapaknya juga. Tentu suatu uang 15.000 akan menjadi berkah baginya. Mungkin kita tidak seberapa ataupun merasa kemahalan, tetapi penjual pasti akan menghargainya. Seperti semacam 'tip' saja, kita tidak tahu apa yang terpikirkan penjual tersebut.

Hal unik pertama yang kutemukan, adalah timbangan yang non digital dan non analog pula, hanya batang besi dan 2 buah tempat untuk meletakkan benda. Seperti layaknya timbangan kuno saja, hanya mengandalkan keseimbangan dari 2 sisi. Alat ukur yang dia pakai, adalah kacang yang masing-masing beratnya 1 kg. Jadi, kacang ditaruh di satu sisi, satu sisi lainnya ditaruh singkong yang kubeli. Unik juga sih, karena aku tidak pernah membayangkan akan bertemu timbangan seperti ini. Aku kira orang-orang makin ke sini menggunakan timbangan digital, kalau tidak pun masih yang analog.

Hal kedua yang menarik adalah lantai becek yang licin sekali, kebetulan sekali aku dihadapi dengan situasi 'pasar' yang becek dan licin. Selama berjalan, hati-hati tentunya. Seharusnya lantai keramik yang licin dibuat untuk berestetik dan terlihat lebih bagus, ini malah sebaliknya, malahan membuat kerugian jadinya licin pada saat terkena air hujan.

Aku bisa mendapatkan pengetahuan dengan pengamatan simple dan juga eksplorasi, orientasi medan tepatnya. Hal yang negatif disini hanyalah, aku akhirnya tidak mendapatkan ubi ungu di pasar karena kehabisan stok.

You May Also Like