AES012 Snake Eyes
Hanief Adnadi
Monday July 10 2023, 1:32 PM
AES012 Snake Eyes

Perencanaan untuk TP19 dimulai hari ini dan dibuka dengan berdiskusi tentang “apa itu makna hidup dan pendidikan”. Karena pendidikan di sini tidak dibatasi dalam lingkup “sistem pendidikan” dengan segala macam trembelan bawaan dari model industri dari sistem pendidikan yang kita miliki sekarang, jadi bahasan kami semua meluas hingga ke “hidup adalah belajar adalah untuk hidup” dan “pendidikan dan hidup itu seperti dua sisi koin”.

Jika kita bahas spesifik tentang hidupnya itu sendiri, saya pernah berdiskusi dengan seseorang yang saya anggap sebagai mentor di hidup saya. Dia pernah berkata seperti ini;

“Dalam hidup ini, kalau orang ingin melangkah maju hanya ada tiga komponen. Kemampuan, kemauan, dan kesempatan. Kemampuan itu skill, it can be learned. Kemauan itu datang dari dalam. Do you want to advance? Kesempatan ini yang tidak semua orang pernah dapat. Itu lah mengapa memberikan kesempatan ke orang lain itu sangat penting”

Bicara soal kesempatan, saya sendiri berkesempatan untuk mengikuti kompetisi Riichi Mahjong di pagelaran acara FORNAS akhir pekan lalu. Mengingat permainan mahjong itu sendiri adalah permainan peluang, saya mendapatkan beberapa pelajaran hidup dari bermain selama dua hari

Di hari pertama, kami bermain 5 hanchan (1 hanchan ekivalen 1 pertandingan). Capaian poin di 5 hanchan tersebut akan diakumulasi dan akan diurutkan di klasemen. 24 pemain dengan capaian poin tertinggi akan lolos ke hari kedua. Di hari kedua akan dimainkan 3 hanchan dengan klasemen yang sama. Pemain akan dikikis hingga tersisa 4 orang teratas yang akan bermain di final.

Di hanchan #1 saya berhasil menang dengan poin lumayan, tetapi di hanchan #2, #3, dan #4 saya tidak bisa berkata apa-apa. Bukan, bukan masalah saya tidak bisa bermain. Masalahnya adalah cangkulan balok saya tidak mendukung saya untuk mencapai kemenangan. (ya pasti ada sih masalah-masalah yang skill-issue. Harus ada post-match review tapi ya otak saya sudah habis jadi lain kali saja yak).

Yang lucu kemudian saya berhasil menang besar di hanchan #5 sehingga saya terangkat ke peringkat 19 dari 24 orang yang lolos ke tahap knockout. Winning streak itu pun masih berlanjut hingga saya sampai ke final. Sialnya, di final kejadian hanchan #4 terjadi lagi dan saya tidak bisa apa-apa.

Setelah turun pangung, saya sempat kecewa, tetapi kemudian setelah ngobrol dengan teman sepermainan saya mendapat kalimat seperti ini

“Kami ngerti kok, nip. Tanganmu emang gabisa diapa-apain. Emang ga dapet kesempatan aja

Terkadang di hidup kita ingin sesuatu, dan memiliki cukup kemampuan untuk mencapai hal tersebut. Atau bahkan ketika kita tidak memiliki kemampuan, kita ingin mempelajari skill apa yang dibutuhkan. Namun tetap saja kesempatan itu tidak datang. Antara cangkulan tidak mendukung, ketika melempar dadu angka yang muncul adalah 1 dan 1, atau tidak pernah memiliki waktu untuk eksplorasi sebuah bidang. Itu lah yang saya rasa penting. Karena mahjong hanya permainan, setiap selesai hanchan semua akan reset kembali. Sama seperti permainan dadu. You rolled snake eyes now, you might roll boxcars after. Tetapi dalam hidup, sering seseorang tidak mendapat kesempatan dan hidupnya langsung terpengaruh secara signifikan. Bahkan kadang pengaruhnya sangat merugikan. Dalam sekolah pun begitu. Sering seorang anak sudah dilabel sebagai anak yang “kurang” sehingga guru tidak memberi kesempatan ekstra untuk anak tersebut mengeksplorasi.

Kembali ke sistem pendidikan di awal, menurut saya sekolah yang ideal adalah sekolah yang memberi kesempatan ke siswanya. Ketika seorang anak “gagal”, berilah dia kesempatan untuk mencoba lagi. Biarlah sekolah menjadi “permainan kehidupan” bagi anak-anak. A place where they can roll snake eyes today and try again tomorrow without significant repercussions. That’s how we learn, by making mistakes and being given a chance to correct them.

Foto merupakan foto finalis kompetisi Riichi Mahjong di FORNAS. Pemain di sebrang saya dari Kalimantan Timur yang kemudian jadi juara dan kiri-kanan saya pemain dari Jakarta, masing-masing meraih perak dan perunggu.

       

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Keren ka Hanief 👍😊
Hanief Adnadi
@hanief-adnadi   3 years ago
tengkyu2 kak Andy, gatel pengen curhat kalah di final soalnya hahahahaha