image source: https://stock.adobe.com/si/search?k=interrogation+room&asset_id=354494891
Dalam proses magang saya di Semi Palar, saya dikenalkan dengan proses mindfulness meditation atau “meditasi kesadaran diri”. Meditasi ini dilakukan dengan duduk bersila dengan nyaman, memusatkan perhatian pada nafas diri, dan mundur dari kekisruhan dunia. Metode mindfulness ini memusatkan diri pada moda being (berlawanan dengan moda doing) dan membiarkan sensasi dari luar datang dan pergi begitu saja. Metode ini sangat direkomendasikan sebagai metode untuk menenangkan diri karena metode ini akan mendekatkan seseorang ke diri mereka yang sejati
Saya karena masih tergolong pemula dalam menerapkan metode ini masih sering terjebak dalam mindwalking. Sering mengejar dan memikirkan pikiran-pikiran saya yang numpang lewat di kepala saya. Sering saya dalam waktu hening pagi sebelum berkegiatan malah menanggapi dialog ke diri sendiri yang terbesit di dalam kepala. Tapi kemarin malam sembari saya merenungi masalah hidup yang saya buat-buat ini, saya kembali ke teknik meditasi dari Sadhguru yang berlandaskan kalimat “I am not the body, I am not even the mind”. Saya teringat sebuah video tua yang saya dulu pernah temukan di Youtube
Video tersebut, dengan judul “Why Do I Hate Myself”, menceritakan bagaimana seseorang bisa memiliki semacam narasi yang muncul di dalam kepalanya sendiri. Narasi ini tentunya tidak muncul dalam vakum. Ini muncul dari sekumpulan cerita-cerita kecil yang kita kumpulkan selama kita hidup. Ketika narasi tersebut adalah narasi yang positif, yang membangun diri, yang mendorong agar sinar diri kita semakin benderang, maka narasi tersebut akan menguatkan kebahagiaan yang muncul dari dalam diri. Namun apa yang terjadi ketika narasi tersebut merupakan narasi yang destruktif?
Hal ini kadang muncul ke permukaan dalam bentuk-bentuk yang kecil. Seperti suatu hari aku mendapati siswa SD di kelasku mengatakan “Aku mah ga bisa nyanyi kak, suaraku jelek”. Dari mana anak itu mendapat narasi “suaraku jelek”? Kenapa sampai si anak tersebut membenci suaranya sendiri hingga ia beri label kekal “jelek”? Bahkan ketika memang secara musikalitas suara anak tersebut kurang mumpuni, bukan kah suara itu bisa dilatih sehingga setidaknya tidak meleset dari frekuensi nada yang diminta sebuah lagu? Dan ini hanya contoh kecil. Bagaimana jika narasi yang muncul ini lebih krusial seperti "Kamu tidak akan menjadi siapa-siapa di dunia ini", atau "Kamu akan selalu mengecewakan orang yang mampir di hidupmu", atau yang paling buruk, "Kamu tidak layak mendapat apapun, bahkan cinta atau kasih sayang".
Ini merupakan pengalaman pribadi saya dalam belajar meditasi. Ketika dalam proses meditasi saya bertemu dengan sepenggal narasi menyoal diri saya sendiri, saya sering mengejar narasi tersebut dengan pertanyaan “Kamu siapa?”, lalu biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan “Kita pernah bertemu di mana sebelum ini?”. Sejauh ini dua pertanyaan tersebut dapat membantu saya untuk menata pikiran saya sendiri dan menjawab beberapa pertanyaan saya baik menyoal diri sendiri maupun dunia. Yaaa walaupun proses meditasinya masih kurang optimal dalam masuk mode being dan malah masih dalam mode doing hehehe. Semoga kita semua bisa menemukan being kita masing-masing
Mantap kak. Nuhun. 🙏😊
hehehe makasih kak Andy