Satu hal yang sangat luar biasa berkaitan dengan manusia adalah kemampuannya berkomunikasi. Manusia mempunyai banyak cara dalam berkomunikasi, bisa secara vebal, tulisan, bahkan dengan gestur, termasuk bahasa isyarat. Itu hebatnya. Kemudian ada orang yang lebih menyukai berkomunikasi secara verbal, secara langsung, tapi ada yang lebih menyukai dalam bentuk tulisan. Jadi untuk sementara orang ada yang kesulitan jika berbicara, tapi juga ada yang kesulitan dalam menulis. Itu memang normal dan biasa serta banyak dijumpai dimana-mana. Oleh sebab itu memang gerakan menulis tidak selalu berhasil karena semua orang mempunyai kendala masing-masing. Bagaimana dengan saya? hahaha.. Saya termasuknya orang yang bawel tukang ngobrol tapi juga tidak tahu malu nekad menulis, tidak tanggung-tangung, setiap hari gara-gara Atomic Essay Smipa hahahaha..
Sebetulnya jika dipikir-pikir memang ngobrol lebih mudah dibandingkan dengan menulis. Secara natural kita memang belajar bicara dulu sebelum menulis, betul khan? Dalam berkomunikasi secara verbal kita tidak terlalu banyak berpikir atau kasarnya ya nyerocos aja begitu. Berbeda halnya dengan menulis karena banyak sekali aturan yang terkait. Jangankan kita berbicara tentang pola pikir, ide utama atau kerangka berpikir, untuk menulis sebuah kalimat saja sudah harus memikirkan banyak aturan, tanda baca, pemilihan kosa kata yang tepat hingga tata bahasa! Repot! Nah masuk akal jika orang yang tertarik untuk menulis itu jumlahnya tidak banyak. Bandingkan rasionya dengan orang-orang yang tukang ngobrol.. Hahaha.
Menulis dan ngobrol memang tidak sama. Menulis biasa lebih formal daripada ngobrol. Kalau ngobrol saya bisa menggunakan loe, gua tapi misalnya dalam menulis atomic esai saya tidak bisa menggunakan itu. Walau begitu, menulis dan berbicara pada dasarnya adalah ketrampilan yang harus dilatih. Contoh sederhana, kalau saya katakan bahwa berbicara lebih mudah daripada menulis, itu tidak berlaku pada setiap orang dan juga tidak berlaku dalam menggunakan bahasa lain. Pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika, saya seperti orang gagu dan lebih jago menulis dalam bahasa Inggris yang grammar-nya saya hapal luar kepala daripada berbicara dan memilih penggunaan kata-kata yang tepat dan wajar sesuai dengan kebiasaan masyarakat dimana saya berada.
Ya, sungguh itu. Ketika dulu saya di Hawaii dan sekarang di Fort Collins, banyak menggunakan pilihan kata yang berbeda, karena daerah tertentu pasti memiliki dialek dan kebiasan yang berbeda juga. Hawaii lebih kental dengan bahasa pidgin yang terpengaruh kental dari Asia karena penduduknya mayoritas orang keturunan Asia. Jadi tidak aneh kalau mendengar komunikasi seperti ini:
"Good Morning!"
Lalu dijawab: "Good Morning, too!" hahaha
Atau yang sangat khas: "You can do it, ya?" atau "da kine" (baca: de kain (the kind) = anu, yang itu, dalam bahasa Indonesia. Sesuatu yang kita tahu sama tahu)
Sama seperti jika menggunakan bahasa Inggris di Singapura, terdengar berbeda dengan bahasa Inggris di India atau Australia. Bahasa verbal sangat terpengaruh budaya, lingkungan dan kebiasaan lokal, demikian juga dengan intonasi, jargon dan pilihan kata, semuanya berbeda. Saya sedang diskusi tentang "ngobrol" ya, berbicara secara informal. Kalau pidato atau menjadi pembicara resmi, pastinya mempunyai kaidah berbahasa yang lain yang lebih formal.
Nah, lain halnya dengan bahasa tulisan. Bahasa tulisan lebih standar tapi dibedakan dengan cara dan kepribadian penulisnya. Aturannya semua sama. Dalam menulis kita lebih mempunyai banyak waktu untuk persiapan, 'mencipta", dan merevisi. Sementara ketika ngobrol, kita tidak melakukan itu.
Tapi apakah itu ngobrol ataupun menulis Atomic Essay Smipa, dua-duanya bagi saya merupakan usaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Mungkin diantara rekan-rekan ada yang sudah melalui latihan formal atau bahkan pendidikan formal dalam urusan menulis, saya tidak. Walau latar belakang pendidikan saya adalah bahasa tapi saya hanya mengambil beberapa semester mata kuliah menulis. Dalam hal ini adalah belajar menulis menggunakan bahasa lain, bukan belajar menulis sebagai penulis. Itu juga berbeda. Menulis yang saya pelajari adalah dalam upaya belajar bahasa asing. Jadi ya begitulah, saya menulis esai lebih karena saya ingin "ngobrol" tapi dalam bentuk tulisan. Jadi saya banyak mengabaikan aturan dan juga karena tidak ada latar belakang pendidikan formal menulis, ya nekad saja tanpa memikirkan banyak aturan.
Satu hal yang saya rasa sama antara ngobrol dan menulis AES adalah isinya. Saya membayangkan ketika duduk bersama teman-teman di warung Ibu Sum dan ngobrol ya isinya kebanyakan yang saya sudah tulis itu. Soal pengalaman pribadi dalam hal-hal tertentu, pendapat mengenai issue-issue yang menarik, atau hanya sekedar bergurau atau melamunkan sesuatu yang kita semua impikan. Bukankah kita juga sering sambil ngopi dan makan bala-bala ngobrol soal bagaimana mendidik anak, mendampingi anak atau meminta pendapat rekan-rekan yang lain dalam menghadapi masalah pendidikan? Nah saya kira, AES juga merupakan tempat kita "ngobrol' hanya saja tidak dibatasi dengan waktu dan tempat. Kalau diskusi di warung begitu kita pulang, maka obrolan kita selesai, tapi di AES kita bisa ngobrol walau diskusinya dimulai sejak 2 tahun yang lalu. Iya khan?
Foto credit: writingcooperative.com