Menulis ketika kondisi tubuh sedang kurang baik memang sangat menantang tapi keinginan saya untuk itu sama sekali tidak pernah pupus. Hanya saja rasa sakit dan tenggorokan yang membengkak sangat mengganggu saya untuk berkonsentrasi, apalagi diselingi batuk-batuk dan bersin yang kemudian diikuti dengan lolongan: Auuuugh.. karena sekujur tubuh saya dan otot-otot dada serta perut terasa sakit. Kalau saya membayangkan menonton peristiwa itu semua, tentunya akan terlihat lucu sekali. Pegang-pegang tenggorokan lalu batuk-batuk dan bersin kemudian diikuti dengan lolongan Auuuuu... hahahaha.. saya membayangkannya seperti seekor serigala tua, kurus dan renta yang penuh penderitaan. Hahahaha... Kacau sekali!
Eniwei, ini bukan hal yang menyenangkan, tapi saya sekarang punya pengikut, Nina! Ya, sepertinya saya menularkan penyakit ke Nina. Bedanya Nina tidak suka melolong seperti saya. Mungkin wanita secara fisik lebih mempunyai resistansi yang tinggi. Ya jelas lah kalau mempertimbangkan banyak dari pengalaman tentang segala hal yang dialami oleh wanita setiap bulan atau ketika melahirkan, jangan jauh-jauh deh, ketika harus mammogram, itu katanya sakit luar biasa. Ada yang mengatakan ke saya bahwa rasanya seperti bagian tubuh dijepit pintu kulkas. Auuuu.. saya tidak bisa membayangkan. Bukannya saya gender bias (hmm.. istilah ini juga harus didefinisikan dengan lebih cermat supaya tidak salah kaprah) tapi ini untuk mengungkapkan kekaguman saya. Untuk mengangkat-angkat barang mungkin pria bisa diandalkan, dan juga sudah menjadi common sense bahwa pria harus bersikap gentleman dengan membantu mengangkat yang berat-berat, membukakan pintu, memberikan tempat duduk bila ada wanita yang berdiri di dalam bus atau subway. Itu common sense, sesuatu yang layak dan sepantasnya walau pada kenyataannya banyak pria yang enggan melakukan itu dan justru pura-pura tidur supaya "dianggap" sah jika tidak bersikap gentleman.
Kesetaraan gender juga kemudian banyak dijadikan alasan oleh banyak pria yang tidak peduli pada orang lain. Karena semua gender dianggap setara, mempunyai hak dan kewajiban yang sama lalu itu dijadikan pembenaran untuk tidak bersikap gentlemanly. Mungkin pendapat saya dianggap sudah usang, jaman sekarang mungkin saja sudah tidak begitu lagi, tapi tetap saya keukeuh bahwa sikap yang gentleman bagi seorang pria itu penting. Jangan salah, sebetulnya pria harusnya berterimakasih dengan situasi sekarang ini, beban tanggungjawab mereka semakin berkurang jika dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Saya akan bagikan alasan ece-ece saya berikut ini.
Saya dibesarkan di dalam struktur keluarga tradisional. Ibu saya adalah fulltime ibu rumahtangga, ayah saya fulltime pencari nafkah. Itu hal yang lumrah dijamannya. Jaman sekarang sudah jauh bergeser. Banyak bukti menunjukkan bahwa pria sendirian mencari nafkah sudah terlalu berat. Dengan tekanan kondisi ekonomi jaman sekarang, 24 jam itu tidak cukup untuk menghadirkan makanan yang layak di meja, jadi butuh lebih banyak jam. Untuk itu 1 orang saja tidak cukup. Untung ada kesetaraan gender sehingga kaum wanita bisa urun tenaga dan waktu sehingga 24 jam bisa dikalikan 2! Repotnya masih banyak pria yang tetap menuntut wanita agar juga bertugas mengurus rumah tangga. Engga tau diri bener, khan? Atau lebih parah lagi, merasa tersaingi sehingga timbul friski dan keretakan dalam rumahtangga sebab ada semacam perang peran dan kekuasaan. Loh.. loh loh? Gimana ini? Ya wajar saja, tidak semua orang siap dengan perubahan peran dalam rumahtangga. Seringakali lupa bahwa ada istilah kompromi, trade off dan sebagainya.
Saya bicara dari pengalaman kok. Istri saya, Nina, itu terikat dengan perjanjian pekerjaannya, sehingga ketika pulang dari rantau, Nina yang terikat perjanjian harus ngantor, saya mengambil alih urusan antar jemput Kano ke sekolah, masak dan sebagainya. Ketika saya kerja, Nina yang menjaga Kano, dengan begitu semua dapat berfungsi dengan lancar. Mudah? Jelas tidak! Saya diketawain ibu-ibu yang tinggal di kampung di belakang rumah. "Loh oom, mana ibu? Kok oom yang belanja kangkung sama tempe?" Saya tertawa dan menjawab sekenanya,"Loh engga ngenali toh? ini ibu, roknya tadi masih basah jadi pake celana punya oom!" Hahahaha. Lama kelamaan mereka jadi terbiasa bahkan sering diskusi tentang resep atau minta pendapat saya karena mereka tahu saya pernah berkecimpung dalam bisnis makanan di Amerika. Seru khan dikerubuti ibu-ibu? Hahahaha.. Ini namanya serigala di sarang perawan! Oh jangan salah, di Smipa juga saya sering nongkrong bareng ibu-ibu dulu hehehehe.
Nah urusan pembagian chores domestik akhirnya terbentuk dengan sendirinya. Peran kami berdua selama sekian puluh tahun berumahtangga juga kemudian menjadi semacam SOP (Standard Operating Procedures) yang tidak tertulis. Masing-masing memiliki kepiawaian sendiri. Tidak ada sengketa wilayah kekuasaan maupun otoritas dan tidak seperti perang terus menerus di jalur Gaza hahaha. Nah kalau sudah begitu, apakah saya tidak boleh berterimakasih sudah dibantu? Mencari penghasilan bukan hanya semata-mata tanggungjawab sepihak, juga urusan rumah, membesarkan anak dan lain-lain. Jadi kalau saya bilang ada pria yang keterlaluan, sudah dibantu mencari nafkah eh masih memaksa wanita menjadi ibu rumah tangga full time. Bukan kah itu keterlaluan?
Pembagian peran memang tidak selalu seperti yang saya alami. Masih banyak yang mengikuti pakem lama. If it works, why not? Bahkan ada yang betul-betul terbalik, ayah di rumah, ibu full ngantor. Itu juga sah-sah saja selama semua bisa menerima dan ada kompromi yang positif.
Loh, kok saya jadi seperti penyuluhan urusan rumah tangga sih? Padahal tadinya saya cuma menyampaikan rasa kagum bahwa wanita pada hal-hal tertentu sangat tinggi toleransinya pada rasa sakit. Sejauh ini saya belum mendengar sekalipun Nina melolong.. Saya yang terus-terusan mengeluh, mungkin sudah belasan kali. Sudah coba ditahan loh, malu juga kalau setiap kali saya melolong Auuuugh.. Auuuugh terus-terusan. Kalau terang bulan mungkin masih masuk akal, warewolf jadi-jadiannya kumat. Ini sudah lewat, cuma bulan sabit hahaha.. Untungnya Nina sama sekali tidak sadar bahwa saya terus-menerus melolong: Auuuuugh!!! Hahaha..