Sejak kecil saya sangat terpesona dengan segala bentuk petualangan. Karena saya lahir di keluarga yang sangat pas-pasan, segala bentuk petualangan yang melibatkan perjalanan jauh tentunya diluar jangkauan. Saya memuaskan keterpesonaan saya dengan membaca buku dan juga berimajinasi. Urusan menghayal, berimajinasi, melamun yang wah dan seru sejak kecil saya jago sekali, ya karena keterbatasan itu. Saya jarang pergi piknik dengan teman-teman. Jika ada acara sekolah pergi naik gunung atau ke luar kota, saya hanya bisa menyaksikan dari jauh. Sedih? tentu saja, tapi tidak menghalangi saya untuk menikmati "perjalanan" saya sendiri dengan berimajinasi.
Hingga dewasa saya masih senang berimajinasi, walau tentu saja sebagai orang dewasa kita menjalani kehidupan yang sangat sibuk. Tapi tidak pernah ada ruginya tetap bermain dengan imajinasi. Apalagi sekarang sudah banyak media yang dapat mendukung dan memuaskan imajinasi. Bisa menyaksikan tanpa perlu mengarang seperti jaman kecil. Buka youtube bisa melihat semua tempat di seluruh dunia, mau membaca, silakan cari. Bisa beli buku di toko atau mencari pdf-nya di internet. Semua tersedia dan hampir tidak terbatas. Jaman dahulu saya harus menabung dan meminjam buku di taman bacaan, saya ingat juga menabung sekian lama untuk membeli komik mahabarata! Lebih memilih menabung untuk beli buku daripada menghabiskan uang jajan untuk beli coklat cap jago! hahaha..
Sebagai orang dewasa yang sibuk "hidup" tentunya banyak kehilangan kesempatan berimajinasi. Kadang saya berpikir jika sejak dulu saya menulis dan mengumpulkan semua hasil imajinasi yang saya lakukan, tentunya akan sangat kaya hidup ini. Untungnya Kemudian ada yang namanya kamera! Sesudah mampu memiliki kamera, petualangan bisa mulai diabadikan. Sayangnya saya sangat belet kalau urusan mengabadikan momen-momen penting dalam bentuk foto.
Sungguh, saya tidak pernah puas dengan hasil yang dibuat oleh kamera. Kemungkinan besar bukan salah kameranya, tapi karena saya memang sama sekali tidak punya bakat dalam fotografi. Saya cuma bisa menggunakan kamera snapshot, tinggal cekrek, lalu bisa dilihat hasilnya. Apakah sesuai dengan keinginan? Ya jelas tidak! Saya juga tidak mampu melihat sudut yang baik dalam mengambil gambar, komposisi, mengatur balance agar tidak over atau under exposure, itu bagi saya bagaikan seorang anak TK disuruh memecahkan soal fisika! Pokoknya saya tidak punya harapan dalam urusan fotografi. Bakat saya cuma jadi penggembira, oleh sebab itu sejak puluhan tahun lalu saya tugasnya hanya menggendong ransel yang penuh dengan perlengkapan fotografi. Ya, saya jadi semacam caddy, istri saya yang hobby fotografi.
Menjadi tukang gendong itu tidak selalu menyenangkan apalagi dulu yang namanya tripod itu beratnya berkilo-kilo terbuat dari aluminum, belum lagi kalau tripod head merk manfrotto, berat! Kalau sekarang sih enak, ringan terbuat dari semacam aloy apa gitu... mbuh! Saya tidak paham! Hahaha dan jangan salah orang yang hobby fotografi itu perlengkapannya berjibun. Kamera selalu lebih dari 1, karena 1 pakai kamera dengan wide angle fixed lens, yang lain pakai tele dan sebagainya. Kenapa harus pakai kamera berbeda? Katanya sih agar tidak kehilangan momen, kalau kamera cuma 1 harus ganti lensa, momennya keburu lewat! Masuk akal sih, karena ganti lensa apalagi di tempat terbuka selain makan waktu juga lumayan riskan, bisa kemasukan debu dan lain-lain. Disamping itu, di dalam ransel ada beberapa lensa cadangan berbagai ukuran, ada yang fix, tele dll.
Sekarang lebih mudah lagi karena semuanya serba digital. Dulu sebelum ada yang namanya digital camera, hobby fotografi itu sangat mahal. Cuci cetak film sangat mahal, setiap liburan minimal saya menghabiskan sekitar 20 hingga 30 roll, bayangkan berapa harus dikeluarkan untuk memproses foto-foto itu. Sekarang semua bisa disimpan dalam bentuk file dan bisa dilihat di layar monitor dengan ukuran jauh lebih besar daripada seukuran kartu pos jaman dulu.
Karena saya belet dalam fotografi, saya lebih memilih menulis. Kenapa saya menulis? Karena saya ingin mengabadikan banyak hal. Itu alasan utama mengapa saya menulis. Banyak yang mengatakan bahwa menulis itu susah lebih mudah mengabadikan sesuatu dengan kamera. Itu betul juga! Gambar yang ditangkap oleh kamera bisa mengungkapkan lebih dari seribu kata! Entah siapa yang berkata demikian, tapi buat saya, kamera bukan alat yang tepat karena setiap kali saya menggunakan kamera, hasilnya mengecewakan dan tidak pernah tepat seperti yang saya lihat.
Tapi jangan salah ada banyak hal juga yang sulit diabadikan dengan kamera, apalagi jika belet seperti saya. Peristiwa lucu misalnya, akan lebih mudah bagi saya menceritakannya dengan tulisan daripada foto. Dan contoh lain, saya tidak bisa hanya menaruh 1 atau 2 foto di Atomic Essay Smipa. It doesn't work that way! Saya harus menulis! Hahahahaha, jadi seperti saya katakan tadi, menulis buat saya lebih cocok daripada foto!!!***