Sekitar tahun 2010, saya sering diminta berbagi tentang menulis (membuat tulisan) di organisasi. Bukan, bukan karena tulisan saya bagus, inspiratif, atau apa. Alasannya sangat sederhana, karena saat itu profesi saya adalah seorang wartawan, tidak lebih.
Di momen itu saya ingat sering sekali menyampaikan kutipan ini, "apa yang kau alami hari ini, akan menjadi sejarah. Dan kamu, sedang menuliskan sejarah tersebut." Tujuannya, tentu untuk memotivasi peserta (seringnya adalah adik-adik angkatan saya) untuk mau mulai menulis.
Di kisaran 2010-2012 saya juga 'terkondisikan' untuk rutin menulis. Kehidupan baru yang saya masuki bersama masyarakat Kp.Arguni, Fakfak, seperti menjadi hal penting untuk orang lain ketahui. Karena kehidupan dan cara pandang mereka ternyata tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. Terutama tentang cara pandang mereka tentang pendidikan.
Dan saya baru menyadari, bahwa saat itu saya sedang membuat narasi tentang pendidikan di Papua Barat.
Di periode ini, semua tulisan yang saya buat selalu punya tujuan. Entah itu untuk saling berbagi kabar dengan Pengajar Muda yang sedang bertugas di daerah lain, mendatangkan sumbangan buku, dan sebagainya. Intinya, untuk mencuri perhatian. Di periode ini juga untuk pertama kalinya saya menyengaja ikut lomba menulis, dan tak disangka, mendapat apresiasi masuk dalam 3 besar.
Sepulang dari Papua, saya kembali terkondisikan menulis. Kali ini, untuk menuturkan kembali kisah perjuangan para petualang 7 puncak tertinggi di dunia. Menuliskan kisah mereka dalam sebuah buku perjalanan.
------
Sejak kapan saya suka menulis?
Sejak kelas 6 SD. Seperti pra remaja pada umumnya, saya memulainya dengan buku harian (iya, yang pakai gembok kunci 😁) Sebelum pandemi, saat saya pulang ke Jember, saya sempat menemukan buku-buku harian ini. Dan terkekeh sendiri membacanya. Ada yang curhat, ada yang nulis lirik lagu, ada yang berpuisi, ada juga yang dalam bentuk cerpen.
Ya, saya ingat, tugas menulis di periode SMP dan SMA ini bagi saya adalah tugas yang menyenangkan dan tidak pernah dikeluhkan. Kesenangan menulis ini kemudian tersalurkan di periode kuliah, dengan menjadi staff hingga pimred buletin jurusan.
-------
Bernostalgia dengan menulis, ia adalah hal yang saya gemari sejak dulu, sebenarnya. Tapi, sejak tidak terkondisikan harus, saya jadi jarang menulis. Pernah mencoba membuat platform blog, tapi lebih sering membuat draft ketimbang publishnya.
Ada dialog dalam pikiran yang menahan, sesuatu seperti "nanti dikira pamer" , "ini terlalu sepele ga ya untuk ditulis?" , "kayanya kalau lihat tulisan orang lain itu keren2, pakai sumber2 terpercaya juga. Lha tulisanku?" dan pikiran2 serupa seperti itu.
Alhasil, tulisan tersimpan kembali menjadi draft.
Adapula soal waktu, yang juga kerap jadi kambing hitam untuk semua masalah 😅.
Tapi sebenarnya, saya merasa butuh dorongan kuat, strong why, yang mampu mengondisikan, memaksa saya untuk kembali mulai menulis. Cuek dan menshut down semua suara di kepala saat akan mengeklik tombol publish.
Dan di hari Sabtu 2 pekan lalu, saya menemukannya.
"Menulis sebagai warisan untuk anak-anak. Agar mereka tahu apa yang selama inj jadi pemikiran, jadj pengalaman, dan jadi pemaknaan orangtuanya," kata Kak Andy.
Dan bagi saya, itu cukup kuat menjadi alasan untuk memaksa diri kembali menulis - secara rutin. Semoga sekarang, tidak ada lagi alasan. 🤭
Terima kasih Kak Andy, untuk inspirasinya. 🙏😊
Waah senangnya. Semoga bermakna ka MJ. Mari bersama-sama... 🙏😇