Ketika kita merasakan ketiadaan, seketika itu juga kita meng-ada-kannya. Dengan kata lain, kita memahami atau memaknai atau mengindera ketiadaan dengan cara mengadakannya. Yang tidak ada ini kita gambarkan sebagai satu yang ada.
Kemudian, satu yang ada ini pun perlu diindera atau dipahami atau dimaknai dengan mengadakannya atau afirmasi dan meniadakannya atau negasi. Sehingga ada dua hal yang bertolak belakang untuk menggambarkan yang satu ini.
Sampai sini, kira-kira penggambarannya adalah kita menggunakan satu keberadaan untuk mengambarkan pemahaman kita terhadap yang tidak ada ini. Lalu untuk menggambarkan satu keberadaan itu, kita menggunakan dua keadaan yang berlawanan.
Lanjuuut...
Untuk masing-masing keadaan itu, kita pahami lagi dengan afirmasi dan negasi. Katakanlah dua keadaan yang berlawanan tersebut adalah positif dan negatif. Kita memahami yang positif dengan pendekatan yang sama sehingga ada yang positif positif dan positif negatif. Juga pada keadaan negatif, ada yang negatif positif dan negatif negatif.
Kalau diteruskan, ini seakan tidak ada hentinya. Padahal yang terjadi adalah pengulangan, sehingga kita hanya perlu menemukan titik henti yang valid untuk pengulangan sampai tahap tertentu. Ini jelas ada batasnya, yang bisa dilampaui dengan pendekatan fractal.
Hanya sekarang gak perlu sampai fractal, sampai di batas fundamental untuk pengulangan mendasar saja. Yaitu, untuk masing-masing positif positif, positif negatif, negatif positif, dan negatif negatif. Pemahaman dilakukan dengan pendekatan positif atau afirmatif dan negatif atau negasi juga.
Jadinya, adalah sebagai berikut. Eh sebentar, kayaknya perlu disederhanakan dengan simbol nih. Kita pakai angka 1 untuk yang positif atau afirmasi atau yang ada. Kita pakai 0 untuk yang negatif atau negasi atau yang tidak ada. Jadinya, adalah sebagai berikut.
111
110
101
100
011
010
001
000
☰
☱
☲
☳
☴
☵
☶
☷