Seringkali aku menelungkupkan badan di atas matras. Bukan saat bergerak sebagai bagian menuju formasi tertentu tapi di awal atau akhir yoga pada waktu diam. Telungkup dan hanya bernapas dengan dahi menempel alas dan hidung yang sedikit tergencet. Pertama kali melakukan hal semacam itu di satu pelatihan yoga terapi oleh Vincent Bolleta yang mengajarkannya sebagai salah satu cara terapi. Bernapas dengan posisi telungkup akan membuat badan keluar dari kebiasaannya. Kebiasaan bernapas dengan sisi depan dan atas paru-paru memang hal yang lazim terjadi karena postur dan pola aktifitas sehari-hari yang mengkondisikan kemudahan untuk itu.
Saat telungkup, sisi depan paru-paru yang terbiasa mengembang dan lebih dulu mengambil peran sebagai pompa menjadi terhambat, akibatnya pastilah ketidaknyamanan. Begitulah prinsip utama terapi dan penyembuhan, keluar dari pola kebiasaan. Ayurveda pun menggunakannya sebagai prinsip utama lewat kalimat prinsipnya like increases like, the opposite balance. Seperti juga sama halnya dengan Yin Yang, yang menjelaskan kekontrasan sebagai penyeimbang sekaligus pelengkap dan harmonisasi datang dari kedua elemen kontras itu.
Dalam ketidaknyamanan dalam posisi telungkup itu tadi, tubuh seolah dipaksa mencari jalan lain untuk bernapas. Pertama-tama tubuh akan bernapas lebih halus dari biasanya, napas akan lebih tipis atau sedikit dan perlahan. Dorongan yang paling terasa saat itu adalah keluar dari pose itu, entah itu dengan memiringkan kepala atau menjauh dari alas. Tapi jika melakukannya dengan kesadaran untuk melatih tubuh tentu harus tahu juga apa yang harus dilakukan untuk membantu tubuh bernapas di posisi ini.
Pertama-tama, ketahui bahwa paru-paru bisa mengembang ke segala arah. Bayangkan sebuah bola yang bisa terekspansi ke semua sisinya. Dari situ mulai dengan intensi untuk bernapas ke arah punggung dan mengarahkan napas ke panggul, bernapas ke arah belakang dan bawah, berlawanan dari kebiasaan yang ke depan dan ke atas.
Bernapas ke arah punggung caranya sama dengan mengembangkan dada saat bernapas dalam posisi tegak. Usahakan tarikan napas yang mendorong ke punggung dari dalam. Rasanya akan seperti membuat punggung berpunuk, dan saat tarikan napas terjadi, perut pun akam sedikit tersedot masuk ke dalam di titik ulu hati. Volume napas saat pertama kali melakukan ini biasanya juga sangat kecil, karena otot di antara tulang rusuk sisi belakang yang belum terbiasa menarik paru-paru untuk mengembang ke arahnya. Jika dilatih terus menerus, pernapasan punggung ini akan sekaligus melatih otot bagian punggung menjadi lebih aktif sehingga tubuh dapat lebih seimbang saat posisi tegak.
Hembusan napas yang terjadi saat tubuh terbiasa bernapas ke punggung akan memberi efek yang mengarah ke bawah. Seolah menarik seluruh ruang dada untuk turun ke arah perut oleh dorongan balik otot diafragma dan tambahan aktivasi otot perut. Otot perut yang dimaksud di sini adalah otot samping yang akan memberi sensasi seperti memakai korset, bagian perut akan seperti terbungkus dari arah punggung bawah ke samping dan menerus ke depan seolah tersedot oleh gaya otot diafragma yang kembali ke posisi netralnya.
Saat ini terjadi, ada sensasi memanjang yang dirasakan pada leher, sehingga seolah jarak antara telinga dan bahu menjauh, dan juga pada pinggang yang seolah menjauhkan jarak antar tulang rusuk dan tulang panggul. Efek melegakan juga akan didapat dari melonggarnya ruang antara tulang sakrum atau kelangkang terhadap tulang panggul yang berbentuk kupu-kupu itu.
Sebetulnya tidak hanya akan terhenti di sana, satu perubahan yang terjadi akan memberi pengaruh secara sambung menyambung dan berlanjut karena pada dasarnya tubuh selalu terhubung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Namun satu hal yang dapat segera terjadi saat tubuh telungkup dan bernapas punggung adalah aktifnya saraf parasimpatik yang berada di tulang kranial dan ruas-ruas tulang sakrum.
Aktifnya saraf parasimpatik akan membawa tubuh dalam mode istirahat dan mencerna. Mengatur tubuh untuk memproduksi saliva yang membuat pencernaan lebih baik, memproduksi air mata yang melubrikasi sekaligus menjaga jaringan mata yang sangat halus, menyempitkan pupil mata, melambatkan detak jantung, melambatkan pernapasan yang akan meningkatkan penyerapan oksigen oleh darah, mengkontraksi kandung kemih untuk proses buang air kecil juga melancarkan pergerakan makanan dalam saluran usus sehingga melancarkan proses buang air besar, intinya : membantu tubuh untuk berfungsi baik.
Wow.. tq Yuli 🙏🏼 mau coba.. untuk waktunya, sesuai bacaan badan ya?
Sama-sama ☺, boleh banget dicoba, ikutin badan gpp, take it slow. Vincent sih ngajarinnya 3 mnt, kalau sy sendiri ga selalu selama itu, kadang badannya mau lama kadang sebentar. Boleh juga di awal mencoba dengan menaruh telapak tangan bertumpuk di bawah dahi dulu, ini lebih nyaman dibanding langsung 😊 Selamat mencoba kak Ine
👍🏼🙏🏼 thank you Yuli.. ☺️