AES#104 Kelas 10 KPB
Natasha Setyamukti
Friday January 21 2022, 10:33 AM
AES#104 Kelas 10 KPB

KPB merupakan sekolah setara SMA, yang awalnya aku sendiri cukup bimbang untuk memasukinya. Disatu sisi ada keinginan untuk eksplorasi luar Semi Palar, tapi di satu sisi aku juga suka berproyek, dimana aku lihat KPB memfasilitasi hal tersebut. Perjalanan yang panjang, akhirnya aku menjatuhkan masa SMAku di KPB, Kelompok Petualang Belajar. 

Kelas 10, menjadi tahapan yang sangat menarik untukku, aku belajar bagaimana berkegiatan bersama komunitas, membuat proyek dengan tahapan yang lebih kompleks pastinya dibandingkan saat SMP, mempresentasikan semua progress yang dilakukan dengan lebih sering dan banyak hal baru lainnya yang aku alami. Walaupun hanya menjalani 1,5 semester berkegiatan offline, tapi sepertinya ada beberapa hal yang menempel di diriku, mengenai serunya berkegiatan bersama komunitas atau pihak luar, dan membuat proyek berdasarkan masalah sekitar dan menyambungkannya dengan minat. 

Proyek di kelas 10 sendiri, sebetulnya kurang sesuai dengan minatku, yaitu membahas mengenai sampah, sampai akhirnya memutuskan membuat proyek maggot (yang akhirnya belum sempat terselesaikan karena pandemi).  Cukup sulit untukku bisa beradaptasi, sampai akhirnya mencoba meminatinya dan menyukai proyek yang akan aku lakukan selama kelas 10 itu. Aku berusaha mencari bagian dimana aku akan menyukai proyek tersebut, misalnya saat berkegiatan membuat boardgame mengenai sampah, mungkin konten pengolahan sampahnya kurang aku sukai, tapi berkomunitas dan belajar bagaimana menyusun sebuah games dan berdiskusi, merupakan salah satu tahapan yang aku sukai dari membuat proyek ini. Walaupun nantinya aku tetap harus bisa mengerti dan menjelaskan mengenai pengolahan sampah, tapi setidaknya aku sudah menemukan 1 langkah kecil untuk mulai menyukai proyek ini. Dan hal itu cukup membantuku untuk lebih antusias ketika akan berkegiatan kembali yang membahas mengenai sampah dan berkebun. 

Kelas 10, memang tidak kami selesaikan full offline, karena ditengah semester 2 ternyata pandemi melanda yang mengharuskan kami berkegiatan dari rumah. Awal pandemi, semuanya terasa membingungkan, semua proyek yang kami kerjakan harus terhenti, termasuk satu-satunya proyek yang aku sukai saat itu yaitu mengajar anak-anak di Dago. Jatuh cinta pada proyek ini, memang tidak mudah awalnya, karena materi yang harus aku ajarkan adalah materi yang tidak pernah aku sukai selama aku bersekolah, yaitu matematika. Sulit rasanya bisa mengajarkan sebuah materi, dimana kita sendiri tidak mengerti dan menyukai hal itu. bagaimana bisa membuat seseorang mengerti dan jatuh cinta dengan hal itu? 

Melewati berbagai proses, akhirnya kami mulai mengajar anak-anak di Dago dan disinilah saat dimana aku merasa benar-benar MENYUKAI sebuah proyek. Begini rasanya menyukai sebuah proyek yaa… rasanya tidak ingin menyelesaikan hari itu, agar bisa terus berproyek dan bertemu dengan anak-anak yang akan aku ajarkan….