Waktu menunjuk pukul 1.00 siang, ketika kami tiba di rumah. Rasa syukur dan kelegaan meliputi kami seiring berakhirnya seluruh rangkaian acara yang terlewati dan kelancarannya.
Dua hari lalu, minggu pagi kami diawali oleh dering telepon yang berkabar tentang meninggalnya seorang warga di lingkungan kami malam itu. Berita itu segera membuat kami bergegas dan bersiap untuk mendatangi rumahnya karena terbayang oleh kami kekalutan anak-anak yang baru saja kehilangan mamanya ini. Mereka yang sendirian karena papanya pun telah tiada beberapa tahun sebelumnya.
Sebagai warga satu komplek, kami telah saling mengenal sejak lama. Anak-anak kami pun sejak kecil sering bermain bersama meski berbeda usia. Maka ketika kabar kedukaan ini kami sampaikan ke Milo, ia pun kaget dan langsung menanyakan temannya itu, 'Koko Michael gimana ma?, kan dia masih magang di Bali?, rencananya mau gimana? Kapan kita mau ke sana? ' dan sederetan tanya jawab lain pun bergulir seputar situasi yang ada dan apa yang hendak kami lakukan. Ia pun seolah mengerti rasanya berada dalam posisi temannya itu, dan mengatakan, 'Aku ikut ya, pokoknya aku ikut semua acaranya'. Kalimat yang terucap itu tentu kami sambut dengan suka cita, syukur kepada Allah, karena tanpa diminta, ia mau terlibat.
Sore harinya ia bergegas mandi dan bersiap sendiri tanpa perlu diingatkan lagi. Pukul 6.00 petang kami berangkat dalam satu mobil bersama 3 orang warga lain. Kebetulan sedang dalam masa liburan maka tak banyak yang bisa bergabung di acara Doa Rosario malam itu.
Setibanya di rumah duka, seusai berdoa ia mendapati temannya itu lalu bercakap-cakap. Kami yang segera sibuk berbagi tugas pun tak lagi memperhatikannya. Ia hanya mengatakan, 'Ma aku ikut doa tapi ga usah ikut giliran ngomong ya'.
Malam itu memang bukan kali pertamanya hadir di rumah duka, melihat jenazah seseorang yang dikenalnya terbaring di dalam peti mati, atau berada dalam kenyataan bahwa seorang temannya berduka karena kehilangan, namun malam itu ketika semuanya teralami secara utuh bersamaan, maka ia terlihat hadir penuh merasakan makna kedukaan hingga ikut terlibat dan berbuat sesuatu untuk orang lain dalam kesadaran berdoa.
Suasana doa malam itu pun terasa spesial, karena kami yang berdoa tanpa bantuan pengeras suara harus berupaya tetap terdengar diantara seruan takbir, letusan petasan dan suara-suara lain dari ruangan sebelah. Sebuah momen langka yang bisa membuat kami tertawa saat menceritakannya kembali di mobil selama perjalanan pulang.
Malam selanjutnya kami berangkat lebih awal untuk berbagai persiapan sebelum Misa. Diiringi hujan deras, obrolan kami di mobil pun tetap seru seperti malam sebelumnya dan membuat 25 menit perjalanan terasa singkat.
Setibanya di rumah duka, kami segera kembali berbagi tugas. Kali ini dengan bantuan pengeras suara, acara bergulir lancar satu demi satu, mulai dari mempersiapkan meja kursi hingga acara terakhir penutupan peti. Terasa indahnya kebersamaan dan eratnya persaudaraan dalam semangat saling melayani, satu suasana yang bisa dilihat, diamati dan dirasakan secara langsung oleh Milo dan jadi pembelajaran tersendiri untuknya.
Some things cannot be taught; they must be experienced. You never learn the most valuable lessons in life until you go through your own journey.
Malam yang panjang itu berakhir ketika kami sampai di rumah pukul 9.00 malam dengan kesepakatan kembali berangkat pukul 7.45 esok harinya.
Pagi ini pun terasa singkat oleh kesibukan, mulai dari persiapan bahan ibadat sampai bekal perjalanan. Tanpa kemacetan, jalan yang masih lengang membuat kami segera tiba kembali di rumah duka untuk ibadat pelepasan jenazah. Sama seperti dua hari sebelumnya, acara berlangsung khidmat dan doa-doa kembali terlambung dalam rangkaian kata serta nyanyian oleh kami semua yang hadir di sana.
Lewat prosesi singkat, peti jenazah berpindah ke dalam mobil ambulans, lalu kami semua mengantarnya dalam dua buah bus yang melaju beriringan menuju Cikadut.
Tepat sesuai dugaan Pastur Yaya pada malam sebelumnya, Cikadut di hari kedua lebaran ini penuh oleh peziarah. Untunglah kami mengikuti saran beliau untuk berangkat bersama-sama dalam bus agar tiba bersama-sama pula di lokasi, sehingga prosesi akhir bisa diadakan dengan lancar tanpa kendala kemacetan.
Bunga-bunga kembali ditata di depan peti jenazah dan meja bertaplak putih dengan salib dan nyala api lilin di atasnya. Suasana khidmat kembali hadir dalam ruangan kosong yang salah satu dindingnya berjejer pintu-pintu ruang pembakaran. Nyanyian sendu mengiringi acara tabur bunga sebagai bentuk penghormatan terakhir kami untuk almarhumah. 'Tuhan berikanlah istirahat, abadi dan tenang bagi yang wafat. Beri pengampunan segala dosanya, kar'na Maha Murah hatimu Allah'
Isak tangis pun tak terbendung lagi ketika peti mulai didorong maju ke arah pintu yang terbuka dengan iringan doa Salam Maria yang terus terucap hingga pintu itu kembali tertutup. Suasana kembali hening saat Michael menghampiri panel di samping pintu, ia tertunduk beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol berwarna merah untuk menyalakan api.
Selamat jalan...
It is the hardest time that teach us the most valuable lessons in life.
Aduh... turut bela sungkawa...
Iya kematian adalah lingkaran lengkap kehidupan. Kematian ini yang mestinya mendorong kita untuk membuat setiap momen kehidupan jadi bermakna... 🙏
Terima kasih kak Andy 😊🙏🏼 dualitas memang media belajarnya manusia ya. Satu kutub adalah penyeimbang kutub lainnya.
🙏🏼 semoga beliau beristirahat dalam damai