AES525 Belajar yang Tidak Utuh
Andy Sutioso
Friday May 26 2023, 1:30 AM
AES525 Belajar yang Tidak Utuh

Tulisan ini berangkat dari obrolan dengan @amelia-wiryoatmojo di depan ruang CoOp. Waktunya ya di akhir-akhir semester ini - seingat saya di Minggu Babarengan.

Awalnya obrolan ini berkisar tentang pemahaman konsep di keluarga besar Semi Palar. Yang sering jadi bahasan juga terutama di rekan-rekan orangtua baru. Mengenai hal ini, saya pikir ini sangat bisa dipahami. Dua tahun pandemi - konsekuensinya adalah dua angkatan keluarga besar Semi Palar yang pemahaman tentang konsepnya - proses belajarnya terkendala situasi pandemi. Banyak sekali kegiatan-kegiatan di Semi Palar yang membantu memahamkan orangtua tentang konsep Pendidikan Holistik - yang perlu diselaraskan di rumah - yang tidak bisa terlaksana karena situasi pandemi. Hitungan sebetulnya kan bukan hanya 2 tahun. Angkatan yang baru bergabung sebelum pandemi juga bisa dibilang sebagai angkatan yang baru bergabung. Ditambah angkatan yang bergabung di TP18 ini - setelah pandemi bisa dikatakan berakhir. Jadi kasarnya boleh dibilang ada 4 tahun keluarga baru Semi Palar yang belum mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang cukup tentang pembelajaran holistik di Semi Palar. 

Dari situ obrolan bergeser ke tentang bagaimana anak-anak belajar di Semi Palar. Saya lupa persisnya bagaimana - tapi saya ingat satu hal yang ceritakan dan jadi judul tulisan ini : Belajar yang Tidak Utuh. Saya sedang berusaha memberikan gambaran perbedaan bagaimana dulu kita belajar di sekolah konvensional - dengan apa yang kita coba fasilitasikan ke teman-teman yang belajar di Semi Palar - yang mudah-mudahan lebih holistik. 

Contoh yang saya pakai adalah tentang bagaimana kita dulu belajar tentang sistem pernafasan. Di pelajaran Ilmu Alam atau spesifiknya Biologi kita belajar bagaimana paru-paru memompa udara keluar masuk badan kita untuk pertukaran Oksigen dan Karbon dioksida kemudian terkait dengan sistem peredaran darah yang sirkulasinya digerakkan oleh jantung kita. Kita belajar tentang itu. Tapi berhenti - terputus di situ. 

Guru tidak pernah menjelaskan lebih jauh apa yang terjadi dengan karbondioksida yang dihembuskan oleh manusia. Bagaimana tanaman dan tetumbuhan yang menangkap karbondioksida - lalu lewat fotosintesis kemudian menghasilkan oksigen yang kemudian dihirup oleh makhluk hidup lain termasuk manusia... 

Ini yang saya maksudkan dengan belajar yang tidak utuh, sepotong-sepotong... Tidak heran kalau pemahaman kita juga jadinya tidak utuh. Kalau kita paham bahwa separuh perangkat nafas kita ada di luar tubuh kita - dalam bentuk tanaman dan tetumbuhan, tentunya kita akan berpikir berulang kali sebelum kita menebang pohon. Besar sekali dampaknya. Karena kita hidup dalam sebuah sistem besar yang saling terkoneksi dan saling mempengaruhi. 

Naah nyambung lagi kan sama quotesnya John Dewey. Karena saat kita belajar tidak berpijak di atas kehidupan, sebatas hanya mengikuti kurikulum yang disusun di dalam buku-buku, jadilah cerita seperti di atas ini, belajar yang tidak utuh. Karenanya belajar memang betul-betul harus nyambung dengan kehidupan yang ada - dinamika yang luar biasa dan penuh dengan keajaiban. 

Photo by Mariana Kurnyk: https://www.pexels.com/photo/baked-bread-1756061/