AES 279 Adventurous Life
joefelus
Saturday February 26 2022, 3:56 AM
AES 279 Adventurous Life

Banyak orang berkata bahwa hidup yang penuh petualangan adalah dengan melakukan sesuatu yang berbahaya, yang jauh lebih sulit dari semua kegiatan sehari-hari. Ada juga yang berkata bahwa orang yang senang berpetualang artinya orang yang menyukai hidup yang penuh risiko, menjalani hidup yang penuh dengan excitement. Nah di bagian ini saya mulai tertarik. Saya bukan orang yang senang mengambil risiko. Well, bukan sepenuhnya begitu, risiko yang saya ambil biasanya yang masih ada dalam batas jangkauan, yang masih bisa saya tangani, bukan seperti orang yang bertaruh habis-habisan hingga jika tidak berhasil akan mengancam keselamatan atau menghancurkan. Tidak! Saya hanya sebatas seru-seruan agar hidup jauh lebih menarik, tidak monoton dan penuh warna! Saya tidak pernah berusaha untuk mempertaruhkan hidup hingga dalam kondisi berbahaya hanya sekedar memperoleh kepuasan. Pertaruhan dalam hidup yang saya ambil selalu dalam perhitungan yang seakurat mungkin, yang jika gagal masih bisa saya tanggulangi. Saya bukan orang yang semata-mata bertarung dengan adrenalin yang tinggi. Adrenalin bisa meningkatkan excitement dalam hidup, mewarnai hidup, kepuasan hidup, tapi harus dalam tingkatan yang wajar. Itu Saya!

Memejamkan mata ketika berdiri di puncak sebuah gunung yang berbatasan dengan samudra pasifik yang biru menikmati hembusan angin dan kesunyian memberikan sensasi yang luar biasa, demikian juga berjalan di atas sebuah danau yang beku sambil merasakan silaunya pantulan cahaya matahari terhadap bongkahan-bongkahan es, atau menempelkan wajah di jendela kaca ketika duduk di dalam sebuah kapal selam beberapa puluh meter di bawah permukaan laut. Semuanya memberikan sensasi yang seru. Ini buat saya adalah salah satu bentuk petualangan yang seru tapi aman, tidak membahayakan. Yang saya harus lawan hanyalah rasa takut karena saya bukan orang yang tegar ketika berada di ketinggian.

Ya, saya takut ketinggian. Bahkan dalam sebuah workshop saya dipanggil oleh seorang penyelenggaranya secara khusus untuk "disembuhkan" dari kegamangan saya ketika berada di ketinggian. Bayangkan betapa ketakutannya saya ketika berada sekian ratus meter dia atas permukaan tanah ketika berada di "hampir" di puncak salah satu gedung yang pernah dianggap sebagai gedung tertinggi di dunia. Gedung itu sudah jadi kenangan karena dihancurkan oleh teroris dengan menabrakkan 2 buah pesawat terbang komersial Tanggal 11 september tahun 2001! Atau saya butuh dorongan semangat 2 orang sahabat saya ketika berusaha mengalahkan rasa takut ketika mendaki tangga berputar menuju mahkota patung Liberty. Ini menjadi salah satu kenangan akan petualangan saya.

Berada di puncak gunung? di Haleakala di pulau Maui bisa menjadi kenangan tersendiri. Harus berangkat lewat tengah malam hanya sekedar mengejar waktu agar berada di puncak gunung yang tingginya mencapai sedikit di atas 3000 mdpl itu pada saat matahari terbit! Pernah membayangkan indahnya melihat matahari terbit ketika kita berada lebih tinggi dari awan? Ini bisa jadi pengalaman religius jika kita memang orang yang punya keyakinan yang sangat kuat terhadap yang Ilahi. Kenapa demikian? Sebab keindahan yang disajikan oleh alam bisa melebihi jutaan kata-kata untuk menggambarkannya. Di sini menjadi momen spiritual bahwa manusia hanyalah sebutir debu dan kekuasaan yang Ilahi berada begitu luar biasa! Atau berada di puncak pegunungan lainnya, yang merupakan deretan pegunungan yang membentang dari New Mexico hingga Canada. Berada di puncak yang sangat luas diatas ketinggian 3500 mdpl dikelilingi lautan salju abadi karena begitu tinggi dan dingin. Saya merasa sangat amat kecil dan bukan siapa-siapa. Moment ini bisa menjadikan diri sendiri begitu rendah hati, humble, karena menjadi sama sekali tidak berdaya. Untuk apa meninggikan ego ketika merasa diri bukan apa-apa bukan siapa-siapa karena alam dan ciptaan yang berada di atas tingkatan luar biasa! Ya, manusia boleh sombong karena merasa menjadi mahluk yang jauh lebih mulia, lebih berakal budi dari mahluk lainnya, tapi begitu berada di atas perahu yang diombang-ambingkan di laut karena mesin harus dimatikan dan ketika ikan paus walaupun masih muda, belum dewasa lalu bermain dengan perahu, siapa yang tidak ngeri? ikan paus humpback muda itu besarnya beberapa kali manusia, dapat membalikkan perahu dan kita yang di atas perahu tidak berdaya. Laut dan air bukan domain kita, ikan paus jauh lebih berkuasa. Nah, ini juga memberikan kita pelajaran untuk lebih berendah hati. Pengalaman spiritual bisa terjadi di mana-mana, di atas gunung, di bawah air, di atas gedung bahkan di atas perahu. Kenapa tidak?

Buat saya petualangan yang mengancam keselamatan bukan lagi merupakan petualangan. Tidak seperti Charles Blondin yang menyeberangi Niagara Fall di atas seutas tambang di tahun 1859, atau seperti Stephen Peer yang juga mencoba menyebrangi air terjun yang sama tapi gagal dan berakhir dengan kehilangan nyawanya di tahun 1887. Menonton film dokumenter Philippe Petit ketika menyebrang diatas seutas tambang dari 1 tower gedung World Trade Center ke tower satunya di tahun 1949 saja saya harus menutup mata. Mengerikan! Dia malah tidur-tiduran di atas tambang, ketika ada petugas yang menyuruh turun malah dia kembali lagi ke gedung dimana dia mulai. Silakan cari film nya, judulnya The Walk, produksi tahun 2015.

Semua orang mempunyai petualangan masing-masing. Berpetualang dengan mencoba segala makanan baru saja sudah seru. Tidak perlu pergi keliling dunia untuk berpetualang. Membaca buku saja sudah seperti berpetualang. Itu yang selalu menghidupkan imajinasi saya sejak mulai bisa membaca. Dari mulai membaca cerita pendek di buku bahasa Indonesia ketika masih SD. Tahu tokoh yang bernama Sudin? hahaha... kalau tidak tahu artinya anda masih muda belia hahaha.. itu buku Bahasaku, buku paket bahasa Indonesia jaman saya kecil. Cerita-cerita pendek itu yang memulai saya berpetualang walau baru dalam bentuk imajinasi, lalu buku karangan Jules Verne, kemudian mulai meluas ke Moby Dick, Tom Sawyer, dan ratusan buku-buku lainnya yang membuat hidup saya semakin kaya dan selalu ingin berpetualang. Alhamdulillah saya diberi keberuntungan dan karunia yang besar untuk bisa menikmati sekelumit petualangan-petualangan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya alami.***

Foto: Joseph Gordon-Levvit memainkan peran sebagai Philipe Petit, tidur di atas tambang di antara 2 tower WTC (The Inquirer)