"Aku bisa menjelma apapun, namun tak ada jelma bisa menjadi aku."
Kalimat yang sangat kuat tertuang di sebuah klab menulis. Seorang teman merefleksikan tentang dirinya dengan puisi yang begitu magis. Penggalan di atas salah satu bagiannya. Refleksinya itu rasanya bisa diterapkan pada siapa saja, tak terkecuali aku. Begitu kalimat itu terlontar dari mulutnya, pikiranku langsung menyambut tanpa aba-aba. Mengajak diri sendiri mengarungi ruang hampa di dalam. Kemudian ada yang membahasakannya bahwa setiap kita adalah istimewa, ciptaan yang paling sempurna, dan julukan lain yang menegaskan bahwa aku (setiap kita) hanya ada satu. Entah itu sebuah keistimewaan, atau benih segala macam ego manusia.
"Jangan menyama-nyamakan yang beda, membeda-bedakan yang sama."
Di hari lain, terpikir penggalan kalimat di atas yang seingatku berasal dari Gus Dur. Pertanyaan kembali muncul, apakah itu menandakan keistimewaan atau benih dari ego manusia. Tak sulit mencari contoh dari kalimat di atas. Jangan menyama-nyamakan yang beda! Betapa senang kita menyeragamkan orang lain agar serupa dengan kita. Kalau tidak seperti kita, maka penghakiman baginya. Setidaknya akan dicap salah. Namun di sisi lain, kita juga senang membeda-bedakan yang sama. Bisa kita hitung berapa banyak perselisihan, sengketa, bahkan perang yang didasari membeda-bedakan yang sama.
Keduanya sama-sama penyempitan pemikiran, penguburan kemanusiaan, dan penghapusan nurani. Akibat yang amat berbahaya jika terjadi dan dibiarkan. Celakanya, itu sudah terjadi dan dibiarkan. Bahkan dianggap normal dan wajar. Di dunia pendidikan pun ada, dan banyak. Sesederhana menyeragamkan model rambut, warna sepatu, buku yang wajib dibeli, dan lain sebagainya. Dalam sekali duduk dan merenungkannya, pasti dapat kita temukan. Penyeragaman atau proses mengubah orang lain menjadi aku, telah dan terus terjadi. Sehari-hari dan setiap hari terjadi. Mari tengok yang terdekat. Lantas, apakah itu istimewa atau ego semata?