Kalau kesadaran diukur dari sudutnya, amatan bisa jadi dilakukan pada hal-hal kecil. Seperti pada penempatan diri atau barang yang dimiliki pada posisi dan sudut yang bagaimana, seperti parkir motor atau nyolokin carger hape. Atau sudut siku tangan saat mengambil dan meletakkan barang, bisa juga sudut bukaan telapak kaki saat berjalan.
Kalau soal sudut bukaan kaki, jari kelingking kaki yang kejeduk ujung lemari bisa jadi ukuran kecilnya kesadaran diri. Kalau soal colokin carger hape, bisa jadi ukuran kesadaran ruang. Kalau gitu, yang bisa jadi ukuran kesadaran tujuan itu apa ya? Hmmm... dari sudut pandang mata atau dari sudut kibasan rambut kali ya?
Kalau coba dikaitkan dengan kutipanĀ the way we do one thing is the way we do everything, rasanya jadi gampang-gampang-susah ya untuk mengukur kesadaran. Tentunya dengan batasan bahwa pengukuran ini sebagai bentuk peta antisipatif. Jadi, pemetaan ini sebagai acuan untuk bagaimana merespon perilaku orang lain berdasarkan besaran kesadarannya.
Kan beda ya, caranya merespon opini orang yang colokin cargeran hape ke arah luar yang memberikan ruang bagi perspektif lain. Dengan caranya merespon opini orang yang colokin cargeran hape ke arah dalam yang menghalangi persektif lain untuk ikutan ngecas hape. Begitupun dengan sudut parkir motornya.