AES538 Technology for Humanity
Andy Sutioso
Wednesday June 28 2023, 3:54 PM
AES538 Technology for Humanity

Belum lama ini saya menulis tentang AI (Intelegensi Buatan). Tulisan pertama saya ada di sini. Sejak itu banyak sekali konten dari berbagai pihak, pakar teknologi yang menyoroti bahaya AI. Para proponen AI tentunya tidak kalah heboh menggelorakan potensi dan kehebatan AI. Di dalam konteks ini, kita perlu selalu menyadari bahwa di sepanjang perjalanan peradaban manusia berbagai hal yang diciptakan manusia selalu punya dua sisi, ada kebaikan dan keburukannya. Dunia medis yang dikembangkan untuk menyelamatkan manusia juga demikian. Vaksinpun, sekarang Sementara perkembangan begitu cepat dan kita semua masih tergagap gagap memahaminya dan pihak-pihak yang berwenang perlu menyusun regulasinya. 

Mengerikan. Di bawah ini ada dua tokoh yang saya kira perlu didengar pendapatnya karena dua alasan. Pertama adalah  Mo Gawdat, mantan Business Director Google (X) yang salah satu pekerjaannya adalah mengembangkan AI. Sebagai Direktur, kedudukan Mo cukup tinggi, menempatkan beliau seorang pakar AI yang belum lama ini menulis buku yang berjudul Scary Smart. Saya baru saja mengunduhnya di Google Playbooks dan masih dalam proses membacanya. 

Pewawancara Mo dalam video di bawah ini adalah Peter Diamandis. Beliau adalah chairman (ketua) dari lembaga yang namanya Singularity University. Singularity adalah terminologi yang mendefinisikan proses ketergabungan (merging) antara manusia dan teknologi yang terus berkembang semakin cepat - catatan pentingnya, sampai pada titik di mana dampak lanjutannya bagi kehidupan manusia sudah tidak bisa lagi diprediksi lagi. Silakan digoogle aja untuk menelusuri lebih jauh. Salah satu tokoh yang memunculkan pemikiran ini adalah Ray Kurzweill. 

Chip Implant di mana komponen elektronik ditanam di dalam tubuh kita adalah salah satu contohnya. Menurut anak saya di Jerman hal ini sudah tersedia bagi konsumen yang berminat. Pemicunya adalah ketergantungan manusia terhadap teknologi seperti bagaimana saya menuliskan esai ini menggunakan hape adalah juga salah satu fenomenanya. Kita membeli suatu kebutuhan saya melalui platform belanja online contoh lainnya. Kita semua semakin tergantung pada teknologi. Singularity sedang terus berjalan dan akan semakin cepat, semakin dalam merasuk ke berbagai sendi kehidupan manusia. AI akan mengakselerasi segala sesuatunya - dan di sinilah kita perlu sangat waspada.  

Terkait AI, teknologi ini punya kekhasan tersendiri karena teknologi ini bukan hanya perangkat yang cerdas tapi merupakan kecerdasan yang bisa menciptakan kecerdasan yang baru lagi. Karenanya perkembangannya sangat cepat karena para penciptanya sudah bisa menciptakan program untuk menuliskan codes yang baru. Dan hal inilah yang mengerikan karena di suatu titik, teknologi yang ada ini bisa di luar kendali manusia. Karenanya judul wawancaranya adalah seperti yang kita liat di bawah ini adalah : We Built a Monster

Beberapa baris pengantarnya saya kutipkan di bawah ini. 

This book is a wake-up call. It is written for you and for me and for everyone who is uninformed about the approaching pandemic the imminent arrival of artificial intelligence This book will be criticized by the experts and that is the very reason I'm writing it Because to become an expert in artificial intelligence you need a specialized, narrow view of it

That specialized view of Al completely misses the existential aspects that go beyond the technology: issues of morality, ethics emotions, compassion and a whole suite of ideas that concern philosophers, spiritual seekers, humanitarians, environmentalists and, more broadly, the common human being (that is to say, each and every one of us) Besides, the core premise of this book is to show you that it is not the experts who have the capability to alleviate the threat facing humanity as a result of the emergence of superintelligence. No, it is you and I who have that power. More importantly, it is you and I who have that responsibility

Saya belum tuntas membaca bukunya Mo, baru di halaman-halaman awal, tapi pesannya menurut saya cukup jelas. AI hanyalah teknologi - tapi konten yang akan dibaca dan diolahnya menjadi berbagai pengetahuan baru - tetap berasal dari kita manusia. Sejauh ini diyakini AI tidak punya kesadaran. AI hanyalah piawai mengelola dan merangkai pengetahuan yang ada yang kita hasilkan - yang sejauh ini sudah sangat masif kuantitasnya, terrekam di berbagai repositori data di Internet. Dari situlah kecerdasan AI berasal. 

Di sisi lain kita tahu juga - setidaknya punya gambaran betapa konten yang ada di Internet ini sudah sangat beragam - mulai dari konten-konten sampah, receh, sampai ke berbagai hal terkait spiritualitas, moralitas, etika, kemanusiaan dan keTuhanan. Semua ada. Semua ini adalah bahan baku yang tersedia dan akan siap diolah oleh AI. 

Pada akhirnya, apa yang diolah oleh AI adalah cerminan dari kesadaran kolektif peradaban manusia hari ini dan di waktu-waktu ke depan. Kalau kesadaran manusia didominasi kebaikan AI juga akan banyak mengolah konten-konten kebaikan, karena itulah yang dominan ada di berbagai konten di Internet. Kemungkinan sebaliknya juga ada. Itulah yang perlu kita sadari bersama bagaimana kita menyumbangkan berbagai konten positif di jagad raya ini, lewat berbagai ruang interaksi digital yang ada di blog, di media sosial, pod cast, vlog dan lainnya. Kalau internet penuh dengan hal positif, AI akan lebih berpotensi membawakan kebaikan bagi kita semua. Mudah-mudahan. Salam. 

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
colek @ahkam yang menaruh harapan besar buat teknologi baru ini.