"Yang penting sehat, mas!" Kata salah seorang teman saya yang baru datang dari Indonesia untuk mengejar cita-citanya menggapai gelar doktor.
Itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Sekarang dia sudah kembali ke Indonesia. Memang benar, dia datang beberapa tahun sesudah kami, dan kembali juga lebih dahulu dari kami. Tidak apa-apa. Setiap orang mempunyai rencana masing-masing. Saya bahkan pernah punya teman yang betul-betul tiba di Amerika hanya untuk belajar, tidak ada kehidupan lain yang dia lakukan kecuali duduk di kamar membaca dan belajar, atau duduk di perpustakaan. Dunia dia seperti itu dan kurang dari 3 tahun dia sudah kembali ke tanah air sesudah memperoleh gelarnya. Hebat! Saya sangat salut dengan konsistensi serta determinasinya. Kenapa kami tidak begitu? Karena tentu saja setiap orang berbeda.
Ada juga teman yang sangat amat berhemat selama tinggal di rantau. Segala sesuatu dia perhitungkan dengan matang. Biaya hidup, transportasi, makan dan sebagainya dia hitung dan berhemat sebanyak-banyaknya. Tujuannya sederhana, agar ketika nanti dia selesai dan kembali ke tanah air, banyak dana tersisa untuk melakukan sesuatu yang sudah dia rencanakan.
Setiap orang memiliki rencana masing-masing. Nina, saya dan Kano juga demikian. Program study Nina itu sangat terbatas, seharusnya sudah selesai dalam waktu 5 tahun. Kano ketika pindah ke Fort Collins waktu itu, masih di semester ke-2 kelas 6. Dia memiliki waktu kurang dari 6 tahun untuk menyelesaikan pendidikannya hingga lulus SMA, kelas 12. Sesuatu yang kami sempat khawatirkan saat itu, sebab nanti akan menyulitkan dia untuk masuk ke universitas di Indonesia ketika kami pulang karena sistem pendidikan yang berbeda. Itu yang pertama. Yang kedua, bagimana dia menyelesaikan pendidikannya yang masih ada 6.5 tahun dalam 5 tahun? Itu asumsinya jika kami kembali ke tanah air sesudah tinggal di sini selama 5 tahun.
Mengingat waktu yang sangat terbatas itu, Kano harus bekerja keras. Untungnya sistem pendidikan di sini memugkinkan siswa untuk mengambil banyak kelas ekstra dan juga ada kesempatan setiap musim panas (yang merupakan waktu libur sekolah dan universitas) untuk tetap belajar. Itu Kano manfaatkan selama 5 tahun sehingga, waktu menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMA dapat dia pangkas dan Kano berhasil menyelesaikan SMA 1 tahun lebih awal. Waktu sekolah dia yang seharusnya 6.5 tahun dapat dia selesaikan dalam waktu 5 tahun. Nah, rencananya Nina juga harusnya selesai bersamaan dengan waktu itu. Lalu ada masalah kesehatan sehingga semuanya tertunda.
Untuk mengisi waktu, Kano mengambil kelas di universitas sambil iseng-iseng bekerja. Pertama dia bekerja di gerai Hamburger. Lalu ada kesempatan untuk bekerja di kampus sebagai pekerja paruh waktu hingga kemudian ada lowongan untuk menjadi pegawai negeri yang memungkinkan dia untuk bekerja sambil belajar di universitas tanpa harus membayar, itu yang kemudian dia lakukan. Karena kemudian dia sudah dapat dikatakan mapan, dengan penghasilan yang cukup dan dia juga bisa belajar di kampus, dan juga karena Kano lahir di Amerika yang secara otomatis dia menjadi warga negara Amerika, Kano memutuskan untuk tidak ikut pulang ke tanah air.
Rencana, walau dibuat sematang apapun memang kadang-kadang tidak selalu dapat dijalankan dengan sempurna. Pada prosesnya seringkali kita harus dapat secara fleksibel menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang kita hadapi. Tujuan memang sangat penting untuk dicanangkan sejak awal, tapi harap pula diingat bahwa proses untuk pencapaian tujuan itu juga sangat esensial, dan itu benar-benar kami alami dan kami hadapi dengan sebaik mungkin. Soal tertunda atau tidak dalam mencapai tujuan, tergantung pada medan yang harus kita hadapi. Dalam kasus kami ternyata memang banyak faktor yang harus dipertimbangkan sehingga pencapaian tujuan harus dimodifikasi.
Sekarang bagaimana rencana beberapa waktu mendatang? Nah ini juga sangat krusial apalagi kami bertiga sudah menapak di hampir ujung perjalanan. Tantangan yang besar menunggu dan memang butuh persiapan yang sangat rinci dan detail. Jika dilihat memang masih banyak waktu, tapi pada kenyataannya tidak demikian. Waktu tanpa kompromi terus bergerak, tidak ada kuasa apapun untuk menahan atau memperlambat. Kami harus betul-betul siap, dan rencana detail mulai disusun untuk menghadapi tantangan yang besar ini. Berbagai macam rasa yang bertumpuk dan berkecamuk, tapi saya tahu pada saatnya semua akan baik adanya.
Foto credit: medcitynews.com