AES 891 Non Judgmental Space
joefelus
Wednesday November 1 2023, 5:44 AM
AES 891 Non Judgmental Space

Entah teman-teman sependapat dengan saya atau tidak. Menurut saya dunia ini sedang sakit parah. Begitu banyak hal-hal negatif yang tersebar sementara begitu jarang, begitu sedikit hal-hal positif yang ditularkan di masyarakat. Terus terang, tidak jarang saya terharu hanya sekedar melihat orang-orang yang merasa tersentuh karena sebuah kebaikan kecil yang dilakukan orang lain, bahkan oleh mereka yang tidak dikenal. Seandainya saja hal-hal seperti ini semakin banyak, betapa indahnya dunia tempat kita tinggal ini.

Contoh sederhana, saya pernah melihat sebuah klip video, entah di mana. Ada seorang anak perempuan kecil yang duduk dimeja makan sebuah restoran cepat saji bersama ayahnya. Pada saat yang sama ada seorang ibu-ibu tua berdiri memandangi mereka. Anak perempuan itu berdiri, lalu menuntun ibu tua itu dan membantu dia duduk di meja sebelah mereka. Sesudah itu sang anak mengambil makanan yang tadi berada dihadapannya dan ditaruh didepan ibu tua itu. Sang ayah menyaksikan semua itu, dia bangkit dan pindah duduk satu meja dengan perempuan tua itu. Dia memesan lagi makanan untuk anaknya lalu mereka makan bertiga. Sebuah gestur yang tulus dan indah. Bayangkan seorang anak perempuan memiliki kelembutan hati sedemikian rupa, menular ke ayahnya yang menyambut dengan sebuah gestur yang serupa. Ah, tidak tahan air mata saya meleleh. Keindahan semacam ini sangat jarang dapat ditemukan.

Ketulusan hati menurut saya merupakan inti dari segala bentuk kebaikan, sensitifitas, kepedulian pada sekitar dan sebagainya. Ketulusan hati yang dimiliki anak perempuan kecil ini begitu murni dan tidak ternodai prasangka, kecurigaan, maupun kebencian. Yang dia lihat saya yakin adalah sebuah kemurnian. Dia melihat seorang ibu berdiri, dia menyaksikan ketidakberdayaan, dia menyaksikan kebutuhan, kelaparan, dan harapan akan pertolongan. Kemurnian memberikan dia dorongan untuk bertindak.

Menyaksikan hal itu saya merasa sedikit tertampar. Ketika saya melihat seseorang yang berdiri di sudut jalan dengan selembar kardus bertulisan: "Anything helps. Homeless and Hungry." Saya bereaksi berbeda. Tidak seperti anak kecil tadi yang terlepas dari belenggu kecurigaan, saya beda. Kadang saya terdorong untuk menolong lalu serentak terhenti begitu melihat gelandangan ini merokok sebab saya berpendapat bahwa jika dia mampu membeli rokok berarti seharusnya bisa membeli makanan. Atau saya berhenti berusaha menolong ketika melihat betapa sehat dan kekarnya orang itu. Lalu saya mulai ngomel : "Badan sesehat dan sekuat itu kok minta-minta, kalau mau, dia bisa bekerja jadi tukang bersih-bersih, lumayan setidak-tidaknya $15/jam. Daripada minta-minta!" Ya, kita cenderung untuk menghakimi. Sesudah menghakimi kita melakukan pembenaran diri untuk tidak membantu.

Ada seorang psikolog yang berkata bahwa menghakimi orang lain tidak ada hubungan sama sekali dengan orang yang kita hakimi itu. Seperti misalnya orang yang bermasalah dengan makanan (eating disorder) biasanya cenderung menghakimi bentuk tubuh orang lain (kegemukan atau terlalu kurus, misalnya), atau jenis pilihan makanan orang lain. Orang yang mudah menghakimi bisanya sangat berjarak dengan inklusifitas, sulit menerima perbedaan, memiliki masalah dengan relasi dan lain sebagainya. Pada intinya sekali lagi orang yang mudah menghakimi justru sebetulnya yang bermasalah.

Lalu apa nasihat yang banyak diberikan oleh para psikolog itu? Hold a space in non-judgment means to allow and accept one to be truly her(him)self. To embrace with two hands instead of pointing a finger. To not control or manipulate. To activate deep and active listening. To be open. For them. Not you. Ya, intinya kita harus memusatkan perhatian pada orang lain. Kita harus bisa menerima orang lain apa adanya.

Tapi untuk bisa berbuat seperti itu, tentunya kita harus bisa berbenah diri terlebih dahulu. Ingat pendapat psikolog di atas, orang yang judmental justru sebenarnya adalah orang yang bermasalah. Saya selalu ingat perkataan orang tua saya. "Jangan pernah menuduh orang lain, jangan pernah menunjuk-nunjuk orang lain sebab ketika kita melakukan itu, 1 jari teluntuk tertuju pada orang lain, tapi 3 jari menunjuk pada diri sendiri!" Coba sekarang praktikan menunjuk jari telunjuk kita, benar khan 3 jari menunjuk pada diri sendiri? Ya semuanya harus mulai dari diri. Kita berbenah, meningkatkan ketulusan lalu mudah-mudahan kita bisa menjadi seperti anak perempuan yang saya ceritakan di atas tadi. Amin!

Foto credit: animalpeopleforum.org

You May Also Like