Ada satu hal yang membuat saya takjub dari proses rawat inap di rumah sakit. Beberapa kali melihat dan mengalami proses pemasangan infus untuk diri sendiri dan anak, membuat saya punya cukup waktu untuk mengamati dan melihat detail bagaimana tangan-tangan para perawat dengan sigap bergantian mencari pembuluh darah, mengoleskan alcohol swab, menusukkan jarum suntik, memasang plester hingga memastikan infusnya berfungsi dan tidak ada udara yang terperangkap di dalamnya.
Ingatan saya melayang pada saat belasan tahun lalu adik saya dirawat, proses memasang infus adalah hal yang rasanya sama menyeramkannya dengan proses melihat dan membayar tagihan rumah sakit. Namun sekarang ini, proses itu terasa jauh lebih canggih, satset, less pain.
Pemandangan itu melegakan sebab merasakan langsung buah konkret dari penelitian dan jerih payah orang-orang terdahulu demi kemajuan teknologi yang berdampak baik pada keberlangsungan hidup orang banyak. Menyenangkan rasanya melihat sesuatu yang ternyata bisa berubah, meski kalau diperhatikan, butuh waktu yang cukup lama, usaha yang tidak sedikit, dan kekuatan hati untuk memulai kembali jika ternyata hasilnya belum sesuai yang diharapkan.
Refleksi dari proses pemasangan infus itu di tangan kiri itu, jika saya sadari kemudian, adalah sebuah tanda bahwa saat itu saya punya cukup ruang untuk hadir, memperhatikan sekitar, merasakan apa yang terjadi pada kulit dan tubuh saya, karena saya sedang jeda.
Jeda dari mata yang biasanya terus menerus melihat layar, tangan yang terus menerus memegang gawai, tubuh yang terus menerus terpaku di balik laptop, dari rutinitas yang seolah tidak mengizinkan saya merasakan matahari, atau merasakan tarikan napas sekalipun.
Jeda yang memang tidak ideal, karena baru bisa dilakukan ketika Allah 'mengambil sejenak nikmat sehat' yang mungkin akhir-akhir ini kurang saya syukuri.
Jeda yang ternyata memberi ruang untuk tidur terlentang, tidak hanya menghadap satu sisi sambil menyusui bayi. Memberi waktu untuk sendirian tanpa notifikasi pekerjaan, atau saut-sautan panggilan dari anak-anak dan suami. Memberi kesempatan untuk merasakan bahu saya ternyata terlalu naik, punggung saya belum bersandar, kaki kiri saya pegal menopáng kaki yang kanan, dan tangan saya sedang dipasang infus.
Jeda yang memberi kesempatan untuk duduk tenang, merasakan indra-indra yang biasanya berjalan autopilot, merasakan napas. Jeda yang membawa saya kembali pada diri sendiri, keluar dari sistem dan rutinitas yang dijalankan hanya karena keharusan, kembali berkesadaran, mengatur ulang ritmenya dan hadir seutuhnya.
Semoga lain kali, saya tetap ingat dan diingatkan bahwa untuk hadir seutuhnya, tidak perlu menunggu masuk rumah sakit, tapi cukup dengan mengambil jeda, mengatur ulang dari yang sederhana, misalnya bernapas.