Katanya dalam hidup itu ada 5 pilar yang sangat penting yang harus ditegakkan agar menjadi sebuah fondasi kehidupan yang berarti. Kelima pilar itu adalah: Kesehatan, karir, relasi, spiritualitas dan tujuan pribadi. Masing-,aimg pilar itu sama pentingnya dan saling mendukung satu sama lain.
Saya tidak bermaksud menggurui, tapi hanya berbagi pendapat dengan asumsi bahwa kita semua menyetujui pilar-pilar itu. Kita ambil contoh misalnya karir kita melejit, mempunyai relasi yang sangat baik dalam keluarga, kehidupan spiritualitas kita sangat baik, tapi kemudian kita sakit-sakitan. Nah apakah itu menjadikan kehidupan kita berarti? Atau bayangkan jika kita memiliki lebih banyak kekurangan misalnya karir tidak sesuai dengan yang kita cita-citakan, sakit-sakitan, tidak punya relasi. Wah baru 3 saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana sulitnya menjalani hidup semacam itu.
Butuh banyak waktu untuk bisa membangun fondasi kehidupan yang kokoh. Kita harus membangun dari dalam seperti misalnya self awareness, optimisme bahkan rasa syukur diberi kesempatan untuk hidup setiap hari. Dengan bermodal hal-hal positif seperti itu kita akan bisa melihat kehidupan sebagai sebuah kesempatan untuk bisa beraktualisasi diri dengan baik.
Ada yang pernah berkata pada saya bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Saya yakin semua orang pernah mendengar ungkapan ini, saya akan tambahkan, pengalaman buruk memberikan pelajaran yang paling baik! Orang yang pernah terpuruk hingga ke dasar, pernah menderita, pernah tiarap hingga ada istilah rock bottom, tapi lalu kemudian bisa bangkit lagi, orang-orang semacam itu akan menjadi sangat kokoh dan tegar sebab tempaan hidup yang luar biasa menjadikan dia banyak belajar dalam menjalani kehidupannya.
Kebanyakan orang mendedikasikan hidupnya selama bertahun-tahun untuk membentuk dan mendirikan ke-5 pilar yang saya sebutkan di atas. Setiap orang menginginkan fondasi yang kokoh tapi kebanyakan orang ingin membanguin segala sesuatu itu sekaligus. Pada kenyataanya, kita tidak dapat membangun itu sekaligus, kita harus bisa memfokuskan diri satu persatu. Dalam hidup, jika ingin mampu membangun fondasi yang kokoh maka kita harus mengambil prioritas, satu persatu, mengambil pilihan mana terlebih dahulu yang memungkinkan kita untuk mengolahnya.
Sama seperti ketika kita membangun rumah, mulai satu persatu. Kita tidak bisa membangun fondasi dan atap secara bersamaan. Sama seperti kita berjalan, kita tidak bisa melangkahkan dua kaki secara bersamaan. Manusia tidak diciptakan untuk bergerak dengan melompat. Katak saja yang bergerak secara melompat harus bergantian antara kaki depan dan belakang. Mungkin contoh ilustrasi saya kurang tepat, tapi maksud saya adalah kita tidak bisa melakukannya semua sekaligus. Itu saja. Karena hampir mustahil jika kiyta menginginkan semuanya terjadi dan berhasil sekaligus.
Ada kalanya juga kita harus berani berspekulasi. Indahnya kehidupan adalah kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Kadang pilihan kita tidak tepat, kadang dengan mudah kita bisa menyelesaikan sesuatu tanpa berkeringat. Itu semua adaah keunikan hidup. Kita juga tidak bisa membandingkan diri dengan orang lain. Itu kesalahan yang biasa kita lakukan.
Contohnya ketika punya anak kecil. Kita seringkali membandingkan anak kita dengan teman-temannya. "Tuh lihat anak itu sudah bisa makan sendiri, anak kita boro-boro." Nah bukan begitu? Padahal kalau diperhatikan dengan lebih teliti, anak kita sudah punya 2000 kosa kata sementara yang sudah bisa makan sendiri bicara masih terbata-bata. Satu atau dua pilar dahulu baru diikuti yang lainnya.
Setiap orang mempunyai tujuan, pilihan dan prioritas masing-masing. Ada yang spiritualitasnya lebih hebat dibandingkan dengan mereka yang karirnya lebih melesat misalnya. Ada yang memilih untuk bisa hidup lebih sehat dan itu sudah cukup membuat dia bahagia. Ya, kebahagiaan setiap orang itu milik mereka masing-masing dan tidak bisa dibanding-bandingkan karena sekali lagi setiap orang punya tujuan, prioritas dan pilihan masing-masing dan tentu saja hasilnya tidak dapat dibandingkan.
foto credit: medium.com