"Without going out of my door
I can know all things of earth
Without looking out of my window
I could know the ways of heaven
The farther one travels
The less one knows
The less one really knows"
- Beatles - Inner Light
---
Kemarin di Lingkar Belajar, Kakak-kakak SD Besar ngobrol ke sana kemari, tentang menghidupkan imajinasi dalam pembelajaran. Hasil diskusi kami, mengisi penuh di akhir hari.
Ternyata, imajinasi bukan sekadar bermimpi dan berkhayal. Kuncinya, imajinasi yang kontekstual. Ia adalah dasar dari kemampuan kita berpikir abstrak sekaligus sistematis, fleksibel dalam berpikir, memecahkan masalah, sampai mengasah empati. Ketika kita bisa menaruh sudut pandang dari sisi lain, niscaya kita lebih mudah menerima. Bahwa suatu momen atau objek selalu bisa dilihat dari perspektif lain.
Beberapa waktu sebelumnya, Kakak-kakak membahas tentang literasi diri dan semesta. Bagaimana kita membaca, bukan hanya yang tertera, namun juga yang tersirat. Lewat mimik muka, intonasi suara, gestur. Lewat suasana, pergerakan, fenomena yang mungkin tak lazim muncul. Bagaimana kita membangun kepekaan, mengamati dengan dalam segala sesuatu yang dihadirkan Tuhan di sekitar kita.
Tuhan penuh cinta kasih.
Mengapa kita menebar benci?
Kemarin sepulang dari sekolah, saya dan Ikra ngobrol. Tentang mudahnya manusia saat ini menghakimi satu sama lain. Aku benar, kamu salah. Cara berdoa, cara bicara, berpakaian, hingga cara mengedipkan mata. Media virtual seakan jadi ruang sidang. Di mana manusia bisa bersikap seperti penentu kebenaran.
Di akhir obrolan selama perjalanan pulang, kami bicara tentang dialog antara Cak Nun dan anaknya, Mas Sabrang. Mereka membahas perilaku netizen saat ini, dari sudut pandang agama dan teknologi, dengan analogi yang menarik. Bagaimana sikap kita, ikhtiar sekaligus ikhlas. Bahwa selalu ada hal-hal di luar kuasa kita. Siapa kita sebagai manusia. Kebenaran mutlak hanyalah milik Tuhan semata.