(Dokumentasi Pribadi)
Pada hari Jumat tepatnya tanggal 11 April 2025, selepas obrolan dengan kakak kelas dan kooridnator jenjang terkait performa saya selama magang, saya memutuskan untuk menonton pergelaran teater yang diadakan di Gedung Mayang Sunda. Saya berangkat kesana bersama-sama dengan kakak kelas SMP dan Koordinator jenjang serta Kakak KPB. Pergelaran kali ini dipersembahkan oleh KPB untuk warga SMIPA. Jalanan terpantau padat merayap, dan untungnya kami tiba tepat waktu, ditemani oleh hujan yang agak deras. Setelah sesampainya di tempat, aku duduk di kursi yang nampak kosong kanan kirinya, aku pikir, aku ingin lebih khidmat dalam menonton, atau memang aku tidak ingin saja duduk di samping siapapun.
Pergelaran dibuka oleh MC cilik kita dari kelas 7 & 9, mereka membuka acara dengan begitu ceria, dan sangat terlihat luwes membawakan narasi untuk mempersembahkan acara. Singkat cerita mereka memanggil koordinator utama untuk diberi kesempatan berbicara, beliau menyampaikan kesan pesan dan keterkaitan semesta bisa mempertemukan kita di gedung mayang sunda, namun yang aku tangkap beliau sangat bangga dengan anak-anak KPB karena telah berhasil untuk menggelar drama musikal yang bertajuk Jas Merah. Kata sambutan tidak hanya berakhir di Koordinator Utama saja, orang tua siswa dari KPB pun mengucapkan sepatah dua patah kata berisi rasa bangga juga, begitupun dengan kakak kelas yang membersamai proses mereka ditutup oleh Sutradara dari pergelaran Jas Merah.
Akhirnya pergelaran pun dimulai, lampu gedung gelap seketika, dibuka olehlampu par led yang siap menemani pergelaran mereka, memberikan suasana pementasan yang cukup ciamik, karena memang seberpengaruh itu ligthing terhadap setiap pementasan. Diawali oleh dua tokoh Ibu dan Ayah Bromo (Jas Merah), nah disini Ayah Bromo merupakan seorang bupati, dan dia berharap anaknya bisa meneruskan jejaknya sebagai pemimpin daerah, namun Bromo tidak sependapat dengan ayahnya, ia tidak mau berurusan dengan politik sama sekali, dengan dia menyamar menjadi Jas Merah (Alter-ego Bromo yang suka mencuri untuk diberikan kepada kaum-kaum terpinggir) cukup menjadi bukti kuat bahwa dia tidak ingin menjadi pejabat daerah. Dialog berangsur-angsur sebagaiamana drama pada umumnya, dengan make-up character yang bagi aku sendiri cukup bold, dan sangat memukau ketika disorot oleh lampu par led. Lalu rangkaian kejutan pun dimulai, mereka berdialog dengan nada musik yang begitu merdu pikirku (karena bukan expert di bidang musikal), lalu datang Bromo dengan gelagat komikalnya yang khas, dan gerak tubuh yang begitu luwes serta ekspresi yang melambangkan bahwa karakter ini sungguh pandai beradaptasi dalam berbagai kesempatan. Dalam scene-scene awal ini, aku merasakan hal yang fresh yang ditunjukkan oleh teman-teman kelas 10, oh iya, semua siswa-siswa kelas 10 mempunyai perannya masing-masing, dan mereka berjumlah 8 orang.
Selama pementasan aku ditawari cerita yang menarik, serta suguhan drama musikal yang terlihat mentah namun masih bisa sekali untuk dinikmati. Instrumen musik yang menemani dialog tidak terdengar, namun dengan accapela seperti itu bagiku menjadi nilai tambahnya tersendiri, sesekali latar musik menyertai namun tidak terlalu sering. Nah yang aku paling sukai adalah ketika scene tokoh kartika dan kartini (kalau tidak salah) tokoh kembar yang ayahnya sudah meninggal, vokalisasi dialog yang mereka lakukan sungguh harmonis, dan nada-nadanya sangat elemental dan menyesuaikan dengan latar tahun pada cerita. Dinamika cerita di pergelaran Jas Merah bagiku sangat variatif, dan bahkan di sela-sela scene ada satu hal yang sangat aku soroti, adalah ketika satu tokoh penjaga Sultan menembus dinding keempat dengan berinteraksi pada penonton dan bertanya "Dimanakah Jas Merah?" (terinsipirasi dari serial kartun Dora The Explorer). Dan penonton pun menjawab pertanyaan tokoh tersebut. Sangat mengasyikkan pikirku, apalagi yang menonton semua umur, tidak hanya orang tua saja, ada teman-teman SD Kecil yang dengan antengnya menonton pergelaran. Dan adegan lain yang menurut aku menarik adalah ketika tokoh Ibu Bromo membawa petromak (kondisi lampu masih gelap) seketika petromak itu membuat siluet yang aku pikir sangat estetis ketika disimpan di meja.
Limitless
Menempatkan diriku sebagai apresiator, merupakan suatu kehormatan, bisa menyaksikan hal luar biasa yang dilakukan oleh teman-teman kelas 10, dan lingkungan yang suportif yang membersamai mereka menjadi salah satu aspek yang paling penting menurutku. Mereka mengejar dan melampau keterbatasan mereka (belajar menjadi aktor) jadi bagiku dalam hal ini aku tidak punya hak untuk menilai pementasan ini bagus atau tidak, kata yang paling aku pikirkan untuk menilai pementasan ini adalah luar biasa. Mungkin begitu saja tulisan apresiasiku, VIVA TEATER!!!!.