AES 1248 Literasi Oh Literasi
joefelus
Tuesday November 19 2024, 8:55 AM
AES 1248 Literasi Oh Literasi

Literacy empowers and liberates people! Itu yang dikatakan oleh UNESCO mengenai bagaimana dampak literasi pada manusia. Nah pertanyaannya, apakah di tanah air tercinta kita ini proses peningkatan literasi di masyarakat sudah berjalan dengan baik?

Jaman saya kecil, literasi hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Jaman itu banyak sekali dikalangan orang tua, di generasi sebelum saya, yang masih buta huruf. Sekarang sepertinya istilah buta huruf sudah mulai jarang dipakai walaupun kalau mau jujur masih ada orang yang begitu. Katakan saja sudah hampir semua mampu membaca dan menulis tapi masih belum bisa dikatakan literate enough.

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan literasi masyarakat. Upaya itu memang butuh konsep dan aksi yang jelas, hanya saja jika diperhatikan di level konseptual saja negara kita ini sudah terlalu simpang siur. Katakan saja sistem pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah hampir dipastikan setiap 5 tahun sekali berganti. Hasil dari konsep yang dilaksanakan pemerintah sebelumnya belum jelas kelihatan, sudah diganti dengan konsep baru. Saya bahkan cenderung berkesimpulan bahwa ego dari para menteri pendidikan ini sangat besar, setiap mulai menjabat langsung mengajukan konsep baru, kadang intinya malah mirip-mirip tapi berganti nama, lalu sibuk melakukan pelatihan para guru. Silakan tanya kepada para guru sudah menjalani pelatihan berapa kali dalam karir mereka. Berapa kali mereka harus mengubah format administrasi yang harus mereka kerjakan. Jangankan mampu berkonsentrasi mendidik anak, mereka sibuk sendiri dengan urusan administrasi. Kacau!

Bagaimana bisa menilai bahwa kemampuan literasi masyarakat masih rendah? Ambil saja contoh sederhana, misalnya isi dan cara penulisan berita yang sekarang sangat mudah kita peroleh. Saya seringkali merasa gundah karena merasa membuang-buang waktu ketika membaca berita. Seringkali saya hanya cukup membaca judulnya sebab ternyata memang isinya sudah terangkum dalam judul, sisanya kebanyakan hanya pengulangan berita sebelumnya, pengungkapan detail yang tidak penting, dan hal-hal yang tidak terlalu informatif. Sepertinya banyak berita yang ditulis hanya untuk mencapai kuota sekian ratus kata agar dapat turun cetak atau diberitakan.

Kemampuan dan kreativitas para penulis berita juga menurut saya masih terlalu minim. Lihat saja kata kunci yang hampir setiap hari muncul: "Kronologi" hahahaha.. Saya paling benci dengan kata kronologi atau "Detik-detik" hahaha.. Sepertinya ini kata-kata populer berita tanah air, sebab saya hampir jarang membaca berita seperti ini di media luar negeri. Lalu kata lain yang saya benci juga bila ada berita kematian, saya hampir yakin kita akan menemukan kata "firasat". Apakah tidak ada hal lain yang bisa diangkat selain menanyakan pada anggota keluarga: "Apakah ada firasat sebelumnya...." WHY???? Sekarang saya tanya pada teman-teman ketika mendatangi rumah duka, apakah pernah bertanya kepada anggota keluarga:"Apakah ada firasat...? Apakah pernah menyangka....? Sepertinya ini pertanyaan yang tidak sopan dan juga tidak ada gunanya.

Hal lain yang sangat menganggu adalah penggunaan kalimat kompleks dalam penulisan berita maupun opini. Seringkali kalimat tidak selesai atau bahkan tidak jelas maksudnya apa. Saya ambil contoh paragraf pendek yang hanya terdiri dari 2 kalimat di bawah ini:

"Kebijakan yang diambil oleh pemerintah itu, tentu hanya sebatas menyambung nafas peternak. Hal fundamental yang juga disuarakan peternak adalah agar pemerintah mengubah perundingan dagang yang sudah berjalan, yakni ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)." https://www.cnbcindonesia.com/opini/

Nah, kalau memperhatikan kalimat pertama, kalimat itu tidak pernah selesai. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah itu, tentu hanya sebatas menyambung nafas peternak, ... seharusnya ada lanjutannya, sebab kalimat ini baru subjek dari kalimat utama dan butuh sesuatu yang perlu dijelaskan untuk mendukung subjek itu. Hahahaha.. Lalu jika diperhatikan, saya bingung paragraf itu maksudnya apa. Memang ada informasi yang disampaikan, tapi saya pikir ini bukan paragraf yang sempurna karena kalimat kedua dari paragraf itu sudah membahas hal yang lain yang tidak ada hubungannya dengan kalimat pertama. Kalimat pertama membahas kebijakan pemerintah, dan kalimat kedua menyatakan suara peternak. Ini contoh sederhana tentang bagaimana masyarakat kita masih perlu pendidikan literasi. Oh sebagai fakta tambahan, fun fact, yang menulis opini yang saya kutip 1 paragrafnya itu adalah seorang dosen!

Saya memang bawel, tapi jika mengacu pada apa yang diungkapkan oleh UNESCO bahwa Literacy is a continuum of learning and proficiency in reading, writing and using numbers throughout life and is part of a larger set of skills, which include digital skills, media literacy, education for sustainable development and global citizenship as well as job-specific skills. Literacy skills themselves are expanding and evolving as people engage more and more with information and learning through digital technology. Saya tidak salah, bukan? Hahaha..

Foto credit: niallmcnulty.com