"It's not that we have a short time to live, but that we waste a lot of it." -Seneca
Kita tidak pernah tahu kapan kita akan pergi ke alam baka. Kita selalu berpikir bahwa kematian masih sangat jauh dan kita tidak akan meninggal besok. Kematian dilihat sebagai sebuah konsep yang sangat abstrak dan tidak akan menghampiri dalam waktu dekat, dan ini seolah-olah menawarkan sebuah ilusi yang tidak terbatas walau sebenarnya, setidak-tidaknya menurut saya, tidak begitu. Kecenderungan ini membuat kita banyak membuang-buang waktu dalam hidup.
Procrastinating dilakukan hampir oleh semua orang, apalagi jika berkaitan dengan sesuatu yang kita tidak terlalu tertarik, yang tidak menyenangkan, atau yang banyak menyita waktu kita untuk bersenang-senang. Menunda-nunda banyak hal karena kita selalu berpikir bahwa masih banyak waktu. Kita membiarkan moment dan peristiwa dalam hidup lewat begitu saja. Kita selalu berpendapat bahwa masih banyak kesempatan lain. Pertanyaan saya, apakah memang benar begitu?
Jangan salah, saya juga begitu, selama bertahun-tahun, atau kalau mau jujur selama hidup, hingga kemudian mengalami sesuatu yang mengubah itu semua. Hidup itu tidak abadi, hidup itu tidak pernah memberi kepastian. Berita baik yang kita terima saat ini, mungkin saja akan pupus beberapa saat kemudian karena peristiwa lain. Demikian juga sebaliknya, ketika kita menghadapi sebuah tantangan berat lalu berpikir bahwa hidup kita akan berakhir, tiba-tiba sebuah keajaiban muncul. Itu bisa saja terjadi, tidak akan ada yang bisa menebak, tidak ada yang dapat memperkirakan. Ya, begitulah hidup.
Saya banyak menyia-nyiakan waktu dalam hidup. Banyak kesempatan terlewatkan begitu saja. Apalagi jaman sekarang dimana hidup kita penuh dengan distraksi. Coba saja perhatikan kehidupan kita jaman sekarang yang diperbudak oleh gawai. Benar tidak? Kita kemudian melupakan hal-hal yang paling esensial. Jaman dulu sebelum kita tidur, seringkali sekeluarga ngobrol tentang kejadian-kejadian menarik sepanjang hari, kita banyak berdiskusi tentang peristiwa yang kita hadapi, tapi sekarang semua berubah. Duduk bersama di meja makan dengan gawai ditangan masing-masing. Komunikasi sekarang dilakukan melalui text messages. Pernah melihat kelakuan orang-orang di sebuah konser atau pertandingan olahraga? Mereka semua datang ke lokasi, tapi bukannya menyaksikan konser atau menikmati pertandingan tapi justru sibuk merekam. Untuk apa? Oh supaya nanti bisa membuat konten di media sosial! Kita tidak lagi menikmati konser dengan penuh perhatian dan kegembiraan seperti dulu, sekarang kita sibuk menangkap peristiwa dengan gawai, bukan menikmati 100 persen. Itu hampir terjadi pada semua peritiwa dalam hidup. Liburan, misalnya. Kita sibuk berfoto dan menggunakan gawai untuk membuat video. Hidup kita diperbudak oleh teknologi, kenikmatan hidup kita dikecilkan dengan konten dan gawai.
Beberapa waktu yang lalu, mungkin teman-teman juga tahu bahwa saya dihadapkan pada sebuah peristiwa yang bagi saya mengubah pandangan tentang hidup. Segala sesuatu dapat terjadi kapan saja tanpa kita pernah sangka-sangka. Saya kemudian juga merasa banyak membuang-buang waktu. Tiba-tiba saya merasa sudah tua, tiba-tiba saya menyadari bahwa Kano sudah dewasa. Lalu kemana saja waktu selama ini? Apa saja yang sudah saya pernah lakukan? Sekali lagi, saya menyadari bahwa masih banyak hal yang ingin saya lakukan, tapi waktu semakin terbatas. Tiba-tiba banyak hal yang tidak lagi mampu kita lakukan karena kondisi tubuh yang sudah tidak memadai, lalu kita menyesal. "Ah, seandainya dulu kita melakukan ini." Atau "Kenapa tidak dari dulu-dulu ketika kita masih lebih bugar?"
Ada sebuah klip lucu di media sosial. Ada segerombolan manula, nenek-nenek dan kakek-kakek yang berjalan bergandengan. Lalu ada tulisan, "Ayo cepat reunian, sebelum kita menjadi seperti mereka!" Hahaha.. Ada benarnya juga, bukan? Itu memang untuk lucu-lucuan.
Kemarin saya memang melakukan sesuatu yang agak gila. Teman-teman bahkan banyak yang berkomentar bahwa seharusnya di usia seperti saya sudah tidak lagi melakukan itu. Saya melakukan itu bukan untuk hebat-hebatan, juga bukan untuk membanggakan diri. Saya sedang dalam misi untuk mulai mengalahkan berbagai rasa takut yang sudah menguasai saya seumur hidup.
Dulu saya pernah ikut workshop di Bandung. teman-teman dari Smipa juga banyak yang hadir di sana. Pada suatu sesi, tiba-tiba saya menangis karena dilanda sebuah ketakutan yang sangat amat kuat. Pembicara sekaligus pelatih kami saat itu bahkan menyempatkan untuk memberikan waktu bagi saya untuk berkonsultasi. Sejak saat itu saya mulai melatih diri, mulai menantang diri menghadapi berbagai ketakutan yang saya miliki. Nah puncak usaha saya untuk menantang diri itu terjadi kemarin. Memang sangat ekstrim hahaha.. Tapi, saya juga punya alasan bahwa saya saat itu punya kesempatan dan berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya. Daripada saya kemudian menyesal dan berkata "Kalau saja dulu...", maka kalimat itu saya ganti,"Mumpung masih bisa, atau mumpung ada kesempatan!" Disamping berusaha menantang diri, dan ternyata menurut saya berhasil dengan baik, saya juga berusaha untuk tidak membuang-buang waktu dalam hidup.