Apakah setelah mengetahui terlebih dahulu akan melakukannya kemudian? Pun tetap melakukannya setelah mengetahui sebelumnya, apakah akan memahaminya? Ataukah malah sibuk mengonfirmasi imaji dengan realita, sampai mengoreksi ketidak samaan perkataan dengan keadaan?
Apakah setelah mengetahui, tumbuh keyakinan? Pun tumbuh keyakinan, apakah sungguh meyakininya? Ataukah hanya menyerahkan diri kepada kepastian yang dikatakan orang lain dengan jaminan-jaminan yang memuaskan kepercayaan sistematik yang dipegang selama ini, alias kebiasaan?
Apakah setelah mengetahui, sungguh bertanya? Ataukah pertanyaan itu hanyalah luapan pengetahuan-pengetahuan yang, kepenuhan tanpa pemenuhan? Retorika yang tidak perlu dipedulikan, karena setiap tanggapan dibalas dengan kesudah tahuan dan seleksi kesesuaian selera dan kebiasaan. Lalu?
Biarkan dan lepaskan. Lepaskan dan biarkan. Melampaui kebijaksanaan melepaskan bukan berarti membiarkan, ciptakan kebijaksinian lepaskan dan biarkan. Terbentur, terbentur, terbentur. Lha, terbentuknya mana? Sudah tidak signifikan. Karena pertanyaannya berbasis kesudahtahuan, bukan keingintahuan.
Yang terbentur-bentur itu sudah kadung terbentuk. Sudah lama selesai, bahkan sebelum mulai. Sampai-sampai peribahasa bagai katak dalam tempurung pun sudah tidak mempan. Perlu sampai perih bahasa bagai kura-kura dalam tempurung, untuk mendeskripsikannya. Kura-kura kan memang dalam tempurung.