AES 442 Inevitable
joefelus
Monday August 8 2022, 10:12 AM
AES 442 Inevitable

"Kemarin Ngobrol sama Kano sambil nonton pertandingan rocket league." Kata saya pada Nina ketika kami berdua pergi belanja.

"Kamu ngobrol soal rencana dia?" Tanya Nina

"Iya, kelihatannya dia betul-betul serius mempertimbangkan banyak hal." Kata saya.

"Ga kebayang kalau dia betul-betul pergi." Sambung saya.

Kami berdua kemudian terdiam, tidak lagi berbicara sementara pikiran saya mulai melayang-layang. Menjadi orang tua adalah pekerjaan full time, sesudah hampir 18 tahun melakukan itu, sepertinya akan berat jika saya harus kehilangan pekerjaan ini.

Saya pernah membaca bahwa orang tua sering mengalami sebuah empty nest syndrome, perasaan kehilangan ketika anaknya keluar dari rumah untuk mulai menjalani kehidupan mndiri sebagai orang dewasa. Di Indonesia mungkin tidak terlalu terasa sebab ketika anak mulai kuliah mereka kebanyakan masih tinggal bersama orang tuanya. Beda hal nya dengan di sini. Ketika anak kuliah, tahun pertama mayoritas anak-anak tinggal di asrama. Tidak jarang saya melihat anak dan orang tua menangis terharu berpelukan ketika mereka mengantar anak-anaknya masuk asrama. Saya sering menghindar pertistiwa-peristiwa semacam ini karena saya tidak mau ikut-ikutan terharu. Kenal saja tidak kok hahahaha...

Orang tua merasa bersalah karena bersedih ditinggal anaknya, walau sebetulnya juga berbangga dan bahagia akan kemajuan mereka. Merupakan sesuatu yang normal merasa kehilangan walau tentu saja jika memilih, orang tua akan lebih suka anak-anaknya tetap tinggal bersama mereka. Tapi anak-anak ini memang sudah membuat sebuah pilihan yang terbaik, perpisahan bukan sesuatu yang bisa dihindari. Ini fase yang harus dilalui dan orang tua juga wajar merasa khawatir akan anak-anaknya ketika mereka sudah tinggal berjauhan. Hanya saja perlu diingat bahwa orang tua sudah membekali mereka dengan pendidikan sekarang adalah giliran anak-anak untuk menavigasi perjalanan hidupnya sendiri ke dunia dewasa.

Saya terus mengemudi tanpa berbicara. Nina juga terlihat sibuk dengan pikirannya. Di luar memang sangat panas, Ac mobil kami nyalakan maksimal sehingga suaranya memang seperti sedang saling berlomba mengalahkan dengan musik yang kami putar. Perubahan memang tidak akan dapat dihindari, lanjut saya dalam pikiran. Akan sangat berat bagi saya, entah kalau Nina, dia tampaknya lebih tegar daripada saya yang sangat sensitif. Nonton film Star Trek saja saya bisa menangis, apalagi ditinggal anak satu-satunya. Apalagi dengan Thyroid Syndrome yang saya miliki ini dengan mood swing yang seringkali tidak dapat saya kontrol. Ini emosi yang sangat sulit saya hadapi.

Seperti yang diungkapkan di Smipa, belajar tidak ada tamatnya! Nah ini dia! Ini pelajaran hidup yang terus menerus harus dipelajari. Saya, Nina dan Kano akan terus belajar. Pelajaran yang terbesar yang tidak pernah ada tamatnya adalah pelajaran tentang hidup. Dalam hidup, perubahan tidak ada berhentinya. Ya, changes are inevitable, perubahan tidak dapat dihindari dan kita akan harus selalu belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan.***

Image by Gerd Altmann from Pixabay