Ini adalah refleksi saya yang ke dua di akhir tahun. Yang saya lakukan adalah sebenarnya yang biasa orang lain juga lakukan yaitu menelusuri kembali perjalanan sepanjang tahun lalu kemudian mulai mencerna dan merenungkan apa saja yang sudah saya alami dan pelajari dari semua peristiwa yang terjadi sepanjang tahun. Sederhana tapi bisa menjadi bekal untuk tahun yang akan datang. Cita-citanya juga sederhana yaitu agar tahun depan diharapkan saya bisa melakukan hal yang lebih baik. Itu saja.
Kita hidup di dunia yang serba tergesa-gesa. Setiap orang ingin segera berprestasi, ingin segera sukses, ingin segera mapan bahkan ingin segera kaya. Kita tidak mempunyai cukup waktu dan jarang berhenti, jedah sejenak untuk menikmati sekitar, melihat pemandangan dan warna-warni sekeliling kita, atau mencium harumnya bunga. Apalagi jaman sekarang, kita selalu terkoneksi dengan internet dan terus menerus dibombardir dengan pesan-pesan, notifikasi, bunyi ringtone telepon, SMS, media sosial dan sebagainya yang terus menerus menyita hidup kita. Semua itu seringkali membuat lupa akan tujuan hidup kita yang sesungguhnya (tentu saja seandaikan kita sudah menemukan itu).
Suatu saat ketika kita dibangunkan dari kesibukan kita, dari keseharian kita, tiba-tiba kita sadar bahwa ada sesuatu hal yang paling penting dalam hidup ini yang terabaikan, maka pada saat itu kita merasa seperti tersengat sesuatu dan terjaga dan tersadarkan bahwa semua yang selama ini kita lakukan adalah hal-hal yang tidak penting. Kita telah terjebak mengejar kesia-siaan.
Saya pernah menulis tentang ini, saya barusan berusaha mencarinya tapi saya lupa judulnya apa. Jadi kali ini saya berusaha mengungkapkannya dengan cara lain. De Mello mengatakan bahwa kebanyakan manusia berusaha mengejar kebahagiaan, sementara beliau berkata bahwa:"To acquire happiness you don’t have to do anything, because happiness cannot be acquired."
Sekarang kita perhatikan betapa sibuknya manusia. Coba perhatikan media sosial saat ini, 99% teman-teman kita mengunggah kegiatan liburan, acara kumpul-kumpul menjelang akhir tahun, pergi ke luar negeri, atau makan-makan. Untuk apa semua itu? Saya bisa menebak, untuk merasakan kebahagiaan. Bukan begitu? Untuk bersenang-senang kita perlu ke luar negeri, kita perlu liburan, kita perlu mengadakan acara kumpul-kumpul dengan teman-teman, agar kita gembira mari kita adakan acara makan-makan. Itu semua baik, itu semua sah-sah saja. Kita dapat merasakan kesenangan ketika berkumpul dengan teman-teman, bukan? Kita merasa senang ketika makan enak, kita merasa gembira ketika pergi berlibur. Itu juga saya akui. Lalu sesudah itu apa?
Dalam sebuah tulisan saya, lagi-lagi tidak ingat judulnya apa. Di sana saya ilustrasikan dengan cerita seorang ayah menyuruh anaknya berpergian dengan berbekal sebuah peta harta karun. Anak itu bergegas pergi karena takut orang lain menemukannya terlebih dahulu. Tiba di tujuan dia tidak menemukan apa-apa, dia kecewa dan pulang tanpa lagi bergegas-gegas, tidak lagi terburu-buru. Lalu dia mulai menyadari bahwa dengan bersantai dia dapat menikmati perjalanan, dia memperoleh banyak teman baru, dapat melihat-lihat tempat baru, perjalanan pulang dia jauh lebih menyenangkan.
Sepanjang tahun saya sibuk bekerja, sibuk berkarir, sibuk membuat rencana. Seperti anak yang disuruh mencari harta karun oleh ayahnya, saya selalu bergegas dan ingin berprestasi. Lalu tiba-tiba saya tejaga ketika menyadari bahwa saya hampir kehilangan anggota keluarga, hampir kehilangan orang yang sangat saya cintai melebihi karir, melebihi pekerjaan, dan melebihi prestasi. Yang saya kejar bukan hal yang paling penting dalam hidup. Seperti anak tadi saya terfokus pada tujuan, terus melihat ke dapan dan lupa bahwa saya seharusnya hidup in the present. Saya seharusnya memberikan perhatian yang lebih pada siatuasi saat ini, relasi dengan orang-orang yang saya cintai, kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga, serta keberadaan kami dalam keseharian. Itu yang lebih penting. Itu yang tentunya lebih membahagiakan. Ini merupakan pelajaran yang paling berharga. Saya mengetahuinya, saya bahkan menulis tentang ini tapi tidak pernah benar-benar melaksanakannya.
Seperti De Mello katakan, untuk mengejar kebahagiaan kita tidak perlu melakukan apa-apa, karena kebahagiaan tidak dapat dikejar. Kebahagiaan ada pada diri kita, ada pada sekitar kita dan saat ini. Step back and slow down, you'll find happiness!
Foto Credit: Ginno Castillo unsplash.com