AES20 8 Kilometer
matheusaribowo
Sunday September 18 2022, 12:02 PM
AES20 8 Kilometer

8 km menjadi sebuah ukuran yang cukup ramai disebut beberapa pekan ini. Bagaimana 8 km ini bisa membangun imajinasi, asumsi, dan ekspektasi di benak banyak orang. Ada yang mengasosiasikan 8 km dengan ketakutan, keraguan, ketidakmampuan, jauh, lelah, bahkan mungkin menyerah. Ada pula yang mengasosiasikannya dengan antusiasme, penasaran, mungkin juga perasaan optimis, percaya bisa, atau bahkan biasa saja tanpa ekspektasi apapun. Ampuh memang kemampuan manusia dalam berpikir dan membayangkan. Baru mendengar 8 km saja, kita bisa mencipta bergitu banyak kemungkinan dan (kadang diyakini sebagai) realita di pikiran. Inikah multiverse?

Tibalah harinya, 8 km akan segera menjadi kenyataan. Pukul 6.30 sebagian besar dari kami sudah berkumpul di sebuah jalan yang sesuai dengan namanya, Pada Tenang. Di naungan pagi yang hening dan teduh, kami mulai menghangatkan diri dengan senyum dan sapa satu sama lain. 1, 2, 3, ... kami bergantian menghitung dan memastikan tubuh kami akan siap untuk perjalanan menembus pagi, bukit, dan lembah. Selepas berdoa dan berfoto, senyum dan lambaian tangan pada Oma menjadi tanda 1 meter pertama untuk 8 km telah dilalui.

Bagi saya pribadi, 8 km diterjemahkan menjadi selangkah demi selangkah. Memusatkan 8000m pada setiap 1m. Mengatur lensa pada fokus yang dekat dan disadari (zoom in). Langkah-langkah kecil kemudian diiringi alunan napas yang juga menjadi irama. Sementara mata melempar pandang ke sekeliling, telinga menangkap kicau burung, canda dari kawan berjalan lainnya, dedaunan yang bertepuk riang, dan kulit menerima sentuhan sang angin, meraba sejuknya pagi, dan melepas keringat seperlunya. Ajaib memang tubuh kita ini.

Beberapa kawan berjalan terlihat mencatat dan menyimpan tangkapan menariknya masing-masing. Sementara yang lain, ada yang menjaga kebutuhan dasar tetap tercukupi, apalagi jika bukan asupan bagi badan. Terlihat juga wajah-wajah tenang dengan mantra-mantra penguatan yang dirapalkan di kepala. Napas yang terus berupaya mengembalikan irama pun tak luput dari amatan. Pemandangan sederhana yang luar biasa. Pagi yang meriah bagi sekawanan anak manusia untuk mengenal kembali dirinya. Tentu saja, semangkuk bahasa dan kata-kata tak cukup mewadahi lautan makna perjalanan kita.

"Aduh, aku berkunang-kunang, engap." terdengar seorang teman memercayakan kalimat itu kepadaku. Ajakan agar ia kembali kepada ritme napasnya coba kusampaikan. Perlahan napasnya kembali kepada hidung dan perut. Kukatakan juga bahwa itu wajar terjadi, badan hanya perlu menyesuaikan modenya. Kemudian kami siap kembali melanjutkan langkah. 

"Kak, masih jauh nggak?" sebuah pertanyaan dilabuhkan padaku. 

"Jalanin aja." jawabku. Kutambakan sedikit kenyataan bahwa jawaban atas pertanyaan itu (masih jauh atau sudah dekat) takkan menambah atau mengurangi jarak. Cara kita menikmatinya yang akan membuat kita menyelesaikan dengan penuh makna. Dan kami melakukannya. Setiap kami mensiasati jarak, langkah, dan lelah untuk diseduh menjadi sebuah cerita manis penghangat ingatan.

09.55 kami semua telah sampai di Rumah Kebun. Tak bisa dijelaskan bagaimana perasaan masing-masing kami. Sejauh yang kita pahami, ada haru, bangga, senang, lega, dan tentu saja syukur. Cerita ini tak cukup detail untuk menggambarkan perjalanan 16 September dari Pada Tenang ke Suka Ampat. Namun, bagi siapa yang mengalaminya, kita pasti memiliki cerita lengkapnya masing-masing yang terkenang dalam kening. Ada ucapan terima kasih yang rasanya ingin kukatakan saat itu, meminjam kalimat indah dari kak Yanti, "terima kasih telah memelankan dan mempercepat langkah agar tetap seirama."

Terima kasih untuk semesta raya yang tak hentinya menyajikan keajaiban-keajaiban sederhana di luar dan terlebih di dalam diri kita masing-masing.