AES#040 Life is Beautiful
Murdeani
Monday November 17 2025, 7:32 AM
AES#040 Life is Beautiful

Banyak yang bilang, kesulitan hidup adalah ujian, anak yang "sulit" adalah ujian. Di ujung spektrum satunya lagi juga sama, hidup yang mudah adalah ujian. Apa yang diuji? Seberapa kamu bisa bersabar? Seberapa kamu bisa ikhlas? Seberapa kamu bisa tetap tenang? Seberapa kamu bisa bertahan? Label ujian itu seakan membuat kehidupan butuh pembuktian. Dan ada “Aku” yang berusaha untuk lulus ujian. Tanpa sadar kita jadinya hidup untuk lulus, bukannya untuk hadir, merasakan, dan memahami apa yang sebenarnya sedang bergerak di dalam diri.

Ada ayat dalam Al Quran yang indah sekali. Terlebih jika kita benar-benar menyelami ke lapisan batiniah. Ayat ini mungkin sangat menginspirasi sehingga ada pemilik kendaraan yang menempelkan tulisan tersebut di kaca belakang mobilnya. Agar bisa jadi pengingat untuk banyak orang juga. Aku beberapa kali bertemu mobil tersebut, dan jadi tergerak untuk menyelaminya. Bagi yang muslim, dari kecil kita mungkin sudah hafal surat di mana ayat ini hadir. Ayat tersebut adalah "Inna maal usri yusro" dari Q.S Al Insyirah ayat 6, yang merupakan ulangan dari ayat sebelumnya. Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Ayat ini berpesan agar kita tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup. Sampai disebutkan dua kali dalam dua ayat berurutan, yang artinya memberikan penegasan agar kita benar-benar bisa menyelami makna batiniahnya.

Ayat ini tidak berkata bahwa kemudahan itu akan datang setelah kita melewati kesulitan. Jelas dikatakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, jadi seperti dua sisi dari koin yang sama. Kemudahan itu bukan hadiah yang akan kita dapatkan setelah kesulitan berlalu, tapi hadir di dalam kesulitan itu sendiri. Apakah ini soal perspektif? Ya, tapi bukan perspektif yang munculnya dari kepala. Kalau dari sudut pandang kognitif, kita bisa saja berkata, “Oh, aku harus melihatnya dari sisi positif,” tapi di kedalaman tubuh tanpa sadar tetap menegang, dada tetap sesak, batin masih terseret oleh gelombang emosi. Tetap masih ada penolakan di situ, meski dari luar terlihatnya kita menerima.

Kesulitan bisa tetap ada. Dia nyata, kadang terasa menekan, mengguncang. Tapi ini beda dengan penderitaan. Meski ada kesulitan, tidak berarti selalu ada penderitaan. Penderitaan terasa ketika kita menolak, menggenggam, melawan arus, atau mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan gelombang emosi dan pikiran yang muncul ketika kita mengalami pengalaman tersebut.

Bwgitu kita sedikit membuka ruang, sedikit mundur dari pusaran itu, mengizinkan semua sensasi, rasa, dan pikiran hadir tanpa larut di dalamnya… pelan-pelan terasa ada kelapangan batin. Ada pengalaman, tapi bukan identitas. Ada rasa, tapi bukan cerita yang menghukum. Ada gelombang, tapi “aku” tidak tenggelam di dalamnya, melainkan berselancar di atasnya. Kelapangan batin inilah yang disebut kemudahan. Memang bukan berupa perbaikan langsung, tapi terasa lebih nyata daripada perubahan luar mana pun. Ada semacam inner knowing yang mengatakan bahwa all is well. Dari situ, tindakan kita pun akan lebih jernih dan selaras dengan aliran kehidupan. Kita tidak lagi menolak dan melawan arus.

Ayat di atas bagiku lebih sebagai pengingat bahwa kehidupan tidak pernah datang hanya dalam satu warna. Jika kita lihat dari ujung spektrum lainnya, terlalu menggenggam kebahagiaan pun tetap bisa menimbulkan penderitaan. Ada rasa cemas yang diam-diam menyelinap, khawatir kebahagiaan itu berakhir. Sekali lagi, semua itu bukan untuk dihindari atau diubah atau dihilangkan. Hanya perlu disadari, tanpa berusaha untuk menyadari. Bahkan penolakan pun hanya perlu kita sadari. Kita biarkan saja keberadaannya. Karena kita adalah ruang yang menampung semua rasa yang hadir itu.

Semua boleh hadir. Termasuk label “ujian” yang kita berikan pada pengalaman kita, itu juga bagian alami dari pikiran, dan itu tidak salah. Yang jadi masalah adalah ketika kita percaya label itu sebagai satu-satunya kebenaran. Karena di situ ada identifikasi. Padahal kesejatian selalu mengundang kita ke ruang tak bernama, yang tak butuh makna apa-apa untuk jadi utuh. Hanya “ada”. Kalau sudah merenungi ini, di akhir selalu terbersit “Life is Beautiful”, dengan segala spektrum warnanya.❤️

ginayasa
@ginayasa   5 months ago
terasa sejuk setelah selesai baca
Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Bagus banget. Iya adem banget bacanya 🙏🏼🤗
ichaleia
@ichaleia   5 months ago
Keren din, yang penting bersyukur dan menyebar kebaikan terus.