AES002 Music Review: Cat Stevens - Father and Son
maulrest
Tuesday May 10 2022, 6:50 PM
AES002 Music Review: Cat Stevens - Father and Son

“Song with two perspectives in it. I was in the son's position when I decided to venture away from home. I've never been so wrong to think that I won't miss my parents just because I wasn't really close with them at that time.”

Udah Bahasa Inggrisnya cukup satu paragraf aja hehe, ini pun saya ambil dari ulasan singkat yang saya pernah tuliskan di salah satu platform media sosial berlogo burung biru. Cukup membutuhkan energi ekstra untuk menulis dengan bahasa asing yang saya pelajari, mengingat bahasa ibu saya adalah B. Indonesia, second language-nya Bahasa Sunda, maka Bahasa Inggris menjadi bahasa asing (foreign language) bagi saya. Mana ini ulasannya? Ko malah curhat tentang bahasa, mohon tunggu di paragraf selanjutnya.

Lagu ini pertama kali saya dengarkan ketika merantau ke Sulawesi dan menonton film Guardians of the Galaxy Vol. 2 yang tidak saya sangka-sangka ternyata tema utamanya adalah tentang ayah. Lagu ini terus memutari waktu di mana kita bisa berpindah-pindah posisi di beberapa perspektif berbeda: sebagai anak, sebagai ayah, bahkan sebagai ayah dan anak.

Sekitar 52 tahun lalu musisi bernama Steven Demetre Georgiou yang lebih dikenal dengan nama panggung Cat Stevens menulis sebuah lagu lintas waktu berjudul Father and Son. Kenapa bisa disebut lintas waktu? Karena ia yang masih berstatus lajang saat itu berani-beraninya menulis lagu dari dua perspektif seakan-akan seorang ayah sedang saling beradu argumen dengan anaknya.

Eyang Stevens sempat sangat tenar, bahkan ada yang mengklaim pada zamannya dia bisa dibilang “one-man Beatles”. Tentu klaim ini bisa jadi berlebihan apalagi datangnya dari kolom komentar youtube hehe. Namun di tengah ketenaran yang ia miliki, tiba-tiba ia alami pengalaman spiritual di mana ia hampir tenggelam lalu berjanji jika ia diselamatkan maka ia akan mulai mengabdikan hidupnya untuk Tuhan.

Pada akhirnya ia selamat dan mau menepati janjinya. Ketika pada masanya banyak anak muda mengalami perjalanan spiritual seperti George Harrison, Cat Stevens pun mulai menjalaninya. Anehnya, ia malah memilih agama Islam yang cukup tidak populer. Apalagi dari banyaknya aliran Islam, ia lebih memilih salah satu aliran yang cukup puritan dan keras. Sampai-sampai ia memilih berhenti bermain musik dan meninggalkan ketenarannya.

Di tahun 2003, Cat Stevens yang sudah berganti nama menjadi Yusuf Islam dan sempat menjalani kehidupan kontroversial penuh pernyataan keras, mulai berdamai dengan dirinya sendiri dan mencoba memainkan kembali gitar yang dibawakan oleh anaknya. Dengan nama panggung baru Yusuf/Cat Stevens di tahun 2020 ia melakukan hal yang sangat fenomenal: Berduet dengan dirinya sendiri.

Ia merekam lagu di mana di bagian awal ia nyanyikan dengan suara tuanya sekarang dan di bagian chorus ia gunakan rekaman suaranya ketika muda. Seakan-akan dirinya yang tua ini melintasi zaman untuk menasehati dirinya di masa lalu yang sedang sangat impulsif dalam mencari arti hidup.

"His life is like a full circle. 2014 Rock & Roll Hall of Famer who doesn't drink, doesn't smoke, and only sleeps with his wife, which is strangely and outrageously… rock & roll!"


Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wah esai ke dua kak Maul nih... saya tagarkan musik ya. Nuhun pisan ceritanya - saya baru tau sejarahnya Cat Stevens dari esai ini.
maulrest
@maulrest   4 years ago
Mangga Kak Andy. Sawangsulna, semoga cukup akurat juga berdasarkan apa yang saya baca dan tonton tentang sejarahnya hehe.