Saya banyak memanfaatkan waktu luang dengan membaca, mencari tahu atau belajar sesuatu yang baru. Sebelum ini perut saya yang belajar (hahaha) itu saya cerita di obrolan yang lalu, sekarang saya sendiri yang belajar. Sejak beberapa waktu terakhir saya belajar tentang sepatu. Betul, saya tidak becanda, saya sungguh-sungguh belajar tentang sepatu.
Kenapa iseng sekali belajar tentang sepatu? Karena bagian lutut saya cidera dan saya ingin memilih sepatu yang cocok dengan struktur kaki, cocok dengan kondisi kaki dan juga cocok untuk meminimalisir masalah yang sedang saya alami. Maksud saya, karena saya ingin tetap olahraga, tapi saya juga harus benar-benar memperhatikan apakah kegiatan saya ini memperburuk kondisi yang saya alami atau tidak. Nah saya cukup terkejut bahwa selama ini kemampuan saya dalam memilih sepatu sangat buruk!
Saya tidak pernah tahu bahwa ketika memilih sepatu saya harus memperhitungkan stability, cussioning, heel to toe drop, shock absorption, arch support dan sebagainya. Selama ini ketika saya membeli sepatu hanya dengan mencoba apakah ukurannya cocok lalu saya coba dipakai jalan sedikit, kemudian jika saya suka dan tidak sakit ketika dikenakan maka akan saya beli. Ternyata semuanya salah! Ketika memilih sepatu tidak cukup jika pilihan hanya ditentukan oleh ukuran dan enak atau tidaknya. Tapi harus melihat struktur kaki serta tujuan penggunaan sepatu.
Kaki saya memiliki arch yang tinggi, jadi saya butuh sepatu yang insole nya mendukung struktur telapak kaki saya. Saya baru tahu bahwa sepatu memiliki type heel drop yang berbeda, ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Untuk kondisi lutut saya saat ini, saya membutuhkan heel drop yang rendah sehingga beban ke lutut dapat berkurang. Jika tidak mengerti tentang heel to toe drop, maka bayangkan saja high heel yang dipake oleh para wanita, nah itu heel drop yang sangat tinggi, sementara sepatu olah raga hanya dihitung berdasarkan perbedaan tinggi area dekat jari kaki dan area dekat tumit, nah perbedaannya disebut heel drop yang range-nya biasanya hanya antara 0 hingga 12 milimeter, bukan centi loh. Untuk kondisi lutut saya, disarankan untuk mencari sepatu yang heel dropnya 5mm ke bawah!
Sepatu olahraga ternyata sangat rumit. Selama ini saya hanya tahu istilah insole, yaitu bantalan di dalam sepatu untuk melindungi telapak kaki, ternyata ada istilah midsole dan outsole. Outsole adalah sol sepatu bagian luar lalu ada midsole yang terdapat diantaranya.
Saya mengikuti diskusi antara 2 orang dokter di youtube kemarin malam. Kedua dokter yang orang Indonesia ini masih muda, satu lulusan dalam negeri sementara satu lain lulusan luar negeri. Diskusi yang asyik tentang type sepatu, struktur kaki dan peruntukan sepatu. Sangat informatif. Sekarang saya mengerti mengapa sepatu khusus untuk olahraga itu sangat mahal karena didesain sedemikian rupa sehingga dapat melindungi pemakainya sekaligus juga meningkatkan kinerja penggunanya. Luar biasa!
Setelah mengetahui itu semua, saya melakukan penelitian sendiri terhadap semua sepatu yang saya miliki. Dari situ saya mengerti mengapa saya cidera! Yaitu karena saya menggunakan sepatu yang salah untuk tujuan yang tidak tepat. Contoh misalnya, saya adalah tipe pelari yang mengutamakan endurance. Maksudnya saya bukan pelari dengan tujuan berlomba kecepatan, tapi hanya berlari santai sejauh yang saya mau dengan kecepatan yang saya suka sambil melamun atau berpikir. Pace yang saya jalani biasanya antara 8 hingga 9 dalam ukuran kilometer bukan mile. Penghitungan pace terbalik dengan perhitungan kecepatan. Pace 9 bukan berarti saya berlari dengan kecepatan 9km/jam. Tapi justru dibalik, berapa lama yang saya butuhkan untuk berlari sejauh 1km. Itu Pace. Jadi jika pace 5 artinya seseorang mampu berlari sejauh 1km dalam 5 menit, artinya kecepatan dia adalah 12km/jam! Jadi kalau saya berlari dengan pace 9, artinya saya butuh 9 menit untuk berlari sejauh 1km. Itu kecepatan rendah sekali, hanya sekitar 6,6km/jam hampir sama dengan jalan kaki cepat yang biasa saya lakukan di treadmill hahahaha.. Orang yang menggunakan sepatu dengan heel drop tinggi akan berakibat tekanan pada lutut lebih besar sementara lower heel drop lebih ke telapak kaki dan betis. Nah sepatu-sepatu yang saya miliki ternyata semuanya high heel drop karena saya sama sekali tidak tahu apa-apa ketika memilih. High heel drop cenderung memiliki bantalan kaki pada bagian tumit lebih tebal sehingga saat itu saya merasa nyaman dan empuk, dan ternyata berdampak kurang baik pada lutut saya yang bermasalah hahaha
Ini pengetahuan baru bagi saya yang selama ini sangat awam dalam hal memilih sepatu. Mudah-mudahan saya tidak salah mengerti tentang seluk beluk teori persepatuan ini. Saya dulu sangat serius berolahraga di Gym, saya saat itu memilih sepatu berdasarkan kenyamanan dan mengikuti teman-teman yang banyak memiliki selera terhadap sepatu tertentu. Saya coba semuanya baik yang bermerek Hoka, Brooks, NB, On, Nike, Assics hingga Saucony, dan lain-lain. Lalu saya pilih yang paling nyaman digunakan. Harganya semua luar biasa, juga di Indonesia, jutaan rupiah. Sepatu tadinya bukan prioritas bagi saya, tapi sekarang saya tahu bahwa harus pintar memilih dengan berbekal pengetahuan yang cukup karena mempengaruhi kesehatan. Nah tugas saya sekarang adalah mencari jenis sepatu yang terbaik untuk struktur dan kondisi kaki saya, tapi juga harus yang terjangkau biayanya. Ini tantangan berat. Triknya adalah, cari sepatu dari musim dan versi lama! Sepatu ternyata seperti gawai, setiap tahun ada upgrade dan versi baru. Nah saya akan memilih yang model lama tapi dengan spesifikasi yang saya butuhkan. Mudah-mudahan banyak diskon hahahaha..
Foto credit: running-physio.com