Setelah bertugas menjaga perpustakaan kemarin, aku mengikuti Taki-taki awal TP 20. Hmmm, tak terasa sudah 12 tahun kami menjadi bagian dari keluarga besar Smipa. Kalau dihitung-hitung, si sulung menghabiskan 4/5 usianya bersekolah di sini. π
Ini adalah Taki-taki pertama yang kuikuti di KPB. Berbeda dengan Taki-taki sebelum-sebelumnya yang sarat penjelasan pada slide presentasi, presentasi kemarin hanya berisi berbagai bagan dengan sedikit penjelasan. Haha, saatnya level-up juga buat ortu. Harus banyak belajar dan 'menerjemahkan'. Seperti yang kami alami selama ini, di Smipa bukan hanya anak-anak yang belajar, orang tua pun turut kecipratan ilmu untuk mendampingi mereka belajar. Oke, mari kita mainkan!Β
Karena KPB mengambil kurikulum homeschooling, kami para orang tua K10 perlu banyak beradaptasi. Tiga minggu kami terkaget-kaget dengan irama dan alur pembelajarannya. Tapi bukan KPB namanya kalau tidak begitu. Meskipun sudah mengikuti sosialisasi sebelum memutuskan bergabung dengan KPB dan anak-anak mengikuti delapan pertemuan trial, tetap saja saat menjalaninya banyak kejutan yang kurasakan.
Banyak hal yang ditanyakan orang tua K10 seputar materi pelajaran, jadwal sekolah, sampai ujian akhir. Dan beberapa pertanyaan tidak memperoleh jawaban yang pasti. Masih misterius, ujar salah satu orang tua, hehe... Ya, penyebabnya karena sistem pendidikan di Indonesia yang masih berubah-ubah mencari format yang pas, sehingga aturan yang ada tergantung penuh pada para pemegang kekuasaan. Lucunya, di tengah ketidakpastian itu kami tetap memilih menyekolahkan anak-anak di Smipa. Padahal, jangankan KPB yang baru menelurkan 6 angkatan, SMA-SMA konvensional yang sudah berdiri puluhan tahun pun masih meraba-raba mengikuti kurikulum yang ada saat ini, sambil deg-degan menunggu apakah ada perubahan (lagi) jika menteri pendidikan yang baru nanti mengambil kebijakan baru.Β
Aku jadi teringat buku Totto-chan, bagaimana dalam keraguan sang ibu tetap menyekolahkan Totto-chan di Tomoe Gakuen yang dianggap 'nyeleneh' pada zaman itu. Cara pengajaran yang tidak biasa dan berbeda dengan sekolah pada umumnya, membuat sang ibu mengernyitkan kening, tapi toh ia tetap memasukkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen karena PERCAYA! Percaya, bahwa dengan segala keunikan sekolah itu Totto-chan akan menemukan kebaikan serta kelebihannya, yang dianggap kekurangan oleh sekolah sebelumnya.Β
Setelah Taki-taki kemarin, aku membayangkan kami ini diajak masuk ke dalam terowongan panjang yang gelap, dengan bergandengan tangan. Kami berjalan menyusuri terowongan sambil berpegangan pada tali yang dipasang sepanjang dinding sebagai panduan agar tidak salah arah. Kami tidak tahu berapa lama lagi kami akan sampai di ujung terowongan dan akan berbelok ke kiri atau kanan, menanjak ke atas atau justru turunan curam yang ada di depan kami. Hanya satu hal yang kami tahu, di ujung terowongan nanti kami akan menemukan cahaya terang yang akan menuntun kami menuju perjalanan selanjutnya. Dan, kami berani menerima tantangan itu karena kami PERCAYA.Β
Seperti itulah kepercayaan yang pernah ditanamkan pada diri si sulung saat menjalani ritual kenaikan tingkat Pramuka di gudepnya. Dengan mata tertutup saputangan, ia dibimbing seorang senior berjalan berkeliling sambil dibisikkan rintangan yang ada di depannya. Lalu ia disuruh naik ke atas kursi dan membalikkan badan. Secara perlahan, beberapa orang senior memegang kedua lengannya dan 'menjatuhkan' tubuhnya ke belakang, tanpa ia tahu apa yang ada di belakangnya. Kemudian βmasih dengan mata tertutup β, tubuhnya diterima serta dilambung-lambungkan barisan kakak-kakak penggalang yang telah bersiap sambil bersorak. Dan, kira-kira beginilah kata-kata yang diucapkan sang pembina sebelum si sulung menjatuhkan diri, "Kamu harus percaya. Kalaupun jatuh, kamu akan selalu dijaga, tidak mungkin kamu dilepaskan. Ini adalah masa perpindahan dari siaga ke penggalang yang harus melewati jembatan ini." Kata-kata ini tertanam begitu kuat dalam hatiku, seerat ini persaudaraan dalam gugus depan kami!
Ini merupakan pengalaman berharga yang dialami si sulung, yang menumbuhkan rasa percayanya terhadap orang lain, yang sekarang kami pun ingin turut merasakannya selama beberapa tahun ke depan. Ya, kami PERCAYA.Β
Terima kasih Mega. Ingat betul kata-kata Nanan yang bergabung di angkatan pertama. Semi Palar sebagai sekolah baru resikonya besar, tapi peluangnya besar juga. Percaya (trust) adalah enerji besar yang bisa dibagikan bagi siapapun atau kita terima dari siapapun. Nuhuun. ππΌπ
Terima kasih kembali, kak. Saya yakin, semua yg mempercayakan anaknya bersekolah di Smipa didasari trust, dan semoga akan tetap seperti itu, siapa pun yg nanti akan memimpin Smipa. π