Baiklah hari ini aku akan menceritakan tentang serunya permainan monopoli yang kami mainkan kemarin. Permainan sederhana itu tadinya kami mainkan hanya berdua oleh Sei dan aku rupanya penonton mulai penasaran dan beberapa anggota keluarga lain ikut bergabung. Lucunya dari anak-anak hanya Sei yang merasa permainan ini seru dan terus ikut bermain. Bergabungnya tiga orang dewasa membuat fun game ini menjadi big deal. Lima sekawan menjadi lima kompetitor permainan kapitalis itu hahaha
Permainan kali ini kami sepakat mengikuti buku petunjuk permainan, tidak bermain menggunakan peraturan tidak tertulis yang kami biasa gunakan saat kecil dulu, saat papan permainan masih memakai karton buram, kartu dana umum memakai warna hijau dan kesempatan memakai warna pink. Ternyata permainan masa kecil kami tidak sesederhana itu. Setelah dewasa aku paham permainan ini menyeramkan. Memainkan realita diatas papan. Pantas semua menjadi serius.
Modal dibagikan oleh bank sama rata pada tiap pemain yang membedakan hanya nasib kocokan dadu. Tanah incaran terpopuler di area setengah putaran akhir menjadi tidak terlalu berarti jika pemain hanya memiliki satu atau dua tanah saja, tidak dapat menduduki satu kompleks warna (tiga tempat berderet) karena tidak bisa membeli rumah yang membuat harga sewa melonjak fantastis (apalagi jika sudah memiliki hotel). Wah bisa membuat pemain yang bernasib kurang beruntung rugi besar! Parahnya kami hanya bisa menjual properti yaitu rumah/hotel setengah harga beli. Belum lagi aset tanah hanya dapat digadaikan, menebusnya pun dikenakan harga lebih mahal hahaha
Tak cukup sampai disitu memiliki perusahaan vital (listrik dan air) memiliki harga sewa yang membuat geleng-geleng kepala. Jumlah dadu yang muncul berdasarkan nasib dikalikan jumlah aset vital yang dimiliki, punya 1 dikalikan 4, punya 2 dikalikan 10. Ampun deh, menariknya stasiun kereta api yang menjadi satu-satunya moda transportasi tak kalah dieksploitasi, harga sewa dikalikan jumlah stasiun yang dimiliki. Alhasil ada tiga cara menjadi konglomerat disini. Pertama menjadi tuan tanah membeli tanah sebanyak-banyaknya, menyabotase kepemilikan kompleks tunggal. Kedua menjadi juragan lokal, kuasai kompleks tidak populer bangun properti sebanyak-banyaknya. Ketiga kuasai aset vital stasiun kereta api, air dan listrik harga sewa akan berlipat jika memiliki semua ini.
Terakhir yang tak kalah menarik. Kita memiliki tiga cara untuk bisa keluar penjara: membayar denda kontan, menggantungkan pada nasib berharap kocokan dadu mengeluarkan angka kembar atau memiliki kartu pass dari kesempatan.
Bagaimana, dari permainan ini apakah ada yang menggelitik? Permainan ini diciptakan tahun 1935 dan diperbaharui tahun 2025. Dalam kehidupan nyata kitalah pemain sebenarnya. Relate kah dengan situasi terkini?