Tak terasa sudah nyaris setengah tahun saya belajar bahasa Jerman menggunakan aplikasi Duolingo. Lumayan juga. Salah satu perkembangan teknologi yang membuat kita bisa belajar bahasa asing secara mandiri melalui gawai kita. Ya lumayan lebih bermanfaat daripada sekedar scrolling non stop di media sosial. Sejak bulan Juni lalu saya di Jerman, karena tinggal di sana selama 2 bulan, saya meniatkan diri untuk serius belajar bahasa Jerman.
Dulu waktu di SMA, sempat ada pelajaran Bahasa Jerman. Entah kenapa di sekolah saya diajarkan bahasa Jerman. Kagak ngerti saya - karena menurut saya ga ada konteks - kebutuhannya. Di kelas 2 SMA, saya pernah ikut pertukaran pelajar ke Braunschweig. Di sana saya bersentuhan lebih banyak dengan kehidupan di Jerman. Bandung memang merupakan sister-city dengan kota Braunschweig. Saat itu saya juga sempat mengunjungi tembok Berlin - sebelum diruntuhkan di tahun 90-an.
Jadi persentuhan saya dengan negara Jerman dan bahasa Jerman sudah cukup panjang. Dan sekarang kedua anak saya tinggal di Jerman, bahkan sudah punya menantu orang Jerman pula.
Nah jadi ceritanya saya dan Sascha (menantu saya) bersepakat untuk saling belajar bahasa. Dia belajar Bahasa Indonesia dan saya belajar bahasa Jerman. Dan itu berjalan sampai sekarang, jadi kira kira sudah nyaris enam bulan. Das ist sehr gut, ja?
Sejauh yang dicatat oleh Duolingo, saya sdh mengenal lebih dari 2000 kosa kata bahasa Jerman. Sudah bisa mulai sedikit-sedikit bicara bahasa Jerman. Ich spreche ein bisschen Deutsch. Begitu kira-kira.
Serunya lagi ternyata banyak orangtua dan teman teman yang juga belajar bahasa menggunakan aplikasi ini. Jadi bisa saling follow dan berinteraksi di sini. Seru juga kan. Jadi ya begitulah cerita kali ini. Sampai jumpa di esai berikutnya 🙏🏼😊.
Saya juga menggunakan duolingo untuk belajar bahasa Spanyol dan bahasa Jepang. Seru, belajar serasa bermain game