Sudah sangat klise tapi semakin lama aku semakin merasakan gerus terus-menerus waktu. Rasanya, tak peduli berapa banyak aku sudah berniat produktif, waktu tiba-tiba hilang dan aku belum mengerjakan apa-apa seharian itu. Dulu waktu kecil hari-hariku terasa panjang, aku bisa menciptakan banyak karya dan bermain dalam berbagai dunia. Tapi kini makin lama hariku makin pendek. Atau, mungkin, aku jadi buruk mengatur waktu. Butuh lebih banyak tenaga dan kemauan untuk mendorong diriku mengerjakan sesuatu.
Kemarin, jam dua lewat, aku berbaring di lantai kamar sepulang sekolah. Aku memejamkan mataku sebentar. Tiba-tiba langit jadi gelap, dan sudah jam 15.46, dan satu jam hidupku hilang tanpa kumaksud. Padahal aku tidak pernah tidur siang sebelumnya. Sepertinya karena semalam aku diganggu kucingku, Matcharoni Maman Supreman, nama konyol yang muncul dengan sendirinya setelah bertahun-tahun. Sejam itu tidak bisa kudapatkan lagi: sudah hilang selamanya, menyelip lewat jari-jariku.
Dalam tiga bulan aku sudah akan bertambah usia, dalam lima belas aku sudah akan masuk umur KTP. Sebenarnya perasaan terkejar terus-menerus ini sudah sangat wajar dialami semua orang. Bagaimanapun juga, salahku sendiri, karena manajemen waktu yang buruk. Tapi tetap saja terasa menakutkan, mengkhawatirkan.
Kadang-kadang waktu berjalan lambat sekali seperti membeku. Aku bisa zoom-in melihat serat-serat sebuah daun, tersiluet dalam cahaya matahari pagi, desiran angin membelai rambutku, kicauan burung mengitariku. Semua terasa lambat dan damai dan permanen. Lalu tiba-tiba, mataku terpejam, dan semuanya menjadi kelabu dan buram dan berderit. Aku ada di hari ulang tahun ke-38-ku, aku belum melakukan apa-apa dalam hidup, semua harapan dan potensiku tertinggal, semuanya sudah telat, menakutkan. Tapi, tentu saja, kata orang-orang: waktu itu subjektif, hanya tergantung persepsi kita. Kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, dia akan ada di pihak kita. Aku harap aku bisa begitu.