Beberapa hari yang lalu, aku dan keluargaku mengunjungi IKEA di Kota Baru. Setelah membeli beberapa kebutuhan, kami makan siang di sana. Aku juga membeli sepaket keripik.
Keesokan harinya, di rumah, aku makan sambil mengamati bungkus keripik itu. Tidak ada yang istimewa dari bagian depannya, hanya saja, tulisan ‘gluten free’ ditutupi dengan semacam stiker kertas. Sampai sekarang masih agak misterius bagiku mengapa tulisan itu perlu ditutupi, karena nampaknya tidak ada salah cetak atau semacamnya. Namun perhatianku tertuju pada bagian belakang bungkus itu.
Di sini, seperti pada bungkus keripik yang umumnya kulihat, ada daftar bahan. Tidak seperti pada bungkus keripik yang umumnya kulihat, daftar bahan ini tidak tertulis dalam Bahasa Indonesia. Yang ada malah Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Belanda dan bahasa yang ditulis dalam aksara lain, mungkin Bahasa Thailand (dalam urutan itu). Aku tidak bisa membaca aksara itu, tetapi keempat bahasa lainnya ditulis dalam huruf Latin yang dapat kumengerti.
Dengan keempat bahasa ini ditulis berdampingan, aku dapat membandingkannya dengan lebih mudah. Aku tidak pernah mencoba membandingkan bahasa seperti ini, tetapi karena bosan, waktu itu aku mencobanya. Ada banyak sekali temuan menarik yang kudapatkan. Aku menandai secara digital yang menurutku menarik, meski ternyata beberapa pengamatanku tidak terlalu sesuai dengan etimologi sesungguhnya.
Pertama, tentang apel tanah. Aku tahu bahwa Bahasa Prancis ‘kentang’ adalah ‘pomme de terre’, atau, bila diterjemahkan kata per kata, ‘apel tanah’. Aku selalu menganggap ini sebagai hal yang aneh dan lucu, tetapi ada banyak sekali keanehan dan kelucuan dari Bahasa Prancis sehingga aku tak begitu memerhatikannya. Namun, setelah dilihat, Bahasa Jerman ‘kentang’ adalah ‘Kartoffel’ dan Bahasa Belandanya adalah ‘aardappel’. Aku terkejut, karena kupikir keduanya terdengar seperti ‘earth apple’ dalam Bahasa Inggris. Ketiga bahasa ini memang bahasa Germanic sehingga tidak mengejutkan. Yang mengejutkan adalah, setelah kucari tahu lebih lanjut, Kartoffel datang dari tartoffel, yang artinya ‘truffle’ (semacam jamur bawah tanah yang bentuknya mirip kentang). Jadi ternyata teori apel tanahku salah.
Kedua, tentang minyak bunga matahari. Di sini, ketiga bahasa Germanic bersepakat kembali, namun Bahasa Prancis tersisihkan seperti biasa. Sebenarnya bila ada bahasa Roman lain, mungkin Prancis tidak terlalu kesepian, tetapi nasibnya kurang baik di bungkus keripik ini. Semua bahasa lain mengikuti konsep yang sama, yaitu [matahari] [bunga] [minyak]. Ada Sonnenblumenöl, sunflower oil dan zonnebloemolie. Bahasa Prancis menggunakan huile de tournesol.
Ketiga, tentang sea salt. Ini adalah satu-satunya kasus di mana Prancis tidak terlalu terpinggirkan. Bahasa Inggris menggunakan sea salt dan Bahasa Belanda menggunakan zeezout. Yang tidak terduga, Bahasa Jerman menggunakan Meersalz sementara Bahasa Prancis menggunakan sel de mer. Meer dan mer artinya laut. Aku tidak berpikir bahwa akan ada hubungan antara Bahasa Jerman dan Prancis, karena kedua bahasa ini sangat berbeda. Aku mencoba menelusuri penyebabnya, tetapi aku tidak memahami penjelasan Mbah Gugel.
Ternyata, banyak sekali hal menarik yang dapat kita pelajari dari keseharian. Bahkan dari bungkus keripik sekalipun, bisa membawa kita mengarungi samudra bahasa dan etimologi. Sungguh perjalanan yang menyenangkan.
Wow... observasi yang keren banget Ara... Pengamatan dan kesimpulan yang luar biasa... 👍🏼😊