Saya terjaga dalam gelap. Ada sebuah suara yang berbunyi terus menerus yang menganggu tidur saya. Selama beberapa detik saya membiarkan otak bekerja dan memberikan kesempatan untuk mengenali bunyi tersebut. "Ah telepon." Kata saya. Saya lirik jam yang ada di samping tempat tidur, pukul 12:30 tengah malam. Telepon tersebut ada di luar kamar, di meja kerja. Jika saya tidak bangkit dan menjawab, telepon itu akan terus berbunyi maka dengan malas karena tubuh dipenuhi rasa kantuk yang luar biasa, saya bangkit dan keluar kamar. Saya angkat telepon yang entah sudah berapa kali berbunyi.
"Halo." Kata saya
"Pak, saya sudah sampai di sini, di depan kompleks tapi tidak bisa masuk karena ada portal." Kata sebuah suara.
Otak saya kembali jeda dan mulai berpikir. Siapa yang ada di depan kompleks, untuk apa menelepon tengah malam seperti ini? Pikir saya. Lalu seberkas ingatan muncul, "Ah.. kurir yang mengantar meja dari Jepara!" Kata saya dalam hati. Terus terang ada rasa jengkel yang saya rasakan. 2 hari saya menunggu, ketika saya kirim pesan tidak ada jawaban hingga tadi pagi dia berkata akan tiba malam ini. Tapi ini sudah pagi! Gerutu saya dalam hati.
"Ya sudah saya akan keluar." Kata saya. Lalu mengambil kereta dorong. Meja ini sangat berat karena terbuat dari kayu jati tebal dan dari luar kompleks ke rumah saya lumayan jauh dengan jalan yang terjal, saya tidak akan kuat menggotongnya dengan begitu saja.
2 orang muda menanti dengan sebuah mobil kecil dengan muatan luar biasa banyak, saya yakin tingginya mungkin lebih dari 2 meter. Entah barang apa saja yang mereka angkut dari Jepara. Banyak sekali!
"Sudah berapa hari keliling dari Jepara?" Tanya saya dengan rasa simpati yang mendalam.
Bayangkan mereka berdua yang mungkin seusia Kano, masih sangat muda mengendarai mobil pick up kecil dengan muatan luar biasa banyaknya dan berkeliling mengantarkan barang. Saya yakin mereka tidur di dalam kendaraan, dan ini sepertinya sudah berlangsung selama beberapa hari. Timbul rasa prihatin saya tapi juga rasa kagum melihat kegigihan 2 anak muda ini untuk berkarir. Entah ini merupakan pilihan karir yang baik atau tidak, tapi setidak-tidaknya mereka jauh lebih terpuji daripada memakai kostum dan topeng di perempatan jalan dengan sebuah kotak untuk meminta uang receh! Rasa jengkel saya langsung hilang dan saya sambut mereka dengan senyuman. Memang situasi sangat tidak menyenangkan untuk saya saat ini yang dipaksa untuk bangun tengah malam, tapi buat mereka keberhasilan menyampaikan barang dan kesediaan saya untuk menyambut mereka adalah mungkin semacam kelegaan. 1 lagi barang sampai di tujuan, mereka masih punya segunung. Perjalanan mereka masih belum selesai.
Saya mendorong barang yang sangat berat itu dengan kereta. Bersyukur bahwa saya dulu menerima tawaran penjaga toko kebutuhan rumah tangga untuk memilih kereta ini yang sebetulnya adalah tangga kecil untuk saya gunakan di dapur tapi didesain dengan roda sehingga bisa dijadikan semacam troley atau dolly. Praktis dan multi fungsi, itu pikiran saya waktu itu. Lagi-lagi saya berhadapan dengan anak muda. Mereka semua pekerja keras dan saya tersenyum jika membandingkan dengan anak-anak muda seusia mereka yang pernah saya kenal dan bekerja di kampus di Fort Collins. Yang saya kenal loh, jadi tidak menggeneralisir, mereka jauh lebih spoiled. Saya yakin mereka tidak akan mampu melakukan seperti anak-anak muda di sini. Anak-anak muda ini memiliki kualitas.
Foto credit: RRI.co.id