Selesai lebih cepat, berpindah lebih tepat. Melihat cuaca dari terik mulai menghangat, segera beranjak sebelum hujan lewat. Berputar sesuai jalur malah jadi keanehan, di tengah kebanyakan pelanggar yang memotong jalur lurus. Biarkan lah yang terjadi menjadi, karena martabak adalah misi sore ini.
Berhenti tak kunjung jadi, belum ada kios yang siap melayani. Sampai akhirnya di simpang pertempuran para pelanggar saling memotong jalur, terkilas pandang loyang yang sedang digoyang di atas bara api. Pemanasan, sepertinya baru buka pintu depan. Menepi dan bertanya lah tindak lanjutnya.
Benar saja, baru buka layanan dan masih perlu menunggu loyang panas sepuluh menit ke depan. Bukan persoalan, menunggu pelanggar kebanyakan memotong arus lurus untuk memutar saja sudah terbiasa sabar. Apalagi ini, yang hanya sabar agar loyang panas mengubah adonan tepung menjadi makanan.
Pesanan sudah matang, bungkus dan bawa jalan. Sore hari dari sisi barat melanjutkan perjalanan ke sisi timur, dengan martabak dalam bungkusan. Panas merambat di badan, memang tidak sepanas rambatan panas di betis dari mesin dan knalpot. Begitu pun, yang paling panas adalah kepala, melihat keabaian dan kebebalan para pembantah di jalanan.