AES 080 Tenth law of systems thinking
leoamurist
Saturday August 14 2021, 7:17 AM
AES 080 Tenth law of systems thinking

Cutting half an elephant does not provide two small elephants. Gajah yang dimaksud di sini adalah sistem kompleks yang holistik. Bukan gajah beneran. Kalaupun gajah beneran, lalu dipotong gadingnya, itu sudah bukan gajah. Gading itu bukan gajah. Jadi gausah bangga kalau punya gading gajah hasil potongan. Justru malu lah karena sudah merusak sistem. Efek ke gajah, mati seketika. Efek ke manusianya, mati perlahan. Kalau gadingnya dapet dari jasad gajah yang mati natural, sepertinya tak apa itu. Repot bawanya aja kan, besar.

Maksud dari hukum ke sepuluh ini cenderung ke cara kita menanggapi situasi yang berkaitan dengan sistem kemanusiaan manusia. Misalnya, ada orang yang susah banget buka kamera kalau lagi konferens daring. Lalu kita cut dengan cara, bujukin, paksain, laporin, motivasiin, dan seterusnya yang seakan kita hanya melihat potongan itu sebagai kemanusiaannya. Jelas lah sesuai hukum ke sepuluh ini, ekspektasi kita tidak akan tercapai malahan kecapaian oleh kesia-siaan tindakan.

Dulu pun jaman masih kuliah, walaupun malas-malasan, sempat belajar materi rekayasa transportasi. Katanya, kualitas kemanusiaan seseorang terlihat dari perilaku berlalu lintasnya. Pertama, saat sedang berkendara di jalan raya, bisa taat aturan atau tidak. Karena aturan jalan raya adalah puncak efisiensi pemenuhan kepentingan semua orang, jelas perlu ditaati dengan kaku. Ini kaitannya dengan kualitas kemanusiaan orang di persistensi dalam bekerja atau berkarya. Bukan stagnan lho, persisten!

Kedua, saat sedang parkir. Ini sih yang jadi andalan saya dalam melihat karakter orang. Parkirnya tertata rapi ga, terutama sepeda motor. Ini menggambarkan kesadaran diri dan lingkungan sekaligus. Satu motor diparkir miring akan menghabiskan dua sampai tiga ruang manfaat orang lain. Sehari dilakukan, ia sudah korupsi manfaat dua orang lain. Sebulan, enam puluh manfaat dia korupsi. Setahun, sepuluh tahun? Korupsi menjadi jalan ninjanya tuh. Kebayang kalau orang itu punya mobil nantinya, rumahnya di sini mobilnya di depan pagar rumah kita. Korupsi akses pun terjadi, tidak disadari, karena udah terbiasa. Giliran nonton tivi, marah-marah karena kasus korupsi dana bansos. Lha..

Sistem kompleks itu merupakan satu kesatuan tidak terpisahkan. Jadi, kalau dalam menanggapinya kita sibuk mencacah hingga detil kemudian menindak lanjuti cacahannya, itu sudah beda dunia. Persoalan di sini diselesaikan di sana, seketika lahirlah permasalahan. Jadi teringat lagi simulasi kalkulasi sistem transportasi tundaan lampu lalu lintas di simpang jalan. Bisa lho, kita atur durasi lampu merah di simpang dago atas untuk memengaruhi kemacetan di pasirkaliki bawah.

Makanya kemacetan tidak akan pernah terselesaikan dengan polisi atau dishub atau pemuda pak ogah atau pemudi ngamen atau babeh-babeh preman atau emak-emak galak turun ke jalan, membuka pembatas jalan dan mengatur arus lalu lintas di simpang itu. Perlu dilihat secara menyeluruh sebagai satu siklus sistem. Loop, bahasa kerennya. Lalu temukan satu sendi utama yang akan mengurai kemacetan, sebagai kesatuan bukan potongan. Di situlah area tindakannya.

Tindakannya apa? Inilah yang beda lagi bahasannya dan gak tahu deh, lupa alternatif solusi teknisnya apa aja. Dulu pas kuliah rekayasa transportasi dapet nilai C dan malas ngulang lagi. Soalnya kerjaannya disuruh ngitungin jumlah kendaraan dan durasi lampu lalu lintas di simpang jalan selama minimal seminggu berturut-turut. Walau belakangan baru sadar, ternyata hal itu sangat mendasar. Dasar yang kuat, bikin pengembangan jadi hebat, bukan sekadar ikut-ikutan karena orang kebanyakan melakukan demikian.

Oh iya dulu angkatan pertama KPB pernah nyobain sekali, hitung jumlah kendaraan dan durasi lampu lalu lintas di simpang dago bawah. Nah kalau ini, memang untuk pengalaman aja bukan pembelajaran. Jadi sekali cukup. 😂